Lim Wasim, Sang Pelukis Istana Dia pelukis istana Sukarno terakhir. Takut dianggap "Sukarnois" dan ditangkap Orde Baru, ia menyamarkan diri sebagai pengusaha roti. |
Sabtu, 28 Agustus 2004 lalu, pukul 19.30 WIB, Lim Wasim pergi. Sekian lama ia menderita perdarahan otak dan dirawat di Rumah Sakit Husada, Jakarta. Empat hari kemudian, jenazahnya dikremasi di rumah kremasi Nirwana, Jakarta.
Dengan perginya Lim Wasim, berarti habislah daftar pelukis istana Presiden Sukarno yang masih hidup. Dullah, yang tercatat sebagai pelukis istana pertama dan bertugas pada tahun 1950-1960, meninggal pada 1996. Lee Man Fong, yang bertugas resmi di istana pada 1962-1966, meninggal pada 1988. Ketika bertugas di istana, Lee Man Fong didampingi Lim Wasim. Bahkan, dalam tugas di istana, Wasim lebih aktif daripada Lee Man Fong.
Wasim sendiri bertugas sejak 1962 sampai 1968. Ketika Presiden Sukarno tak lagi menjadi presiden pada tahun 1967, Wasim masih berada di istana Presiden Soeharto. Wasim keluar dari istana tahun 1968. Dan sekeluar dari istana presiden, Wasim cenderung menyembunyikan diri karena khawatir dianggap "Sukarnois" dan ditangkap tentara Orde Baru. Namun, sambil menyamarkan diri sebagai pengusaha roti, ia tetap melukis.
Lim Wasim, kelahiran Bandung 9 Mei 1929, adalah pelukis lulusan Institut Seni Rupa Beijing. Setelah enam tahun studi, ia ditugasi mengajar di Perguruan Seni Xian di Kota Xian, Cina. Di kota ini ia mengajar sampai 1959. Pernah satu tahun ia diisolasi di kota ini karena dituduh sebagai mata-mata Indonesia oleh pemerintah komunis Cina. Begitu selesai tugas, ia kembali lagi ke Bandung.
Di Bandung, Wasim terus berkarya dan bergabung dalam kelompok Tjipta Pancaran Rasa bersama Wolf Schoemaker, Barli, Angkama, dan lain-lain. Kemudian ia hijrah ke Jakarta. Di sini ia berkenalan dengan Lee Man Fong dan menjadi sahabat Bung Karno. Tahun 1965, ia sempat menyusun buku Lukisan-Lukisan Koleksi Presiden Sukarno jilid 6 sampai 10. Bahkan blue print buku sudah ada dan siap diterbitkan pada ulang tahun Bung Karno ke-65. Rencana ini terhalang G30S, dan kini rencana buku itu dibawanya sampai mati. Riwayat dan karya-karya Wasim telah diterbitkan dalam buku Lim Wasim, Pelukis Istana Presiden, 2001. Dalam buku itu situasi dunia seni lukis di Istana Bung Karno banyak terungkap. Di situ tersirat, karena Lim Wasim-lah di antaranya ribuan koleksi benda seni Bung Karno di istana terselamatkan.
Selain sekali-sekali berpameran di Indonesia, Wasim banyak melakukan pameran di mancanegara. Dari aktivitasnya itu ia banyak memperoleh penghargaan. Di antaranya dari International Biographical Centre, Cambridge, Inggris (1975), dari Academia Italia delle Arti e del Savoro (1981), dan medali emas Golden Centaur dari International Parliament, Amerika Serikat (1982). Bahkan tahun ini pula ia mendapat gelar "maestro" dari Salsomaggiore International Seminar, Italia. Pada tahun 1998, ia memperoleh penghargaan World Lifetime Achievement dari International Parliament, Amerika Serikat. Beberapa bulan sebelum meninggal, ia mendapat piagam penghargaan lagi dari sebuah institusi seni negeri Bush itu.
Nama Lim Wasim banyak tercantum dalam aneka diksionari seni dan buku who's who yang diterbitkan di Inggris dan Amerika Serikat. Dan ia pernah diangkat sebagai profesor oleh perguruan seni rupa di Shanghai, Cina. Di Indonesia sendiri ia kurang diperhatikan, meskipun ia tidak merasa didiskriminasi. Ia pernah mengatakan: "Ada orang yang selalu memperlihatkan dirinya bekerja. Sebaliknya, ada orang yang berupaya berjasa namun tidak ingin dirinya terlihat." Wasim cenderung memilih yang terakhir.
Lukisan-lukisan Lim Wasim alias Effendi Budiman, yang realis fotografis, acap kali dipojokkan sebagai "seni kuno" oleh penganut seni modern dan kontemporer. Namun, ia bergeming pada keyakinannya.
"Realisme mungkin seni lama, namun ia selalu sanggup mengungkap kenyataan-kenyataan baru," katanya. Di rumahnya yang sederhana, belasan lukisannya yang tersisa terus berbicara sambil menahan keabadian. Di istana presiden, lukisannya yang berjudul Ibunda Presiden Sukarno adalah salah satu adikaryanya.
Agus Dermawan T.
|