Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 29/XXXIII/13 - 19 September 2004
   
Laporan Khusus

Karena Cinto dan Politik

Pilar utama kekuatan Megawati bukan cuma dari pamor PDIP, tetapi juga dari determinasi Taufiq Kiemas.

Markas CPM Kodam Sriwijaya, Palembang, 1966. Di sinilah Taufiq Kiemas dikurung karena posisinya sebagai Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) di Palembang dianggap oleh tentara "condong" memihak pada Bung Karno. Maklum, ini tahun 1966. Masalah "kiri", "kanan", dan "tengah" sedang jadi persoalan.

Tapi, di balik jeruji itu, Taufiq Kiemas muda malah lebih asyik meramal jodohnya sendiri. Ia menyodorkan sehelai koran kepada mantan Ketua DPRD Sumatera Selatan, Adjis Saip. Di situ terpampang foto Megawati, putri sang Presiden. "Djis, ini calon ayu (kakak perempuan) kau," ujarnya sambil menunjuk foto Megawati.

"Ah, Kak Taufiq jangan mimpilah," kata Adjis, "Dia itu kan anak presiden, kita ini cuma rakyat biasa," tutur Adjis, yang sudah mengenal Taufiq lebih dari 40 tahun lamanya. Saat itu Megawati belum menikah dengan Letnan (Penerbang) Surindro Suprijarso. "Kalau kau tak percaya, lihat saja nanti," ujar Taufiq seperti diceritakan Adjis dalam biografi Tanpa Rakyat, Pemimpin Tak Berarti Apa-Apa: Jejak Langkah 60 Tahun Taufiq Kiemas (2002), yang disunting Panda Nababan.

Pada akhirnya sejarah dan alam mempertemukan keduanya pada Juli 1971. Ketika itu Taufiq, yang diajak Guntur Soekarnoputra berziarah ke makam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, ikut mampir ke kompleks perumahan TNI-AU di Madiun. "Saat itulah pertama kalinya saya berkenalan dengan Taufiq," demikian tutur Megawati. Saat itu Megawati sudah sendiri lagi setelah enam bulan sebelumnya pesawat Skyvan yang dikemudikan suaminya jatuh ke laut di sekitar Pulau Biak, Papua, Januari 1971. Surindro dan awak lainnya dinyatakan hilang saat bertugas. Perkenalan Taufiq dan Mega itu berlanjut menjadi jalinan asmara. Mereka menikah dengan resepsi sederhana di Panti Perwira, Jalan Prapatan, Jakarta Pusat, Maret 1973. Sebuah bukti betapa jitunya "ramalan" Taufiq yang dikatakan kepada Adjis.

Tentu bukan hanya karena ia "sekadar" suami Megawati, peran pemilik nama asli Tastafvian Kiemas ini terasa makin signifikan dalam memuluskan jalan sang istri ke pemilu putaran kedua. Taufiq Kiemas adalah kunci utama terbentuknya Koalisi Kebangsaan, yang melibatkan PDIP, Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Damai Sejahtera, yang dideklarasikan 19 Agustus 2004. "Ide koalisi itu sudah dibangun lama. Bahkan, sebelum PDIP memutuskan menggandeng Hasyim Muzadi sebagai wakil presiden, Pak Taufiq sudah membangun komunikasi secara intensif dengan seluruh partai," ujar Tjahjo Kumolo, Ketua Fraksi PDIP di DPR, kepada Tempo.

Itu sekali lagi membuktikan betapa mahirnya Taufiq membaca arah tiupan angin. Maklum, pada pemilu legislatif April lalu, PDIP hanya berada di posisi kedua dengan meraih 18,53 persen suara. Jumlah itu melorot jauh dari perolehan 33 persen suara pada Pemilu 1999. Artinya, dengan hanya meraih 109 dari 550 kursi di DPR, posisi banteng bermoncong putih ini masih sangat rentan, terutama dibandingkan dengan pesaing terkuatnya, Partai Golkar, yang meraih 21,58 persen suara dengan 128 kursi. Artinya, bila terjadi mekanisme voting dalam pengambilan sebuah kebijakan di parlemen, PDIP bakal takluk dalam sekali tepuk.

Tapi, dengan membentuk Koalisi Kebangsaan, dari empat partai saja sudah terkumpul 307 kursi karena PPP memberi kontribusi 58 kursi dan PDS menyumbang 12 kursi. Tjahjo Kumolo malah sudah menghitung adanya 325 kursi sebagai tambahan dari ikutnya PNI Marhaenis, Partai Nadlatul Ummah Indonesia, dan Partai Pelopor dalam barisan koalisi. "Ini akan sangat membantu pemerintah dalam kebijakan politik untuk kepentingan rakyat," ujar mantan Ketua Umum KNPI kurun 1985-1993 yang pernah menjadi anggota DPR RI dari Golkar selama satu dekade (1987-1997) itu.

