Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 29/XXXIII/13 - 19 September 2004
   
Obituari

Sebuah Prosesi untuk Sang Jenderal

Jenderal bersih itu wafat. Masyarakat Makassar mengantarkannya ke pemakaman. Suasananya mirip ketika Makassar dahulu kehilangan pahlawan kesayangannya, Wolter Monginsidi.

Jalan menuju pekuburan Islam Panaikang, Makassar, seolah sebuah lorong duka. Sejumlah ruas jalan menuju pemakaman itu, dari Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Bulu Saraung, Jalan Masjid Raya, hingga Jalan Urip Sumoharjo, kosong, ditutup sementara. Masyarakat berjejal, berdiri di sepanjang tepinya, menunggu. Dan iring-iringan itu pun datang: di depan mobil jenazah Jenderal M. Jusuf, di belakangnya ribuan pelayat bersepeda motor dan bermobil.

Begitu panjang iring-iringan kendaraan yang mengantar. Jenazah sudah sampai di Masjid Al-Markaz, ketika ekor rombongan belum bergerak sama sekali dari kediaman sang jenderal di Jalan Sungai Tangka 25, Makassar. Padahal jaraknya sekitar dua kilometer. Kemacetan terjadi di beberapa tempat, tapi tidak terdengar suara protes.

Sebuah pemandangan yang langka di Makassar. Hari itu, seolah rasa takjub, sedih, dan penghormatan menghablur satu. Menurut cerita sejumlah tetua di Makassar, pemandangan "sedahsyat" itu baru terjadi sekali ini setelah meninggalnya Robert Wolter Monginsidi, 55 tahun lalu. Ketika itu rakyat Makassar spontan tumpah ke jalan, menangis, memberi hormat.

Jenderal bersahaja seperti dia, sebersih dia, memang tak banyak. Dia dari keluarga bangsawan, nama aslinya Andi Momang. Tapi pembawaannya yang egaliter-kerakyatan membuat dia mencoret gelar keningratan, Andi. Dan ketika menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI (1978-83), ia banyak melakukan perjalanan puluhan ribu kilometer ke pelbagai daerah. Mengunjungi tamtama dan bintara di pelosok-pelosok.

Beberapa pertanyaannya sampai kini masih dikenang: "Berapa kilogram beras yang kamu terima, tanggal berapa menerima gaji, bagaimana anakmu, senjatamu sudah kau bikin bersih?" Ia menengok asrama prajurit yang bobrok, berjalan di antara comberan yang bau, merunduk di bawah tali-tali jemuran, dan berbicara dengan para istri prajurit. Lalu menaikkan uang lauk-pauk, menambah jatah pakaian dua setel setahun.

Di "lingkungannya sendiri" ia mengeluarkan keputusan menghapus semua bentuk pengawalan pribadi, baik pejabat sipil maupun militer. Pos jaga di rumahnya kala itu di Jalan Teuku Umar dihilangkan. Gebrakannya tegas dan—tentu saja—berani: ia melarang perwira ABRI aktif terjun ke dunia bisnis. Di masa Jusuf tidak ada perwira yang berani menggunakan mobil pribadi mewah ke markas.

Pendisiplinan yang dilakukannya di tubuh ABRI legendaris. Jenderal yang tak suka merokok, tak minum kopi, dan tak lupa salat lima waktu ini sering mengesampingkan laporan yang masuk ke mejanya dan suka melakukan kunjungan mendadak. Ia tak segan "menyikat", menghentikan karier perwiranya yang kedapatan mangkir dari pekerjaan. Pernah terjadi seorang kolonel di Jakarta meninggal dunia saat berada di sebuah motel bersama seorang wanita penghibur. Beberapa saat sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, Jenderal Jusuf mencegahnya: "Sontoloyo itu tak bisa dikubur di Kalibata," katanya. Tatkala M. Jusuf menjadi Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (1983), terlontar ucapannya yang terkenal: "Anggota BPK harus lebih bersih dari yang diperiksa."

Ketika mengembuskan napas terakhir di usia 76 tahun, Rabu 8 September malam itu, sekitar pukul 21.35 wita, di sisinya ada istrinya Ny. Elly Saelan, sejumlah pejabat, dan keluarganya dekatnya yang memang sudah berkumpul di rumahnya sejak Selasa malam. Sehari sebelumnya, tekanan darahnya turun ke 60/40 dan ia sudah tidak sadarkan diri. Kesehatannya menurun drastis sejak keluar dari Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP) di Jakarta, 30 Agustus lalu.

"Dia tak mau makan," kata Herry Iskandar, kemenakannya yang saat ini menjabat Wakil Wali Kota Makassar. Tenri Gappa, keponakannya yang lain, menjelaskan bahwa sesungguhnya sejak ulang tahunnya ke-76, 23 Juni 2004, kondisi kesehatan M. Jusuf menurun. Kala itu Presiden Megawati Soekarnoputri datang khusus ke kediaman Jusuf di Jalan Sungai Tangka 25. Hari itulah Jenderal Jusuf terlihat di depan pers dan orang banyak.

Sekitar enam jam setelah Jusuf meninggal, istrinya, Ny. Elly, meminta para sanak saudaranya meninggalkannya berdua—hanya dia bersama jasad suaminya di ruang utama. Tak seorang pun boleh masuk, termasuk adik-adiknya. Di ruang utama itu tak ada suara. Tangis sebagaimana istri yang ditinggalkan oleh suami yang dicintainya juga tak terdengar.

Langit di atas Kota Makassar tiba-tiba berubah mendung-sejuk, Kamis siang, ketika jenazahnya hendak disalatkan di rumah. Padahal sebelumnya sinar matahari panas menyengat. Dan gerimis lalu turun. Pelayat yang tak hentinya mengalir sampai mengatakan seolah alam pun ikut mengantarkan kepergian Jusuf.

