Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 29/XXXIII/13 - 19 September 2004
   
Peristiwa

Suara Lonjong Kaum Nahdliyin

Kendati mengatakan netral, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah menyarankan agar warga nahdliyin mencoblos pasangan Megawati-Hasyim Muzadi. Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Tengah Muhammad Adnan mengungkapkan hal ini Jumat minggu lalu. "Kalau NU punya jago untuk calon presiden, itu sebuah keharusan untuk dipilih dan itu tidak perlu dipersoalkan," kata Adnan.

Menurut Adnan, Hasyim sudah selayaknya dipilih untuk mewakili lembaga kaum nahdliyin. Di samping itu, Hasyim dinilainya punya kapabilitas yang memadai. "Kalau enggak memadai, enggak mungkin mendampingi Megawati," ujarnya. Hari Minggu pekan kemarin, sedianya akan berkumpul semua kiai se-Jawa Tengah di Pondok Pesantren Agro Al-Falah Pulutan, Salatiga, yang akan dihadiri Megawati.

Pada saat yang bersamaan, puluhan ribu nahdliyin se-eks Karesidenan Besuki malah berikrar mendukung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Kesediaan itu dinyatakan dalam acara "Ikrar Koalisi Rakyat Zona Tapal Kuda" di Gedung Olahraga Serbaguna Kabupaten Situbondo.

Sejak pukul satu siang, sekitar 2.000 tukang becak melakukan konvoi bersama keliling Kota Situbondo. Mengenakan beragam atribut bergambar SBY-Kalla, NU, dan Partai Kebangkitan Bangsa, mereka terlihat penuh semangat mengayuh becak berkeliling kota santri itu selama satu setengah jam. Setiba di halaman GOR Serbaguna Situbondo, ribuan tukang becak ini langsung ikut menandatangani spanduk putih sepanjang 20 meter bersama ribuan orang lain yang sejak pagi sudah berkumpul.

Di atas kain putih itulah ribuan warga NU yang datang dari berbagai tempat menorehkan tanda tangan sebagai wujud dukungan kepada SBY-Kalla. Dalam ikrar yang dibacakan di hadapan Hayono Isman dan Samuel Koto, koordinator acara Habib Sholeh al-Muhdor menegaskan bahwa ikrar dukungan ini dilakukan karena rakyat "Tapal Kuda" ingin perubahan.

Di samping itu, dibagikan lembaran tausiyah (anjuran) dari para kiai "Tapal Kuda". Isinya imbauan kepada semua warga nahdliyin untuk mendukung SBY-Kalla.

SBY Menang di Bali

Di luar dugaan, di basis tradisional Megawati seperti Bali, ternyata pasangan SBY-Kalla mengungguli pasangan Megawati-Hasyim Muzadi. Polling yang hasilnya mengejutkan tersebut diadakan oleh harian Bali Post, sebuah surat kabar terbesar di Bali. Melalui pesan singkat dan premium call, jajak pendapat itu mulai digelar dua pekan lalu dan diumumkan ke publik sejak Rabu pekan lalu. Pada hari pertama pengumuman, suara yang diraih SBY-Kalla 125, sementara Mega-Hasyim hanya mencapai 55 suara. Demikian pula pada hari kedua. SBY meraih 358 suara, sementara Mega tertinggal dengan 176 suara.

Namun, semua itu tidak membuat ketua tim kampanye Mega-Hasyim Provinsi Bali, Ida Bagus Suryatmadja, risau. Menurut Suryatmadja, hasil polling itu sama sekali tidak mencerminkan suara rakyat Bali. "Mereka yang ikut itu sangat tertentu, hanya yang biasa baca koran dan punya telepon seluler," kata Suryatmadja. Bali merupakan daerah yang selama ini dianggap basis politik Megawati. Dalam dua kali pemilu sejak reformasi, PDI Perjuangan, yang dipimpin Megawati, selalu menjadi pemenang di daerah ini. Tapi, harus diakui juga, kepopuleran SBY di pedesaan Bali sangat terasa belakangan ini.

