Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 29/XXXIII/13 - 19 September 2004
   
Teknologi Informasi

Banjir Data di Jalur Seluler

Jakarta bisa menikmati teknologi seluler EDGE yang bisa mengakses data dengan kecepatan tinggi. Tiga kali lebih cepat ketimbang Internet di rumah.

Sebuah lift, buat Andi, tak ubahnya sebuah kantor berita. Di kotak besi itu tersaji berita-berita hangat, mulai dari ledakan bom di Kuningan, artis sinetron mana yang akan bercerai, hingga kandidat presiden paling populer.

Di balik pintu lift yang mengkilap dan bisa untuk becermin itulah Andi kerap mendapat sodoran berita setiap hendak naik ke kantornya di lantai 10 sebuah gedung di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Sang penyodor berita adalah telepon genggam yang selalu menemani ke mana saja dia pergi.

Andi memang tipikal orang kantoran Jakarta masa kini—berangkat pagi pulang larut. Setumpuk pekerjaan di kantor sering membuat ahli komputer itu tak sempat menikmati acara baca koran. Untung, ada telepon seluler yang bisa mengakses situs favorit seperti Liputan6.com milik SCTV atau Detik.com, juga Yahoo!. Tinggal buka browser mini di telepon seluler (WAP, Wireless Application Protocol) berita yang cuma teks bisa mengalir cepat. "Untung saya pakai telepon berteknologi EDGE, berita-berita mengalir lancar," ujarnya.

EDGE (Enhanced Data Rates for GSM Evolution) memang teknologi mutakhir yang kini sedang digandrungi operator GSM dunia. Teknologi ini modifikasi dari GPRS (General Packet Radio Services) yang sudah dipakai meluas di Indonesia—bahkan di beberapa daerah terpencil seperti di kaki Gunung Halimun, Sukabumi, Jawa Barat.

Sementara GPRS memberikan iming-iming pengguna telepon seluler bisa mengakses Internet dengan kecepatan teoretis 115 kilobyte per second (kbps)—namun kecepatan riilnya cuma 30-40 kbps—EDGE menawarkan kecepatan jauh lebih tinggi. Teorinya, kecepatan akses data melalui EDGE bisa 384 kbps. Namun, saat Tempo menguji beberapa waktu lalu, kecepatan rata-rata yang tercapai 120-150 kbps. Itu sangat lumayan dibanding akses Internet lewat telepon rumah yang cuma 30-40 kbps.

Dengan kecepatan supermewah untuk ukuran Indonesia, tak mengherankan bila Andi sangat kesengsem memelototi berita, terutama saat pemilihan presiden putaran pertama lalu. Dia bisa merasakan ketegangan penghitungan suara di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang terletak di Menteng, Jakarta Pusat, meskipun Andi sedang berkutat dengan pekerjaan di kantornya yang berjarak sekitar 5 kilometer dari kantor KPU. Dia bolak-balik melirik layar ponselnya yang mungil. "Ingin tahu saja, siapa yang bakal menang," katanya.

Kecepatan EDGE itu juga ia bisa nikmati lewat laptop. Dengan memberikan peranti tambahan bluetooth dan sebuah Nokia 6230, dia bisa mengaduk-aduk dunia maya dengan cepat. Halaman muka situs Tempointeraktif.com, misalnya, di sore hari yang biasanya disesaki para pengakses Internet, bisa dibuka dengan kecepatan 125,1 kbps. Situs Detik.com bisa lebih cepat, 191 kbps.

Mengapa EDGE bisa mengalirkan data lebih cepat ketimbang GPRS? Salah satu jawabannya adalah frekuensi yang digunakan EDGE lebih efisien ketimbang GPRS. GPRS dalam sedetik cuma bisa mengirim satu bit atau satu huruf, sedangkan EDGE bisa mengirim tiga bit.

Di Indonesia saat ini baru Telkomsel yang telah mengoperasikan teknologi ini. Operator telepon seluler terbesar di Indonesia dengan mengantongi lebih dari 12 juta pelanggan itu telah meluncurkan layanan ini sejak Februari 2004. "Dengan EDGE, Telkomsel meneguhkan kesiapannya untuk aplikasi generasi ke-3 (3G, aplikasi kecepatan tinggi yang bisa mengirimkan data dan video dengan cepat)," tutur Presiden Direktur Telkomsel, Bajoe Narbito.

