Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 31/IIIIIII/27 September - 03 Oktober 2004
   
Film

Navorski Tak Mampir di New York

Film kolaborasi Spielberg dan Hanks yang menghibur. Sebuah kisah tentang kehidupan di perbatasan.

THE TERMINAL

Sutradara: Steven Spielberg

Skenario: Sacha Gervasi dan Jeff Nathanson

Pemain: Tom Hanks, Catherine Zeta-Jones, Stanley Tucci

Produksi: Dreamworks Pictures

Sebuah dunia yang gaduh: orang-orang datang dan pergi, saling menyapa, mengecup pipi, mengecek waktu, tersihir oleh sign board raksasa yang mengatur jadwal kedatangan dan keberangkatan, yang berdampak pada jam biologis individu. Inilah kehidupan sebuah terminal pesawat. Dan dari titik perbatasan itulah Steven Spielberg memulai kisahnya.

Tersebutlah seorang lelaki mendarat di bandar udara New York. Dia tak paham apa yang diucapkan pejabat bandara di depannya. Ia baru saja tiba dari sebuah negeri yang jauh, sebuah negeri (fiktif) di Eropa Timur bernama Krakozhia. Tapi langkahnya tertahan, paspornya tak diakui imigrasi AS. Krakozhia dilanda kudeta, persis ketika ia di angkasa. Penguasa yang baru membekukan semua pemegang paspor Krakozhia di luar negeri. "Anda jatuh ke dalam celah hukum yang sangat jarang terjadi," ujar Frank Dixon, pejabat bandara, yang dimainkan dengan dingin oleh Stanley Tucci (bintang Road to Perdition).

Dan lelaki sederhana itu, Victor Navorski (Tom Hanks), dengan bahasa Inggris terbatas, hanya bisa menjawab dengan kalimat "simpan kembaliannya (keep the change)", sebuah frase simpel yang dihafalnya dari kamus. Dixon yang gemas tak bisa berbuat banyak. Ia tak bisa mengizinkan Navorski mengunjungi kota impiannya, tapi pada saat yang sama juga tak bisa menahannya. Navorski tak melakukan secuil kesalahan apa pun. Itulah "celah hukum yang sangat jarang terjadi" dalam dunia keimigrasian. Navorski, yang kini tak punya kewarganegaraan (stateless), hanya bisa diizinkan berada di sekitar terminal internasional. Terasing di tengah keramaian.

Dan Navorski cepat belajar bagaimana memperoleh uang, dengan mengembalikan troli-troli yang terserak di banyak lokasi ke tempatnya—sebuah mesin elektronis yang mengeluarkan koin 25 sen untuk setiap troli. Standar makannya meningkat, dari hanya secuil biskuit menjadi sepotong Big Mac. Ia memperhatikan banyak hal, termasuk seorang pramugari, Amelia Warren (Catherine Zeta-Jones), yang selalu disambut kekasih gelapnya di bandara.

Tentu saja tak sulit bagi Spielberg untuk "memperkenalkan" Warren dengan Navorski. Si cantik terpeleset saat mengabaikan tanda "lantai basah" yang dipasang petugas kebersihan Gupta Rajan (Kumar Pallana, The Royal Tennenbaums), dan hup…, Navorski berada di saat yang tepat untuk menolongnya.

Bahkan Gupta, yang awalnya bersikap paranoid atas kehadiran Navorski ("Aku tahu ia pasti agen FBI yang ditanam untuk memata-matai kita," ujarnya kepada petugas catering Enrique Cruz [Diego Luna, Y Tu Mama Tambien]), akhirnya malah menjadi satu dari tiga sahabat Navorski. Momen romantis pelan-pelan terbentuk antara Navorski dan Warren, dan kian mengkristal.

