Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 29/XXXIII/13 - 19 September 2004
   
Nasional

Saya Tidak Diperalat Tentara

Namanya tak sepopuler Ishak Daud atau Sofyan Daud. Tapi pria gemuk yang namanya sayup-sayup sampai ini adalah tokoh kunci Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Menurut dia, dialah yang menghubungkan Gubernur Aceh Abdullah Puteh dengan Perdana Menteri GAM Malik Mahmud pada akhir 1999.

Sayed Mustafa Usab, 42 tahun, lahir di Kabu Tunong, Aceh Selatan. Ia pernah menjadi Koordinator GAM wilayah Mereuhon Daya dan Aceh Selatan (1999-2001). Tugasnya memberi informasi ke pimpinan GAM di Swedia soal kondisi lapangan, dan sebaliknya.

Menamatkan latihan militer di Libia tahun 1989-1990, Sayed punya dua paspor. Satu memakai nama Heriyadi, lainnya Azri Azis. Sebagai penghubung, mobilitas Sayed lumayan tinggi. Ia bisa dijumpai di Singapura, Malaysia, Swedia, Belanda, Denmark, hingga Norwegia. Sepeninggal Panglima GAM Abdullah Syafei, jabatan Koordinator GAM Aceh Selatan dilikuidasi. Setelah itu, Sayed tak punya peran khusus di GAM. Saat darurat militer diberlakukan pemerintah Megawati, Sayed malah jadi calo kargo di Jakarta.

Sempat berpindah-pindah tempat tinggal, aksi Sayed dihentikan Tim Satuan Gabungan Intelijen di Mal Depok, 6 Mei 2004 tengah hari. Saat itu 60 anggota pasukan dikerahkan.

Kini, hari-hari Sayed diliputi sepi. Mengenakan sandal jepit, kaus oblong putih, dan celana training biru, Sayed mendekam di sel Lembaga Pemasyarakatan Tapaktuan, Aceh Selatan—penjara yang dibangun Belanda pada 1912. Berbeda dengan tahanan lain yang berdesak-desakan enam hingga sepuluh orang dalam satu sel, di penjara ini Sayed menempati sel berukuran 10,5 meter persegi seorang diri plus kamar mandi di dalam.

Di sel itu, kepada Yandhrie Arvian dari Tempo, Sayed membeberkan kisahnya.

Betulkah Anda pernah bertemu Abdullah Puteh? Berapa kali?

Pertemuan pertama pada pertengahan 1999 di Hotel Gran Melia, Jakarta. Saat Puteh mau maju ke kursi gubernur. Saya lihat ia mencari dukungan ke semua pihak, termasuk saya sebagai tokoh di Aceh Barat dan Selatan. Pertemuan selanjutnya di Singapura dan Hotel Kartika Chandra, Jakarta.


Di Singapura, siapa yang ditemui Puteh?

Malik Mahmud. Kami bertemu sambil makan di restoran seafood di luar Hotel Royal Brunei, selama kurang-lebih satu jam. Di depan Malik Mahmud, Puteh menyampaikan niatnya ingin memimpin Aceh. Puteh juga minta restu untuk menjadi Gubernur NAD. Malik Mahmud tidak memberi tanggapan apa pun dan berpendapat dirinya tidak berhak mendukung, juga tidak berhak melarang.


Betulkah Puteh berjanji akan memberi 40 persen penghasilan kepada GAM jika terpilih menjadi gubernur?

Janji itu memang yang saya pegang. Waktu itu Puteh berjanji, jika terpilih jadi gubernur, ia akan menyisihkan 40 persen APBD untuk GAM. Terus terang, saat pertama kali dengar janji ini, saya bersemangat. Di depan saya dan Zulkarnaen (rekan Sayed ketika bertemu Puteh di Hotel Kartika Chandra), Puteh juga mengatakan akan menembak kepalanya jika ia ingkar janji (Sayed memperagakan telunjuk kanannya ibarat pistol yang teracung di kening).


Anda tergiur?

Secara pribadi, saya memang tergiur.


Janji itu pernah ditepati Puteh?

Terakhir saya baru tahu Puteh orang yang paling mudah beri janji-janji. Bagi saya, Puteh adalah manusia munafik. Setelah itu, dia tidak pernah menepati janjinya. Dia tidak pernah memberikan apa-apa baik kepada saya maupun GAM.


Tapi Puteh membantah pernah bertemu Anda?

Orang politik kan memang begitu, munafik. Saya siap jika harus dihadapkan dengan dia. Saya ingin Puteh juga terseret ke penjara seperti saya.


Anda pernah menagih janji itu?

Tidak karena, sejak jadi gubernur, Puteh sudah dikelilingi birokrasi bersenjata.


Apakah Anda pernah melapor ke Swedia soal janji ini?

Ya. Tapi mereka (GAM Swedia—Red.) dari awal sudah bilang, apakah Puteh bisa dipercaya? Pasalnya, pimpinan GAM di Swedia sudah tahu sepak terjang Puteh sejak jadi pengusaha. Jadi, mereka tidak kaget jika janji itu tidak ditepati.


Puteh pernah mengirim dana untuk GAM?

Tidak pernah. Malah ada orang GAM di Jakarta yang mencari dan ingin menghabisi nyawa Puteh. Supaya Anda tahu, orang GAM banyak yang marah pada saya karena dianggap mendukung Puteh.


Pernahkah Puteh berhubungan lagi dengan Malik Mahmud?

Tidak mungkin. Puteh tidak pernah bertemu lagi dengan Malik Mahmud. Jika bertemu, saya pasti diberi tahu oleh Malik.


Apakah Anda diperalat tentara untuk menjungkalkan Puteh?

Tidak. Saya tidak diperalat siapa pun. Saya orang yang anti terhadap keduanya: militer maupun Puteh. Saya tidak bisa jadi alat militer, meski telah masuk bui. Masalah perebutan kepentingan antara militer dan Puteh, saya tidak turut campur.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
21/XXXVII/14 - 20 Juli 2008

 

Berita lainnya

41 Pengibar Bendera Bintang Kejora Ditangkap - 19 Jul 2008 | 16:20 WIB
Polres Pasuruan Dirikan Posko Pengaduan Pemilu - 19 Jul 2008 | 16:03 WIB
PMI Kabupaten Malang Kahabisan Kantong Darah - 19 Jul 2008 | 16:00 WIB
Makam Sumiarsih dan Sugeng Masih Terus Dikunjungi - 19 Jul 2008 | 15:58 WIB
33 Pengunjung Hiburan Malam Diperiksa - 19 Jul 2008 | 15:30 WIB
Penertiban Boker Batal - 19 Jul 2008 | 12:42 WIB
Kesatria Turun Pamor - 19 Jul 2008 | 11:12 WIB
RUU Pengadilan Korupsi Maju ke Dewan - 19 Jul 2008 | 11:09 WIB
Dukun Usep Dieksekusi Regu Tembak di Lebak - 19 Jul 2008 | 10:01 WIB
DPRD Cirebon Minta Kamar Hotel dan Mobil Baru - 19 Jul 2008 | 09:48 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data