M. Jusuf mewasiatkan agar dimakamkan di tempat pemakaman umum, Pekuburan Islam Panaikang, Makassar, di samping makam putra satu-satunya, Jaury Jusuf. "Sejak dulu beliau minta dimakamkan di samping makam Jaury Jusuf," kata A. Herry Iskandar. Jaury Jusuf meninggal pada 1961 ketika berusia lima tahun. Jaury, kala itu kelas 1 SD, dibonceng bersepeda ke sekolah oleh pembantunya. Sang pembantu meminta Jaury agar tidak menyampaikan peristiwa itu kepada ayahnya. Beberapa hari kemudian luka Jaury terjangkit tetanus. Dan tak terselamatkan. M. Jusuf begitu kehilangan—ia mendirikan rumah sakit yang diberi nama seperti nama anaknya di Jalan Bulusaraung.

Makin tua, mungkin rasa ingatnya terhadap putranya makin mendalam. Tempo pernah menyaksikan langsung Jenderal Jusuf merenung di kuburan anaknya. Menurut penjaga Pekuburan Islam Panaikang, setiap Jumat, Jusuf memang berziarah ke kuburan anaknya itu. Maka, sebelum menuju pemakaman, jenazah M. Jusuf pun diantar mengitari lokasi Rumah Sakit Jaury dan disemayamkan sekitar 10 menit di sana, sebelum dibawa ke pemakaman

Dan hari itu ia bisa kembali mendekap sang putranya.... Pada pukul 14.30 wita, jenazah almarhum, yang diletakkan dalam peti jati hitam berselimut Bendera Merah Putih, tiba di lokasi pemakaman. Tembakan salvo dari pasukan pengawal mengiringi peti jenazah menuju liang lahat. Sekitar pukul 14.45, jenazah diturunkan diikuti dengan upacara pemakaman militer yang dipimpin Panglima TNI, Jenderal Endriartono Sutarto. Sambutan keluarga disampaikan kakak ipar almarhum, Brigjen (Purn.) Maulwi Saelan. Sebagai tanda penghormatan, Gubernur Sulawesi Selatan H.M. Amin Syam langsung mengimbau masyarakat Sulawesi Selatan agar mengibarkan bendera setengah tiang, selama tiga hari berturut-turut.

Kepergian Jusuf pun membawa misteri Supersemar. Tahun 1998, Soekardjo Wilarjo, eks letnan dua infanteri, saat itu 71 tahun, mantan pengawal pribadi Sukarno di Istana Bogor, di Lembaga Bantuan Hukum Jogja, memberikan kesaksian sensasional. Ia menceritakan kejadian malam itu 11 Maret 1966, saat bertugas piket di Istana Bogor sekitar pukul 01.00. Ia kedatangan beberapa jenderal. Soekardjo mengetuk pintu kamar Sukarno. Begitu Sukarno keluar, M. Jusuf segera menyodorkan sebuah map merah jambu dan pulpen biru muda.

Mayor Jenderal Basuki Rahmat langsung menodongkan pistol FN-46 yang telah terkokang di dada proklamator itu. Soekardjo sekelebat-refleks mengeluarkan pistol, tetapi ia dihentikan Bung Karno. "Jangan, jangan...," katanya. Soekardjo pun menyarungkan pistolnya, dan dalam jarak tiga meter Soekardjo melihat surat itu sudah diketik, tinggal ditandatangani. Kesaksian Soekardjo itu membuat M. Jusuf, yang selama itu bungkam, memberikan pernyataan. Ia membantah adanya todongan ala koboi itu. Ia menganggap Soekardjo mengada-ada. Apalagi memang ingatan Soekardjo kurang akurat. Kakek itu mengatakan Basuki Rahmat, M. Jusuf, Amir Machmud datang bersama M. Panggabean. Padahal M. Panggabean tak ikut. Dalam kesempatan itu M. Jusuf juga mengatakan dirinya tak tahu di mana Supersemar berada.

H.M. Jusuf Kalla, seorang kepercayaan Jusuf, di sela-sela keramaian melayat, mengungkap cerita Jusuf yang secara langsung pernah diungkapkan kepadanya. "Naskah asli Supersemar itu di tangan Pak Harto, karena pada waktu malam itu, menurut Pak Jusuf, surat itu sudah ia serahkan ke Pak Harto."

Seno Joko Suyono, Irmawati (Makassar)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Pertamina Akan Impor Tabung Gas Elpiji - 05 Sep 2008 | 15:54 WIB
PGRI Awasi Penggunaan Anggaran Pendidikan - 05 Sep 2008 | 15:53 WIB
Yudhoyono Terima Gubernur Bali dan Kalimantan Barat - 05 Sep 2008 | 15:48 WIB
Swasta Dominasi Proyek Listrik Tahap Dua - 05 Sep 2008 | 15:46 WIB
Polisi Sita 3,5 Kilogram Ganja - 05 Sep 2008 | 15:45 WIB
Malaysia Bakal Deportasi Pengungsi Tsunam - 05 Sep 2008 | 15:42 WIB
BP Solar Jual Pembangkit Tenaga Surya - 05 Sep 2008 | 15:41 WIB
Minyak Tanah Subisidi Dijual Lewat Operasi Pasar - 05 Sep 2008 | 15:36 WIB
Pengungsi Lapindo Mulai Tinggalkan Pasar Baru Porong - 05 Sep 2008 | 15:36 WIB
Soal Masa Jabatan, Presiden Tunggu Kapolri Pulang Umroh - 05 Sep 2008 | 15:33 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data