Untunglah, Spielberg tak menginginkan The Terminal menjadi sekadar komedi situasi seperti, katakanlah, Sleepless in Seattle. Dengan setting bandara begitu rinci—dalam ukuran sebenarnya!—yang dibuat oleh production designer Alex McDowell, Spielberg seperti menguliti kekakuan sistem hukum imigrasi, bahkan di negeri "semaju" Amerika Serikat, yang lebih memudahkan kontrol bagi obat kambing yang sakit tapi sangat rewel bila menyangkut kemaslahatan hidup untuk manusia di luar AS.

Navorski akhirnya bisa keluar dari bandara, tapi tak pernah benar-benar menghirup udara New York. Ia hanya mengunjungi Hotel Ramada Inn, ah itu pun kurang tepat, ia hanya menyambangi sebuah jazz club di Ramada, tempat yang menjadi raison d'être mengapa ia bersedia diperlakukan tak manusiawi oleh mesin-mesin berseragam imigrasi di salah satu bandara terbesar di dunia itu. Navorski tak (pernah benar-benar) mampir di New York.

Entah sebuah kebetulan atau tidak, namun Navorski dalam kehidupan nyata itu bernama Nasseri, lengkapnya Merhan Karimi Nasseri, orang Iran yang hidup di lantai dasar Terminal 1 Bandara Charles de Gaulle, Prancis, sejak tahun 1988 sampai sekarang, alias sudah 16 tahun!

Namun, dalam rilis yang dikeluarkan oleh DreamWorks tak pernah disebutkan bahwa The Terminal terinspirasi oleh kisah Nasseri, selain bahwa ide film ini murni berasal dari ide produser eksekutif Andrew Niccol yang dikembangkan menjadi skenario oleh Sacha Gervasi.

Akmal Nasery Basral



Sebuah Bandara, Seorang Spielberg

SELAIN Tom Hanks sebagai Victor Navorski, "aktor" berikutnya yang patut disebut adalah bandara itu sendiri. Spielberg dari awal tahu ia tak mungkin melakukan syuting di sebuah bandara sungguhan dengan alasan keamanan. Solusinya, Alex McDowell (Production Designer) dan Janusz Kaminski (Director of Photography) diminta untuk membuat set sebuah terminal bandara yang lengkap, modern, fungsional, dan dalam ukuran sesungguhnya!

Sebuah hanggar raksasa di Palmdale, California, dirombak selama 20 pekan oleh tim McDowell yang terdiri dari 200 orang pekerja dan seniman. Bukan hanya penggunaan lempeng baja, kaca jendela, lantai granit, atau infrastruktur elektrik dan kabel-kabel fiber optik yang membuat set itu menarik, tetapi juga dengan empat eskalator yang sungguh-sungguh fungsional—inilah pertama kalinya sebuah set film menggunakan eskalator asli. Bandara rekaan Spielberg ini bahkan menggunakan papan informasi penerbangan dengan teknologi terbaru split-flap—disebut Wayfinding System—yang baru digunakan oleh segelintir bandara internasional dunia, termasuk JFK di New York.

Produser Eksekutif Patricia Whitcher membuat "bandara" itu terlihat hidup dengan mengundang 35 outlet perusahaan multinasional, mulai dari Hugo Boss, Baskin Robbins, American Express, sampai Starbucks, dengan para karyawan (di film) yang sehari-harinya memang karyawan perusahaan bersangkutan. Tak mengherankan bila Catherine Zeta-Jones sampai terkejut ketika menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di set itu. "Saya terkesima, bahkan baunya saja sudah benar-benar bau bandara." Tom Hanks tak kalah terperangah. "Ini enam kali lebih besar dari bayangan saya. Sulit memahami bagaimana mereka mengerjakannya." katanya.

Toh, McDowell dan Kaminski masih menunggu dengan cemas komentar yang bakal muncul dari Spielberg, yang terkenal rewel untuk urusan properti. "Ketika pertama kali datang, ia bilang, 'Saya suka ini, luar biasa, kalian bawakan untuk saya sebuah sinema'," tutur McDowell dengan bangga.

ANB


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data