Hikayat Sang Superminister Rini M.S. Soewandi dengan cepat memasuki lingkar dalam PDI Perjuangan. Setelah jadi menteri malah tekor. |
HIDUP dimulai pada usia 40. Adagium yang berlaku di dunia Barat ini rupanya pas pula bagi Rini Mariani Soemarno Soewandi. Bukan karena Rini lahir di Maryland, Amerika Serikat. Kehidupannya memang melejit bak roket setelah usianya menginjak kepala empat.
Enam tahun silam itu Rini Soewandi memimpin Astra International, korporasi raksasa di Indonesia. Setelah dua tahun, Rini bermetamorfosis jadi pengusaha. Dan dalam tiga tahun terakhir, perempuan 46 tahun ini menjadi satu di antara saka guru pemerintah Megawati Soekarnoputri. Sejumlah kalangan bahkan menyebutnya superminister.
Tak banyak perempuan Indonesia yang bisa menjejaki langkah putri mantan Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan di zaman Sukarno ini. Ketika menjadi orang nomor satu Astra, Rini berhasil menyelesaikan restrukturisasi utang senilai US$ 2 miliar plus Rp 2 triliun. Ini merupakan salah satu restrukturisasi utang tercepat di Indonesia yang membuat Astra bisa berpacu lebih laju mengatasi krisis ekonomi.
Pada saat itu penjualan Astra sudah di atas Rp 10 triliun per tahun. Paling-paling hanya Telkom dan Gudang Garam perusahaan Indonesia yang bisa menyaingi Astra. Dua tahun Rini menjadi Presiden Direktur Astra. Setelah keluar dari sana, banyak yang memperkirakan kiprah Rini akan tamat.
Perkiraan itu meleset. Pada awal 2000 nama Rini kembali beredar. Adalah bekas Menteri Keuangan Fuad Bawazier yang mencomblangi nama Rini. Saat itu kebetulan Presiden Abdurrahman Wahid sedang mencari pengganti Glenn S. Yusuf sebagai Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Fuad gagal. Rini kembali disebut-sebut sebagai kandidat Direktur Utama Bank BNI. Ini pun gagal lagi.
Di masa tanpa jabatan itu Rini berpaling ke dunia entrepreneur. Bersama keluarga dan teman-temannya, termasuk Fuad, Rini mengibarkan bendera Semesta Citra Motorindo, perakit sepeda motor merek Kanzen yang mendapat lisensi Korea Selatan. Untuk menggenjot penjualan Kanzen, Citra memiliki unit bisnis pembiayaan, Semesta Citra Dana. Rini juga patungan mendirikan Madani Sekuritas.
Ketika orang mulai hampir lupa akan sosoknya, Presiden Megawati menunjuk Rini menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Namanya disorongkan Partai Amanat Nasional (PAN). Lagi-lagi Fuad, yang ketika itu sudah aktif di PAN, berperan melobi agar Rini naik ke kursi menteri. "Saya lihat ia memiliki kualifikasi yang pantas duduk di kursi menteri," kata Fuad. Meski namanya disetorkan PAN, Rini lebih dianggap mewakili kaum profesional.
Mungkin karena itu, setelah jadi menteri, Rini malah mengambil jarak dari PAN, juga dari Fuad Bawazier—mentornya di pemerintahan. "Mungkin karena saya pernah meminta ia mundur," kata Fuad. Mantan Menteri Keuangan di zaman Soeharto itu mendesak Rini mundur karena ia merasa Rini tak jujur bercerita tentang kewarganegaraan Amerika yang pernah dikantonginya.
Pecahnya kongsi Fuad dan Rini mengimbas ke bisnis mereka. Fuad mengaku telah membeli seluruh saham milik Rini dan keluarganya di Madani Sekuritas. Sebaliknya, Rini menguasai sepenuhnya saham Citra.
Cerita selanjutnya jelas belaka: Rini lebih banyak berada di orbit Megawati. Ia seakan menjadi bayangan orang pertama negeri ini. Di dalam negeri, Rini terlihat hadir di dua acara ulang tahun suami Presiden, Taufiq Kiemas. Bahkan pada ulang tahun Taufiq ke-60, Rini duduk semeja dengan keluarga Presiden.