Dengan merapatnya Golkar, Taufiq menghendaki agar koalisi itu bersifat permanen. "Kalau (koalisi) enggak (permanen), susah," ujarnya seusai pidato kenegaraan presiden di Gedung DPR/MPR, 16 Agustus.

Ia tak cuma menebar angan. Kepiawaian diplomasi penyandang gelar adat Datuk Basa Batuah dari kaum leluhur ibunya di Tanah Datar, Sumatera Barat, itu memberinya jalan keluar yang dibutuhkan: Taufiq meminta maaf kepada kader dan simpatisan Golkar yang selama ini terlibat dalam bentrok berdarah dengan konstituen PDIP, seperti di Bali tahun lalu. "Kami, elite, telah saling memaafkan sehingga Koalisi Kebangsaan ini merupakan cermin rekonsiliasi nasional hingga ke akar rumput," ujarnya optimistis.

Namun, problem tak cuma teronggok di parlemen. Hasil pemilu presiden putaran pertama yang diikuti lima calon presiden juga tak kalah mengecewakan kubu PDIP. Megawati hanya merebut posisi kedua (26 persen) di bawah Susilo Bambang Yudhoyono, yang melejit dengan 33 persen suara. Di mana kekeliruannya? "SBY harus berterima kasih pada Taufiq," ujar pengamat politik Denny J.A., mengacu pada pernyataan kontroversial Taufiq yang mengatakan "Jenderal kok berlaku seperti anak kecil". Menurut para pengamat, pernyataan ini justru melambungkan popularitas Yudhoyono dalam sekejap.

Taufiq Kiemas memang pendukung utama istrinya. Tetapi, beberapa pengamat asing maupun Tanah Air sering mengungkap pula bahwa dia bisa menjadi asset tapi sekaligus liability dalam karier politik Megawati. Bahwa gerak-geriknya lebih merakyat, dibandingkan dengan Megawati yang tampak berjarak, mungkin lebih membantu. Ayah tiga anak yang disebut sebagai "Megawati's man" oleh majalah Far Eastern Economic Review ini tak sungkan menikmati nasi bungkus seraya mengobrol dengan siapa saja di pom bensin. Tetapi, mengingat latar belakangnya sebagai pengusaha jauh sebelum istrinya duduk di takhta kepresidenan, tak mengherankan jika Megawati sendiri merasa perlu mengumpulkan seluruh keluarga dan keluarga suaminya saat dia sudah "menuju puncak", agar jangan menyalahgunakan posisinya. Ini penting, mengingat betapa gawatnya anak-anak (mantan) Presiden Soeharto berkecimpung di dunia bisnis semasa kekuasaannya.

Percikan antara Taufiq dan pejabat formal istana macam Menteri Sekretaris Negara Bambang Kesowo, yang cukup terbuka, juga menunjukkan bahwa Taufiq—sebagai suami Presiden—harus bersitegang dengan pejabat formal dalam istana hanya karena soal "pengaruh" pada sang Presiden. Untuk beberapa saat, Taufiq menyatakan sebaiknya Menteri Sekretaris Negara dijabat orang dari PDIP.

Harus diakui, pada bulan-bulan terakhir, ketika polling Megawati melorot di bawah angka perolehan Yudhoyono, Taufiq semakin sering melakukan silaturahmi politik dengan Aa Gym, tokoh-tokoh NU, dan MUI. Ia bahkan mengadakan pertemuan tertutup dengan kalangan bupati dan wali kota se-Jawa Barat serta menggelar pertemuan dengan konstituennya. Taufiq, yang sempat berpesan secara terbuka kepada Megawati di awal pemerintahannya—bahwa tak ada lagi jalan mendaki kecuali jalan menurun—tampaknya masih berharap jalan menurun itu belum terjadi tahun ini.

Menarik disimak, dalam biografi Jejak Langkah 60 Tahun Taufiq Kiemas, Kolonel (Purn.) Abihasan Said—sahabat ayahnya, Tjik Agus Kiemas, dan sekaligus mentor politik Taufiq—berkisah tentang Taufiq. Syahdan, setelah lama tak bersua, Taufiq sowan dan berkata: "Om, saya mau kawin sama anak Bung Karno, Megawati." Serta-merta Abihasan terkejut. "Kau kawin ini karena cinto atau politik?" ujar Abihasan. "Dua-duanya, Om. Ya cinto, politik juga," kata Taufiq.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data