Masih Sebatas Omongan PDI Perjuangan menyebut Sri Mulyani calon kuat menteri bidang ekonomi. Spesialis kandidat. |
BUKAN sekali ini saja Sri Mulyani Indrawati disebut-sebut sebagai kandidat Menteri Keuangan. Ketika Presiden Abdurrahman Wahid menyusun kabinetnya pada 1999, nama mantan Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia ini sudah "dinominasikan" sebagai calon. Namun, yang akhirnya jadi menteri adalah Bambang Sudibyo.
Begitu pula ketika Megawati naik menggantikan Abdurrahman, Sri Mulyani disebut sebagai calon kuat pengganti Rizal Ramli. Namun, namanya lagi-lagi menguap. Yang muncul adalah Boediono. Kini, menjelang pemilu presiden putaran final, nama perempuan 42 tahun itu kembali beredar. Adalah Taufiq Kiemas yang pertama kali menyebut nama ibu tiga anak itu.
Awal September lalu, suami Presiden Megawati Soekarnoputri yang juga tokoh PDI Perjuangan itu mengatakan Sri Mulyani kandidat menteri bidang ekonomi. Selain Ani—demikian Sri Mulyani biasa disapa—Taufiq juga menyebut Azyumardi Azra, Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta. Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Pramono Anung, menyatakan itu bukan pernyataan Taufiq pribadi. "Itu hasil pembicaraan ketua-ketua partai," kata Pramono kepada Rofiqi Hasan dari Tempo.
Para ketua partai yang dimaksud tak lain adalah anggota Koalisi Kebangsaan, "payung" tempat PDI Perjuangan bernaung bersama Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Damai Sejahtera, dan Partai Bintang Reformasi. Politisi senior Partai Golkar, Fahmi Idris, membenarkan posisi Menteri Keuangan disebut-sebut akan diserahkan kepada doktor ekonomi lulusan University of Illinois, Urban Champaign, Amerika Serikat, itu.
Tapi, kata sumber Tempo, Ani bisa saja dipilih menjadi Menteri Koordinator Perekonomian karena, dalam rapat membicarakan komposisi kabinet, nama seorang menteri yang dicalonkan PDI Perjuangan untuk menduduki pos itu ditolak partai lain.
Faisal Basri, koleganya di Universitas Indonesia, mengatakan Sri Mulyani memiliki kualitas pribadi yang dapat diandalkan sebagai Menteri Keuangan. Ia, antara lain, bisa bersikap tegas. Ketegasan itu diperlukan, kata Faisal, "Untuk memberantas orang-orang bobrok di Departemen Keuangan." Pengalamannya bekerja di lembaga internasional macam Dana Moneter Internasional (IMF) juga akan memuluskan hubungan pemerintah Indonesia dengan berbagai lembaga keuangan dunia seperti Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia.
Namun, apakah Ani tetap bernasib seperti sebelumnya, atau akan benar-benar menjadi Menteri Keuangan, atau Menteri Koordinator Perekonomian? Agak sulit memastikan ini. Meskipun nama Sri Mulyani dikibarkan Taufiq Kiemas dan sudah dibenarkan oleh petinggi PDI Perjuangan, tak ada jaminan Direktur Eksekutif IMF untuk Asia Tenggara ini bakal melenggang mulus ke Lapangan Banteng, kantor Menteri Keuangan dan Menko Perekonomian.
Sumber Tempo yang juga petinggi PDI Perjuangan meyakinkan penyebutan nama itu baru omongan semata, dan bisa berubah pada detik-detik terakhir. "Semuanya tergantung Megawati," katanya. Tapi seorang sumber Tempo memastikan bahwa Sri Mulyani justru sudah menjalin "kontrak" dengan kubu yang berlawanan yaitu kubu SBY. Sayang Sri belum menjawab surat elektronik Tempo untuk mengkonfirmasi soal ini.
|