Janji Madu di Restoran Ikan Seorang anggota GAM membeberkan janji Abdullah Puteh menyetorkan 40 persen APBD Aceh kepada kelompoknya. Kasus yang tampaknya tak akan diusut tuntas. |
Sayup suara ombak menyusup hingga ruang-ruang sel Lembaga Pemasyarakatan Tapaktuan, Aceh Selatan. Bangunan penjara yang kukuh menghadap pantai selatan tanah Nanggroe Aceh Darussalam. Di salah satu sel di blok A penjara berpenghuni 121 tahanan itulah Sayed Mustafa Usab meringkuk.
Pria berbadan gempal itu tak bebas, tapi kesaksiannya telah membahana sampai Jakarta. Mantan Koordinator Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Wilayah Mereuhon Daya dan Aceh Selatan ini membongkar lobi Abdullah Puteh dengan GAM dalam upaya merebut kursi Gubernur Aceh. Pengakuan itu disampaikannya di depan para pemeriksa di Komando Daerah Militer Iskandar Muda Aceh setelah Sayed ditangkap Satuan Gabungan Intelijen di Mal Depok awal Mei lalu.
Sayed berkisah tentang awal perkenalannya dengan Puteh lima tahun lalu. "Saat itu saya pergi ke Jakarta untuk mencari pasokan senjata bagi GAM," katanya saat ditemui Tempo di LP Tapaktuan, Jumat pekan lalu. Di Jakarta, Sayed menerima perintah dari Malik Mahmud, Menteri Negara GAM di Swedia, untuk bertemu dengan Puteh. Pertemuan pertama terjadi di Hotel Gran Melia, Jakarta.
Puteh, yang saat itu masih berstatus pengusaha, mengajaknya makan di restoran Jepang. Ia meminta Sayed mempertemukannya dengan Malik Mahmud di Singapura. Sayed menyanggupinya dan sepulang dari pertemuan itu dia diberi uang Rp 5 juta.
Seminggu kemudian, Puteh dan Sayed berangkat ke Singapura melalui Bandar Udara Soekarno-Hatta. Semua biaya ditanggung Puteh. Sesampai di Singapura, mereka menginap di Hotel Royal Brunei di Royal Park Plaza. Malik Mahmud datang setengah jam kemudian dan mereka pergi ke sebuah restoran sea food.
Menurut Sayed, selama makan, mereka hanya membicarakan soal bisnis di Aceh. Seusai makan, teman Puteh membuka pembicaraan dan menyampaikan keinginannya untuk menjadi Gubernur Aceh. "Kami mohon doa restu," kata Puteh kepada Malik seperti ditirukan Sayed. Malik mengatakan tidak berhak mendukung ataupun melarang Puteh karena itu terjadi di Indonesia.
Sekembali mereka ke hotel, Malik bertanya kepada Sayed, "Menurut kamu, dia (Puteh) bisa dipercaya?" Sayed hanya menjawab, "Kalau untuk mempercayai orang lain, jangankan dia, kita sendiri saja bisa berubah-ubah." "Kita lihat saja nanti," Malik menukas.
Setelah Malik meninggalkan Singapura, kepada Sayed, Puteh menanyakan reaksi pemimpin GAM terhadap pertemuan mereka. "Oke," jawab Sayed singkat. Esok harinya, Puteh dan Sayed meninggalkan hotel. Tak lupa Puteh kembali memberikan uang kepada Sayed sebesar Rp 1,5 juta ditambah 500 dolar Singapura (sekitar Rp 2,5 juta).
Tiga bulan berselang, Sayed kembali ke Jakarta dan menghubungi Puteh. Dalam pertemuan ketiga di restoran Hotel Kartika Chandra itu, Puteh menyampaikan kepastiannya mencalonkan diri sebagai gubernur. Ia mengaku telah mengantongi suara Golkar dan Partai Amanat Nasional. Masalahnya tinggal Partai Persatuan Pembangunan yang masih belum bulat mendukungnya. Puteh kemudian meminta Sayed menggunakan pengaruhnya. "Apa konsekuensi terhadap kelompok saya apabila Bapak menjadi gubernur?" tanya Sayed.
Puteh menjanjikan 40 persen dari hasil anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) akan diberikan kepada GAM. "Kalau saya berkhianat, tembak kepala saya," kata Puteh sambil mengarahkan telunjuknya ke kening. Seusai pertemuan itu, Puteh memberikan lagi uang Rp 8 juta kepada Sayed.
Keterangan Sayed ini dibenarkan Gumarni, asisten pribadi Panglima GAM Muzakkir Manaf. Gumarni mengaku mengenal Puteh dua tahun terakhir. Mereka tiga kali bertemu di Hotel Mandarin, Jakarta. Dari pertemuan itu, Gumarni menerima uang Rp 15 juta dari Puteh.
Pengakuan kedua anggota GAM itu dibenarkan Panglima GAM Wilayah Aceh Timur, Teungku Ishak Daud. "Sayed itu teman seperjuangan kami," kata Ishak ketika dihubungi melalui telepon satelit beberapa hari sebelum ia tewas tertembak. Ishak juga mengaku organisasinya beberapa kali mendapat sumbangan uang dari Puteh. "Sejak tahun 1996 hingga 2000, Puteh memberikan dana perjuangan kepada kami," kata Ishak tanpa menjelaskan secara rinci.
