Pasukan Komando dari Cikeas Inilah wajah tim sukses Susilo Bambang Yudhoyono: gado-gado, hangat, dan taat komando. |
Matahari pagi masih malas menyinari kompleks Puri Cikeas Indah, Desa Nagrak, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Kamis pekan lalu. Jarum jam menunjukkan pukul 6. Dari depan sebuah rumah di kompleks itu terdengar jeritan sirene. Sebuah mobil Toyota Alphard biru B-909-YS melesat dikawal voorrijder dan beberapa kendaraan pengawal.
Ini saatnya untuk bekerja. Susilo Bambang Yudhoyono dan timnya pagi itu seperti kilat menuju panti asuhan yatim piatu di kawasan Kampung Makassar, Jakarta Timur. Wartawan Tempo yang mendapat janji bertemu dengan Yudhoyono pagi itu tergopoh-gopoh mengikuti dari belakang. "Pak SBY biasa keluar jam segini," kata tukang ojek yang mangkal di depan kompleks rumah Yudhoyono.
Yudhoyono memang bukan tipe orang yang senang berleha-leha. Pada hari ulang tahunnya yang ke-55 itu ia bergegas: selesai ke panti asuhan, ia pulang untuk melakukan rapat dengan anggota timnya dan menerima wawancara wartawan televisi. Dari sana, ia ke Bogor untuk menghadiri tiga seminar buat melengkapi syarat kelulusan sebagai doktor ilmu pertanian.
Siangnya, ia menerima ucapan selamat ulang tahun dari sekitar seribu orang di rumah. Mendengar berita peledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia, ia meluncur ke Rumah Sakit MMC untuk kemudian ke Hotel Hilton meresmikan pameran foto dan lukisan. Malamnya, ia menghadiri ulang tahun Partai Demokrat yang digelar di Istora Senayan. "Pak SBY itu kayak mesin. Staminanya luar biasa," kata Indra S. Budiyanto, koordinator pengamanan Yudhoyono.
Fisik boleh prima, jadwal pun boleh padat, tapi tanpa dukungan tim sukses yang kuat tak mungkin sukses bisa dicapai. Dulu, sebelum pemilu putaran pertama, beberapa kali bentrokan acara terjadi. Ketika itu, SBY tampak gemas. Gesekan antar-personel tim pun beberapa kali terjadi.
Menjelang putaran kedua, ia merombak struktur tim suksesnya menjadi lebih ramping dan tertata. Intinya, beberapa hal prinsip diputuskan SBY, sedangkan detail didelegasikan kepada anggota tim. "Kalau saya pikirkan dan selesaikan sendiri, kan, bisa jebol (saya) nanti," katanya.
Di lapangan, tak semua memang selalu rapi. Tempo, yang berniat memotret dan mewawancarai anggota tim sukses SBY, awalnya cuma mendapat lambaian tangan. "Selama tidak ada perintah Bapak, kami tidak mau," kata Mayjen Purnawirawan Irvan T. Eddyson, koordinator staf pribadi Yudhoyono. Anggota tim yang terbiasa bergaul dengan pers umumnya lebih rileks. Di antaranya calon wakil presiden Jusuf Kalla, mantan Duta Besar Republik Indonesia di Rusia Rahmat Witoelar, Ketua Umum Partai Demokrat Prof. Dr. Subur Budhisantoso, serta mantan Sekretaris Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Letjen Purnawirawan Sudi Silalahi.
Tongkat komando ada di tangan komandan. Ketika Yudhoyono menyetujui timnya dipublikasikan, semua orang lingkaran dalam SBY tunduk perintah. Ketegangan pun cair. Istri Yudhoyono, Kristiani Herrawati, dengan ramah bercerita tentang kesenangan suaminya. Irvan Eddyson, yang biasanya dingin dan miskin komentar, mendadak sumeh dan bersedia diwawancarai panjang-lebar. Hal yang sama terjadi pada mantan fungsionaris PDI Perjuangan Heru Lelono dan Mayjen Purnawirawan Djali Yusuf, mantan Panglima Komando Operasi Aceh.
Yudhoyono dikelilingi orang dari berbagai kalangan. Selain militer seperti Irvan, Djali, dan Sudi, di sana ada Denny J.A. (pengamat politik), Dr. Joyo Winoto (ekonom IPB dan Ketua Brighten Institute), Heri Sebayang dan Aan Sapulete (aktivis mahasiswa), Muhammad Lutfi (pengusaha), Usamah Hisyam (wartawan dan aktivis PPP), dan Yusron Ihza Mahendra (bekas wartawan), juga sekitar 1.000 orang lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia. Yusron dalam tim dijuluki "Ketua Dewan Suro". "Artinya Dewan Suka Merokok," kata adik kandung Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Yusril Ihza Mahendra itu seraya tergelak.
Akankah tim gado-gado ini menjadi pembisik bagi Yudhoyono kelak? Mampukah sang calon presiden mengatasi kalangan dekat yang beragam dan berpotensi saling sikut untuk mendapat posisi dari sang kandidat presiden? "Decision is upon me," kata SBY dalam wawancara dengan Tempo pasca-pemilu April lalu. Kini ia memperkuat tekadnya: "Salah kalau mengira jalan pikiran SBY bisa dipengaruhi oleh pendekatan A, pendekatan B, pembisik C, pembisik D," katanya yakin. Yudhoyono optimistis, sejarahlah yang akan membuktikannya.
|