Ia juga rajin menemani Presiden melancong ke luar negeri. Misalnya dalam kunjungan ke Amerika Serikat, sebulan setelah kabinet terbentuk. Di New York, Rini satu-satunya menteri yang mendapat kamar di lantai yang sama dengan Presiden. Ia juga ikut dalam misi sejumlah menteri ke Cina akhir 2002 lalu.
Kedekatan semacam itu menggiring Rini menjadi tokoh kunci dalam kisah miring pembelian Sukhoi. Dewan Perwakilan Rakyat bahkan membentuk panitia khusus untuk menyelidiki kasus yang ditengarai menyimpan sejumlah keganjilan dan penyimpangan. Anggota DPR, seperti Djoko Susilo, saat itu tanpa ragu menunjuk Rini sebagai orang yang paling tahu.
Tudingan itu ditepis Rini dengan tangkas, "Semua keputusan itu berasal dari presiden," katanya. Akses bebas hambatan Rini ke presiden pula yang ditengarai sebagai penyebab dicopotnya Permana Agung dari kursi Direktur Jenderal Bea dan Cukai, awal September 2002. Pada saat itu Rini ingin memangkas peran Bea dan Cukai dalam impor barang dengan menerapkan pres-shipment inspections.
Rini juga memainkan peran tak kecil dalam tata niaga gula. Pada 2002, Rini menandatangani tata niaga impor. Pelaku impor diciutkan menjadi tiga PTPN (IX, X, XI) dan Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Bulog ikut menjadi pengimpor dengan tugas sebagai penyangga stok.
Tata niaga gula pun sempat mengguncang kabinet. Pemicunya adalah kelangkaan stok gula di pasar lokal pada medio 2003. Beberapa menteri bidang ekonomi, dipimpin Wakil Presiden Hamzah Haz, menggelar rapat koordinasi untuk mencari musabab melambungnya harga gula. Akhir kata, rapat memutuskan mengevaluasi kebijakan tata niaga.
Kendati sempat dibawa ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha, tata niaga gula masih bertahan hingga kini. Dari sepak terjang di kabinet selama tiga tahun, sukar diingkari kesan betapa kuatnya Rini. Seorang sumber Tempo yang lama berkawan dengan Rini menceritakan, hubungan Rini dengan keluarga Teuku Umar tergolong istimewa. "Mereka biasa saling mengunjungi," kata sumber yang enggan dikutip namanya itu.
Sumber ini menceritakan, Rini memiliki kemudahan dalam menjalin keakraban dengan Megawati karena ia anak Soemarno. "Ayah Rini termasuk Sukarnois," kata sang sumber. Tapi, ketika ditemui pekan lalu, Rini memilih bersikap low profile. "Saya hanya mencoba melakukan yang terbaik untuk setiap tanggung jawab yang diberikan," katanya.
Menanggapi kemungkinan ia diangkat kembali sebagai menteri jika Megawati terpilih, "Lihat saja nanti," katanya. Di kalangan terdekatnya, Rini dijagokan sebagai Menteri Koordinator Perekonomian. Spekulasi itu bertiup karena Rini sendiri terhitung aktif "menjodohkan" Megawati dengan Hasyim Muzadi.
Maret tahun lalu dia pernah mendapat penugasan dari Megawati untuk membuka jalur dengan Hasyim. Setelah Mega dan Hasyim resmi berpasangan, Rini memang tak langsung bergabung dalam tim kampanye pasangan ini. Maklumlah, sebagai menteri, Rini terikat aturan tak boleh berkampanye. Bekas Wakil Kepala BPPN ini memilih di belakang layar.
Namun, ada suaminya, Didi, yang duduk sebagai wakil bendahara di tim Mega-Hasyim. Didi sendiri menyatakan keterlibatannya semata karena hubungan historis dengan Hasyim. Kiai ini, katanya, kawan lama almarhum Soewandi, ayah Didi, mantan Gubernur Kalimantan Timur. Seperti Hasyim, keluarga Soewandi juga berasal dari Malang. "Selain itu, saya percaya Pak Hasyim layak tampil karena ia memegang akhlak dan moral," kata Didi.
Karena itu, Didi membantah keterlibatannya dalam tim semata untuk mengail pamrih bagi dirinya atau sang istri. Sebelum Rini menjadi menteri pun, kata Didi, mereka sudah hidup berkecukupan. "Kalau dihitung materi, sepertinya keluarga kami malah tekor setelah Rini jadi menteri," ujar Didi. Tapi yang kini diraih Rini lebih dari sekadar materi, kan?
|