Untuk teknologi baru ini, Telkomsel mengaku tak banyak keluar biaya investasi. Mereka hanya perlu menambah peralatan di pemancar dan membeli peranti lunaknya.

Saat ini, di Jakarta sudah 45 lokasi yang dipasangi layanan EDGE. Di antaranya adalah pusat belanja ITC Cempaka Mas, ITC Roxi, Hotel Shangri-La, Hotel Mulia, dan Menara Mulia. "September ini kami juga sudah masuk ke Surabaya. Setelah itu Batam dan Medan," ujar Yoseph Garo, General Manager Technology & Strategic Network Telkomsel. Yoseph berharap tahun 2005 luas jangkauan EDGE ini akan memayungi semua kota besar di Indonesia, seperti yang sudah dilakukan Telkomsel dengan GPRS.

Langkah ini dilakukan karena pelanggan pengguna layanan data Telkomsel memang terus menanjak. Setelah diluncurkan teknologi GPRS pada Oktober 2002 hingga akhir 2003, pengguna layanan data Telkomsel mencapai 1 juta orang. Mereka umumnya mengakses Internet, men-download lagu dering, mau-pun pernak-pernik gambar. Tahun ini, dari April hingga Juli, pengguna layanan data itu melonjak hingga mencapai 2,5 juta orang.

Dengan EDGE, Telkomsel berharap jumlah pelanggan yang tak sekadar bertelepon itu akan semakin membengkak. "Di beberapa lokasi yang kita pasang teknologi EDGE, jumlah pelanggannya naik rata-rata hingga dua kali lipat," kata Yoseph Garo tersenyum.

Saat ini EDGE memang belum sepopuler kakaknya, GPRS. Ini lantaran belum banyak telepon seluler yang bisa menggunakannya. Telepon genggam berteknologi EDGE yang sudah dipasarkan di Indonesia antara lain Nokia 6230, 3200, 6820, dan 7200. Selain itu ada Motorola T 735. Nokia juga akan menghadirkan Nokia 6630. Dalam setahun, Yoseph hakul yakin telepon-telepon baru itu akan menggusur yang lama dan EDGE pun akan merajai pasaran.

EDGE sebenarnya bukan akhir dari revolusi teknologi GSM (Global System for Mobile Communication). Bila GSM disebut generasi ke-2 (2G), GPRS teknologi generasi ke-2,5 (2,5G), EDGE disebut-sebut baru teknologi generasi ke-2,75 (2,75G). Bukan generasi ke-3 (3G).

Di Jepang teknologi seluler 3G ini sudah diterapkan. Para pemilik ponsel bisa bercakap sambil melihat video wajah lawan bicara. Mereka juga bisa menikmati tayangan film atau video lewat telepon genggamnya.

Di mata para pengembang teknologi CDMA (Code Division Multiple Access), teknologi EDGE bukanlah ancaman berat. Soalnya, CDMA telah lebih dulu mengembangkan teknologi untuk menyalurkan data dan suara dengan kecepatan tinggi. Menurut Manajer Senior Mobile-8, Zoel Gandhi, sebelum GSM mengembangkan GPRS, CDMA telah membikin teknologi CDMA 2000-1X yang kecepatannya bisa mencapai 153 Kbps. Di Indonesia teknologi ini dipakai oleh Telkom Flexi, StarOne, dan Mobile-8.

Setelah itu CDMA mengembangkan CDMA EV-DO (Evolution Data Only) dan CDMA EV-VO (Evolution Video Only), yang secara teoretis bisa mencapai kecepatan 2,4 gigabyte per second—saat Tempo mengujinya bisa mencapai kecepatan 400 kbps. Dengan kecepatan itu, Tempo bisa memutar tiga streaming video, dari tiga situs yang berbeda, secara bersamaan di komputer tanpa terputus.

Teknologi ini yang akan disaingi GSM dengan menelurkan sistem WCDMA (Wideband Code Multiple Access). Teknologi WCDMA adalah teknologi 3G yang bisa mengirimkan file raksasa hanya dalam hitungan detik. "Tahun 2005 teknologi ini akan diuji coba Telkomsel."

Burhan Sholihin


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data