Joy, Sang Idola Hanya dalam waktu 42 jam, Joy Destiny Tobing menyelesaikan album solo perdana sebagai pemenang Indonesian Idol. Siapkah dia maju ke World Idol? |
Inilah jadwal seorang idola. Tanggal 3 September dia "berkampanye" melawan saingannya dengan menyanyi beberapa lagu. Tangga 4 September, melalui result show, dia dinobatkan sebagai Indonesian Idol yang pertama. Tanggal 22 September nanti album solo debutannya dirilis. Cuma dalam rentang waktu 18 hari, mereka yang telah memilihnya sebagai idola sudah dapat mendengarkan suara Joy Destiny Tiurma Tobing, 24 tahun, dalam bentuk kaset dan CD. "Capek, capek banget. Tapi dibawa fun aja," ujarnya tertawa kecil.
Tidak tanggung-tanggung, Joy seperti berbalap untuk menyebarkan "Joy to the world". Album bertajuk Terima Kasih itu mengusung lagu Karena Cinta, ciptaan Glenn Fredly, sebagai single perdana. Lagu lain yang bakal cepat akrab di telinga publik adalah Sobat, nomor populer dari kelompok Padi, yang diaransemen ulang oleh Tohpati dalam tempo lebih lambat. Ini memang proses kilat. Seluruh album selesai hanya dalam 14 shift rekaman alias sekitar 42 jam. Buset.
"Untung, Joy sudah punya pengalaman di studio rekaman," tutur Syanne Susita, Project Officer Indonesian Idol yang juga menjabat manajer promosi internasional BMG Indonesia, perusahaan rekaman yang akan mengedarkan album ini. Sebelumnya, bersama 10 finalis Idol lainnya, suara Joy sudah bisa didengar lewat album Indonesian All Time Hits yang juga diproduksi BMG Indonesia.
Pengalaman Joy yang dimaksudkan Syanne itu memang tergolong luar biasa untuk diskografi seorang penyanyi amatir: ia sudah merilis 13 album rohani dan etnis (Tapanuli). "Kalau di masyarakat Batak sih, nama keluarga kami sudah dikenal," ujar putri sulung pasangan Jamarudud M.L. Tobing dan Roma Intan Sibuea yang sudah berani tampil menyanyi di hadapan umum sejak berusia lima tahun itu. "Sejak masih bayi, kalau saya nangis, cukup diputarkan lagu pasti diam," katanya menyebut cerita sang mama.
Sadar akan bakat sang anak yang besar, Jamarudud menyuruh Joy les vokal di Pranajaya mulai kelas 4 SD. Kursus itu dilakoninya sampai ia kelas 6 SD. "Papa saya dulu sopir taksi, tapi dia rela supaya anaknya maju. Demi anak, yang namanya susah itu enggak ada," ungkap Joy dengan nada bangga. "Mama saya pontang-panting mengantarkan saya les dan sekolah," ujarnya (lihat majalah Tempo Edisi 26, rubrik Layar: Song of Joy). Hasilnya kemudian dipetik sekarang. Selain Joy, adik bungsunya Jelita Tobing juga mulai dikenal publik karena berhasil menjadi finalis 12 besar Akademi Fantasi Indosiar (AFI) 3.
Tapi luasnya pengalaman dan belasan album itulah yang hampir "mengganjal" kehadiran Joy di Indonesian Idol. Beberapa pihak sempat cocomeo alias rewel dengan pengalaman Joy yang sudah terlalu "tebal" untuk ukuran penyanyi baru. Maklum, Joy memang pernah menjadi juara Cipta Pesona Bintang ketika baru berusia 14 tahunsebuah acara yang juga ditayangkan RCTIselain terbiasa menyanyi di panggung internasional seperti di Shanghai dan Tokyo, serta sebagai juara lomba karaoke internasional. Tapi RCTI dan Fremantle Media, sebagai pemegang hak lisensi siar, tetap bergeming. Status keabsahan Joy sebagai finalis tak pernah diutak-atik, sampai ia ditahbiskan menjadi Indonesian Idol pertama, Sabtu dua pekan lalu. Selain mendapat kesempatan membuat album solo, ia juga akan mewakili Indonesia di World Idol, ajang yang mempertemukan para pemenang acara Idol di berbagai negara, tahun depan. Ingat, di sana dia akan bertanding dengan semua juara dari puluhan negara lainnya. Puluhan suara emas lainnya. Jadi, yang dipersoalkan kini bukan lagi suara yang keluar jalur atau tetek bengek teknis lagi, melainkan lebih pada keunikan penampilan dan suara.
Untuk itu tak ada salahnya mendengar saran Trie Utami, "Mrs. Pitch Control" di AFI, yang lama mengenyam pengalaman sebagai penyanyi pop maupun spesialis festival. "Vokal Joy cukup baik, powerful, namun masih kurang berwarna," katanya. Ia menyarankan agar Joy dan para pembimbingnya di Indonesian Idol lebih mengeksplorasi warna vokal, ketimbang rentang suara, karena tren suara menggelegar yang menguasai panggung-panggung festival sudah berlalu. "Tipe menyanyi demo itu sudah jarang saya saksikan di festival dunia," kata Trie Utami.
Mantan vokalis grup ethnic jazz Krakatau itu menambahkan, gaya "menyanyi demo" itu membutuhkan keterlibatan emosi yang tinggi, sehingga kalau tidak hati-hati sangat mudah terjungkal dalam meniti nada alias out of tune. "Kalau Joy bisa membereskan persoalan ini, saya kira dia berpeluang menjadi 'tukang laundry politik' alias mencuci nama Indonesiayang sudah centang-perenang di mata dunia," ujarnya berharap.
Soal cuci-mencuci, biarlah itu urusan politisi dan diplomat. Urusan Joy dan panitia adalah berlatih dengan baik agar bisa melawan idola dari negara-negara lain.
Akmal Nasery Basral
|