Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 29/XXXIII/13 - 19 September 2004
   
Arsip

TEMPO, 12 Maret 1988

Pada era Orde Baru, pemilu digelar untuk memilih wakil rakyat di DPR dan MPR. Kelak dari para wakil rakyat inilah akan dipilih calon presiden dan wakilnya melalui Sidang Umum MPR. Kala itu, seorang presiden adalah mandataris, penerima mandat, dari MPR.

Pada masa iklim politik Orde Baru itu, tak ada satu pun fraksi di MPR yang meragukan penetapan Soeharto sebagai kepala negara. Dalam Laporan Utama Tempo ketika itu, tidak ada keraguan memilih Soeharto setelah lima fraksi menemui Soeharto di Istana Negara.

Untuk presiden, persoalan sudah beres. Yang tinggal adalah siapa bakal wakil presiden. Untuk hasil Pemilu 1987, dua fraksi, yakni Fraksi Karya Pembangunan (FKP) dan Utusan Daerah (FUD), mengusung nama Sudharmono—Menteri-Sekretaris Negara. Pencalonannya didukung Fraksi ABRI. Fraksi PDI bersikap tidak mendukung atau mencalonkan nama. PDI memperkuat calon yang diusung FKP dan FUD.

Lain lagi Fraksi Persatuan Pembangunan. Mereka punya jago sendiri: Jailani Naro. Naro akhirnya tersingkir. Yang terpilih adalah Sudharmono.

Mekanisme tersebut tidak berlaku dalam Pemilu 2004: pemilihan umum pertama yang memilih presiden secara langsung. Nama calon presiden dan wakil presiden diusung partai, yang menurut ketentuan berasal dari partai yang lolos syarat undang-undang (jumlah perolehan suaranya di atas 5 persen). Alhasil, dua pasang calon—hasil seleksi sebelumnya—Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi dan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, bertemu di babak ”final” pemilihan presiden.

Kondisinya pun berbeda. Dulu, presiden dan wakilnya dipilih oleh MPR. Kini, rakyat memilih langsung. Diperlukan kerja keras tim untuk menarik simpati massa agar calon presiden yang dijagokannya benar-benar menuju kursi di Istana.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data