Dua Raja di Keraton Solo

Jumat minggu lalu, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Hangabehi, anak lelaki paling tua Pakubuwono XII dari selir ketiganya, G.R.Ay. Pradapaningrum, dinobatkan menjadi Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Pelantikan ini menggenapkan konflik dan jadilah Keraton Surakarta memiliki dua raja. Sebelumnya, putra Pakubuwono XII lainnya, K.G.P.H. Tedjowulan, dilantik sebagai raja pada 31 Agustus lalu.

Penobatan Gusti Behi kali ini dilakukan dengan penjagaan ketat. Semua jalan masuk ke kompleks keraton dijaga ratusan orang berseragam hitam-hitam, selain tentu saja aparat kepolisian, termasuk pasukan Brimob dan tim Penjinak Bahan Peledak dari Kepolisian Daerah Jawa Tengah. Prosesi jumenengan nata atau penobatan menjadi raja ini berlangsung sekitar satu jam. Kursi yang disediakan panitia lebih banyak kosong tak terisi. Tidak ada pejabat negara yang datang. Bahkan tiga pengageng atau petinggi lembaga utama Keraton Surakarta juga tidak hadir karena telah sepakat menobatkan Tedjowulan. Melihat hal ini, sesepuh Keraton Surakarta K.G.P.H. Haryo Mataraman meminta pemerintah urun tangan menyelesaikan pertikaian. Dua pihak yang berkemungkinan menjadi penengah adalah Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pertahanan. "Saya tidak kuat melihat situasi keraton sekarang," katanya masygul.

Di luar keraton, sekitar 100 tukang becak yang menamai diri Paguyuban Tukang Becak Solo Forum Peduli Keraton menggelar aksi unjuk rasa memprotes jumenengan K.G.P.H. Hangabehi. Aksi itu berlangsung di Bundaran Gladak, Pasar Kliwon, sekitar satu kilometer dari Siti Hinggil, tempat berlangsungnya upacara jumenengan.

Menurut koordinator aksi tersebut, Sarsiman, unjuk rasa ini merupakan bentuk kepedulian tukang becak Solo yang tidak setuju keraton dipimpin Hangabehi. Aksi berlangsung damai. Mereka hanya duduk di atas becak sambil membentangkan poster yang bertuliskan penolakan kepada Hangabehi. Sebaliknya, para abang becak ini mendukung Tedjowulan sebagai Raja Surakarta.

Hati-hati Berkampanye

Jangan sekali-kali melakukan kampanye hitam jika tak mau dipenjarakan. Per-ingatan ini dilontarkan anggota Komisi Pemilihan Umum, Hamid Awaluddin, Rabu pekan lalu. Sanksi ini baru diatur KPU dalam Surat Keputusan KPU Nomor 48 Tahun 2004 tentang Kampanye Pemilu Presiden yang diteken Ketua KPU Nazaruddin Sjamsuddin, Rabu pekan lalu. SK itu hanya berlaku efektif selama 12 hari, yaitu mulai hari ini hingga pencoblosan 20 September mendatang.

Menurut Hamid, black campaign alias kampanye negatif seperti penyebaran isu atau gosip yang merugikan pasangan calon tertentu bisa dikategorikan sebagai penghinaan. "Sesuai dengan Pasal 38 UU Pemilihan Presiden, jika terbukti, pelakunya bisa dikenai sanksi pidana penjara 3 sampai 18 bulan dan/atau denda mulai Rp 600 hingga Rp 6 juta," ujarnya.

Regulasi baru kampanye ini menetapkan bahwa pasangan calon hanya bisa berkampanye pada 14-16 September. Jika melanggar, mereka dikenai sanksi maksimal tiga bulan penjara atau denda maksimal Rp 1 juta. Regulasi itu, kata Hamid, juga mengatur sepenuhnya penggunaan ruang untuk iklan di media, pengerahan massa, pidato di TV dan radio, serta penyebaran alat peraga oleh tim kampanye di tempat tertentu atas persetujuan pemerintah daerah dan KPU daerah.

Gogon Tinggalkan Bulan Bintang

Pragmatisme memang bukan sahabat seorang idealis. Akibat berkembangnya sikap pragmatis di partainya, fungsionaris Partai Bulan Bin-tang, Ahmad Sumargono, Ka-mis lalu memilih keluar dari partai tersebut. Politisi yang akrab dipanggil "Gogon" itu merasa capek selalu berseberangan dengan ketua umumnya, Yusril Ihza Mahendra.