Tudingan ini menambah panjang tuduhan buruk kepada Puteh. Sejak dua bulan lalu, kader Golkar ini menjadi tersangka dalam kasus korupsi pembelian mesin listrik senilai Rp 30 miliar di Banda Aceh. Selain itu, dia dituduh bertanggung jawab dalam kasus penggelembungan dana pengadaan helikopter Mi-2 merek PLC Rostov Rusia. Dalam kasus pembelian capung besi itu, negara dirugikan sekitar Rp 4 miliar.
Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto membenarkan adanya pengakuan dari sejumlah anggota GAM yang tertangkap. Dia mendapat informasi tentang keterlibatan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam dengan GAM. "Jika proses hukum menyatakan keterlibatannya dan hukumnya harus mencopot, ya, dicopot (dari jabatan gubernur)," kata Endriartono pada Senin pekan lalu.
Namun Panglima menyangkal penyelidikan terhadap Sayed dilakukan TNI. Menurut dia, TNI bukanlah penegak hukum sehingga tidak berwenang melakukan penyelidikan suatu kasus. Padahal, menurut Sayed, berita acara pemeriksaan itu dibuatnya di depan aparat militer Kodam Iskandar Muda.
Kepada pers, Puteh mengaku mengenal Sayed melalui Rusli Bintang, teman pengusaha Aceh yang ada di Jakarta. Namun pertemuan itu dilakukan sebagai upaya penjajakan menyelesaikan konflik Aceh. Puteh bermaksud mempertemukan tokoh-tokoh Aceh di Jakarta, Aceh, Medan, dan luar negeri dalam seminar besar. Rusli Bintang kemudian memperkenalkan Puteh dengan Sayed Mustafa.
Bagi Puteh, tudingan keterlibatan dia dengan GAM yang dilakukan Sayed Mustafa dan kelompok yang berkomentar senada sangat tendensius. "Sarat dengan rekayasa politis," katanya.
Tapi Puteh mestinya tidak perlu gusar. Menteri Koordinator Politik dan Keamanan ad interim Hari Sabarno menyatakan tidak akan buru-buru menyelidiki kasus ini. Menurut dia, pernyataan Panglima TNI yang menuding keterlibatan Puteh dengan GAM baru berdasarkan laporan anggota GAM yang tertangkap. "Jangan karena pengakuan seseorang lalu dianggap sebagai kebenaran," katanya di DPR, Senin pekan lalu.
Menurut Kepala Kejaksaan Negeri Tapaktuan, Munir, S.H., setelah usainya darurat militer, kasus Sayed kini ditangani Kepolisian Daerah Aceh. Pihak kejaksaan akan menyidangkan Sayed berdasarkan berkas penyidikan Polda Aceh, bukan berita acara pemeriksaan dari Kodam Iskandar Muda. Tuduhannya adalah makar dan pemasokan senjata api. "Bukan pengakuannya pernah bertemu dengan Abdullah Puteh," kata Munir.
Upaya membongkar skandal ini mungkin bakal menemui jalan buntu. Dan Puteh sekali lagi boleh tetap bernapas lega.
Agung Rulianto, Yandrie Arvian (Tapaktuan), Yuswardi (Banda Aceh), Cahyo Junaedy (Jakarta)
Abdullah Puteh:
"Saya Tidak Menjanjikan Uang kepada GAM"
Abdullah Puteh memberi kesempatan kepada pers menanyakan seputar tuduhan keterlibatannya dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Kamis pekan lalu. Beberapa kali suara Puteh terdengar meninggi. Berikut petikannya konferensi pers yang dihadiri wartawan Tempo, Yuswardi Suud.
Betulkah Anda pernah bertemu anggota GAM?
Saya bertemu Gumarni (ajudan Panglima GAM Muzakkir Manaf) pada ulang tahun Kodam di Banda Aceh setelah perjanjian damai. Waktu itu dia diundang Pangdam Djali Yusuf. Saat itu memang kita sedang membangun rekonsiliasi. Bahkan di mana-mana saya berpidato, kalau ada GAM, jangan ditembak tetapi datangi dan ajak minum kopi. Kita juga ngasih sembako kepada korban konflik.
Mengapa GAM mengaku pernah menerima bantuan dari Anda?
Saya tidak pernah menyumbang apa pun. Saya mengeluarkan uang Rp 13 miliar dari APBD kepada bupati-bupati di Aceh untuk kenduri dan pengadaan sembako. Itu pun untuk keluarga korban konflik.
Bagaimana dengan janji memberikan 40 persen penghasilan daerah kepada GAM?
Saya tidak pernah menjanjikan uang berapa pun kepada GAM. Ketika Sayed Mustafa mau ke Singapura, kami memang titip uang Rp 5 juta kepada dia. Dana itu dari Rusli Bintang (pengusaha Aceh di Jakarta) sebagai donatur seminar.
Apa tanggapan Anda tentang pernyataan Panglima TNI soal hubungan Anda dengan GAM?
Saya menyesal kenapa Pak Endriarto agak berlebihan. Mestinya, sebagai sesama mitra, beliau bisa check and recheck kepada saya.
Anda menyebut tuduhan itu tendensius?
Saya pikir wartawan sudah sangat dewasa. Anda bisa menafsirkan sendiri.
|