Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 33/XXXIII/11 - 17 Oktober 2004
   
Kolom

Paranoia Warga Asing di Irak

Muhammad Ja'far

  • Peneliti Institut Studi Filsafat dan Agama Jakarta. Pengamat politik Timur Tengah

    Aksi penculikan dan penyanderaan?beberapa di antaranya diakhiri dengan "seremoni" pemenggalan kepala?yang marak berlaku di Irak sekarang mirip taktik perang gerilya di masa dahulu. Dalam batas tertentu, bahkan mungkin lebih efektif dan efisien. Ada dua keuntungan yang didapat taktik perlawanan semacam ini. Pertama, identitas pelaku tak dapat dipastikan serta aksi teror sulit diterka tempat dan waktunya. Kedua, jejak pelaku sulit dilacak.

    Lakon penculikan ibarat dua orang yang bertanding di dua tempat berbeda. Yang seorang di bawah terang cahaya lampu. Yang satunya lagi di dalam kegelapan. Yang satu asyik menyerang dari liang persembunyian, yang lain ibarat si buta tak berdaya untuk menyerang balik. Setidaknya, demikianlah perbandingan posisi antara pasukan Koalisi dan kelompok-kelompok pelaku penculikan di Irak saat ini. Puncaknya, warga negara asing di sana dilanda paranoia di setiap tempat, di setiap waktu.

    Pemerintah negara asal korban menghadapi dilema antara memenuhi tuntutan penyandera dan menolaknya. Jika pilihan jatuh pada opsi pertama, pemimpin negara itu harus bersiap menghadapi rongrongan politik di dalam negerinya. Bila opsi kedua yang dipenuhi, penyandera akan berada di atas angin dan bisa mengulangi aksi serupa dengan "harga" yang lebih mahal. Perdana Menteri Inggris Tony Blair merasakan betul bingungnya menentukan pilihan yang tepat.

    Lain halnya dengan Presiden Amerika Serikat (AS), George W. Bush. Presiden Bush tampaknya lebih suka dengan taktik ala koboi: meladeni gertakan para penyandera. Tapi Bush mengimbangi risiko keputusannya dengan cara "mengelola" paranoia rakyatnya terhadap ancaman terorisme?senjata untuk meminimalkan tekanan politik dalam negerinya. Sehingga aksinya di Irak selalu dibuat mengambang di antara dua citra, membersihkan terorisme atau menebarkan terorisme.

    Maka muncul pertanyaan, aksi penyanderaan adalah bentuk penyerangan ataukah perlawanan? Simona dan Simona, dua sandera asal Italia yang telah dibebaskan, dengan tegas memilih opsi kedua. Memang ironis dan paradoks. Sebab, jika aksi tersebut dibaca sebagai perlawanan, itu sama artinya dengan re-aksi atas sebuah aksi. Ada aksi menginvasi Irak, ada re-aksi "mempertahankan" Irak. Salah satunya, dan ini konteks yang paling sederhana sekaligus konkret, yakni dalam bentuk penyanderaan warga negara asing.

    Sebaliknya, jika penyanderaan di Irak ditafsirkan sebagai penyerangan, hal itu tak dapat dibaca sebagai bentuk pertahanan diri. Tapi justru mengancam keselamatan diri orang lain. Dalam perspektif ini, penyanderaan menjadi ilegal dan inkonstitusional, merupakan cara mengekspresikan aspirasi (politik) melalui mekanisme yang tak sah. Maka aksi penyanderaan adalah bentuk penyerangan yang harus dilumpuhkan. Masing-masing perspektif mewakili kepentingan yang berbeda.

    Dalam perspektif pemerintah AS, misalnya, penyanderaan di Irak dipahami sebagai aksi (penyerangan), bukan re-aksi (perlawanan), karena mengancam kepentingan proyek demokratisasi AS di Irak. Dari perspektif pelaku penyanderaan, tindakan itu mereka klaim sebagai re-aksi (perlawanan) atas aksi (penyerangan) AS. Dalam penilaian mereka, keberadaan AS yang berlarut-larut di Irak adalah bentuk lain dari imperialisme yang harus ditumbangkan. Bagi mereka, Amerika adalah Saddam dalam wajahnya yang lebih lunak, ramah, dan bersahaja, maka harus tetap dilawan. Jika benar penyanderaan digerakkan oleh kekuatan yang berkait dengan jaringan Al-Qaidah, aksi tersebut mewakili kepentingan kelompok tersebut. Dan tidak (atau belum tentu) mewakili kepentingan rakyat semesta Irak.

    Satu yang pasti dalam aksi penyanderaan, korbannya dapat menimpa siapa saja. Bahkan menimpa mereka yang sama sekali tak terkait dengan pihak-pihak yang berseteru. Di sanalah letak kekuatan yang sebenarnya dari taktik penyanderaan, yakni memojokkan lawan ke posisi yang amat dilematis dengan cara melibatkan pihak yang tidak tahu-menahu dengan konflik (baca: warga sipil). Dengan demikian, logika kausalitaslah yang akan terbangun?karena penguasa, rakyat menjadi korban; karena militer, sipil menjadi tumbal. Dalam konteks Irak: karena Bush, rakyat AS menjemput maut di Irak.

    Aksi penyanderaan di Irak dapat bermakna ganda, tergantung dari perspektif mana kita menafsirkannya. Perspektif si penyandera atau pemerintah AS. Ironisnya, kedua pihak sama-sama dapat mengklaim mewakili kepentingan rakyat Irak.

    Dalam runtuhan sejarahnya, banyak sekali jalan menuju Bagdad. Tapi kini?


  •  
    buatan Radja|endro
    Majalah Tempo
    30/XXXVII/15 - 21 September 2008

     

    Berita lainnya

    Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
    Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
    Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
    Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
    Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
    Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
    Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
    BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
    Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
    Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
    >

    index berita

    buatan danendro | Registrasi | Help | About us
      copyright TEMPO 2003

    Kembali ke atas
    Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
    Majalah | Koran Tempo | Pusat Data