"Dengan mengundurkan diri, saya bisa lebih bebas," kata Gogon lewat telepon selulernya. Menurut Gogon, perbedaan sikap politiknya dengan sang Ketua mulai terasa sejak pemilu presiden lalu. Saat itu Yusril mendukung pasangan SBY-Kalla, sementara dirinya dan sebagian fungsionaris partai lain mendukung pasangan Amien Rais-Siswono. "Dukungan itu saya pandang terburu-buru," kata Gogon. Sebenarnya, menurut Sumargono, hal tersebut mungkin tidak akan menjadi masalah besar bila saja Yusril tidak memaksakan dukungan pribadinya itu menjadi sikap partai. "Saya kecewa waktu Yusril mendaftarkan PBB ke KPU sebagai pendukung pasangan itu," kata Sumargono. Menurut Gogon, keputusan itu diambil Yusril secara sepihak tanpa melalui musyawarah internal partai, termasuk Majelis Syuro partai.

Namun, hal itu dibantah fungsionaris lain, Hamdan Zoelva. Menurut Hamdan, semua itu sudah dimusyawarahkan lebih dulu.

Kapal Indonesia Karam di Jepang

Badai tropis Songda Selasa pekan lalu menghantam wilayah utara Jepang. Kecepatan badai yang mencapai 108 kilometer per jam itu juga telah mengaramkan kapal kargo milik Indonesia. Kapal milik PT Gurita Lintas Samudera itu hancur dan ditemukan keesokan harinya di perairan Hikari, Yamaguchi, sekitar 800 kilometer ke arah barat dari Tokyo. Di dekat kapal itu ditemukan 11 mayat. Jumlah ini baru separuh total awak yang ikut berlayar. Sisa korban belum diketahui. "Semuanya warga Indonesia," kata polisi.

Dari korban tewas yang ditemukan, tiga di antaranya sudah teridentifikasi. Di antaranya perwira radio Muhammad Yudiawan, 36 tahun, dari Sleman, Yogyakarta. Dua lainnya adalah kadet Andi Riyanto, 23 tahun, dari Boyolali, Jawa Tengah, dan kadet Giyanto, 25 tahun, asal Cianjur. Keduanya siswa Akademi Pelayaran Niaga Semarang yang mengikuti pelayaran MV Tri Ardhianto sejak lepas sauh dari Indonesia dua bulan lalu.

Menurut Maryono, Kepala Bagian Armada PT Gurita Lintas Samudera, pihaknya sedang mengupayakan pemulangan jenazah itu. Kapal semikontainer itu biasanya mengangkut besi tua dan mengambil rute di kawasan Asia. Kapal tersebut berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Juli lalu. Sebelum ke Jepang, kapal yang dinakhodai Bambang Sukmono itu singgah di Taiwan untuk bongkar-muat barang.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
27/XXXVII/25 - 31 Agustus 2008

 

Berita lainnya

Elpiji Tidak Akan Naik Selama Puasa - 29 Ags 2008 | 20:48 WIB
Gadai Saham Bakrie Dianggap Wajar - 29 Ags 2008 | 20:33 WIB
Pemerintah Jamin Pasokan Kebutuhan Pokok menjelang Lebaran - 29 Ags 2008 | 20:32 WIB
Massa Gus Dur Demo KPU Jawa Timur - 29 Ags 2008 | 20:28 WIB
BI Siapkan Rp 77 Triliun untuk Lebaran - 29 Ags 2008 | 20:26 WIB
Kejaksaan Bojonegoro Periksa Staf Sekretariat Dewan - 29 Ags 2008 | 20:26 WIB
Puluhan Ribu Ton Gula Petani Tidak Laku - 29 Ags 2008 | 20:24 WIB
Lokalisasi Seks di Malang Tutup, Takut Diancam Banser - 29 Ags 2008 | 20:21 WIB
Lapangan Terbang Jember Dioperasikan Secara Komersil - 29 Ags 2008 | 20:18 WIB
Pindad Rancang Panser Canon - 29 Ags 2008 | 20:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data