Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 29/XXXIII/13 - 19 September 2004
   
Album

K.G.P.H. Hangabehi, 56 tahun

Keraton Surakarta punya raja baru lagi. Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (K.G.P.H.) Hangabehi Jumat pekan lalu dinobatkan menjadi Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Putra laki-laki tertua Pakubuwono XII dari istri ketiga, G.R.Ay. Pradapaningrum, itu mendapat gelar lumayan panjang: Sahandhap Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwono Senapati Ing Alaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Ingkang Jumeneng Kaping Tigawelas Ing Kratondalem Surakarta Hadiningrat.

Penobatan Gusti Behi—demikian raja baru itu sebelumnya biasa disapa—berlangsung dengan penjagaan ketat. Seluruh jalan masuk menuju kompleks keraton dijaga ratusan orang berseragam hitam-hitam.

Prosesi jumenengan (pengukuhan) diawali pengukuhan Gusti Behi sebagai putra mahkota dengan bersumpah di depan Krobongan Ndalem Prabayusaya (kamar penyimpan benda pusaka keraton).

Ritual ini sekaligus menobatkan dia menjadi putra mahkota bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamangkunegara Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram. Dari sini, prosesi dilanjutkan dengan berjalan menuju Siti Hinggil, ruangan luas di bagian depan keraton tempat penobatan itu dilakukan.

Pelantikan Gusti Behi menjadi Pakubuwono XIII dilakukan oleh K.G.P.H. Haryo Mataram, satu-satunya putra lelaki PB X yang masih hidup. Pelantikan itu ditandai penyematan bintang Suryawasesa, bintang kebesaran raja. Namun, karena bintang Suryawasesa yang asli masih disimpan di Ndalem Ageng yang dikuasai G.K. Ratu Alit, keluarga kerajaan yang berpihak ke Tedjowulan, bintang yang disematkan hanya berupa duplikat.

Dengan pelantikan ini, kini Keraton Surakarta memiliki dua raja. Sebelumnya, akhir Agustus lalu, K.G.P.H. Tedjowulan juga memproklamasikan diri sebagai PB XIII. Hanya, pelantikan Tedjowulan dilaksanakan di luar keraton.



”Kemampuan dan kualitas seluruh jajaran intelijen negara sudah bekerja secara maksimal.”

—Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), A.M. Hendropriyono, Kamis pekan lalu, membantah tudingan bahwa intelijen tidak bekerja secara maksimal sehingga tak mampu mengantisipasi peledakan bom di depan Kedutaan Besar Australia, Kamis, pekan lalu.

”Meski belum menggunakan Undang-Undang Pers, saya berharap kasus Tempo berakhir dengan kemenangan kebebasan pers, bukan sebaliknya.”

—Calon wakil presiden Hasyim Muzadi, Selasa pekan lalu, berharap pengadilan menerapkan Undang-Undang No. 40/1999 tentang Pers sebagai undang-undang khusus untuk menyelesaikan perkara hukum yang berkaitan dengan pemberitaan.



TEMPO DOELOE

13 September 1993

Israel dan Palestina menandatangani perjanjian damai di Gedung Putih, Amerika Serikat. Dengan perjanjian ini, kedua negara sepakat membagi wilayah sepanjang tepian Sungai Jordan dan Laut Mediterania.

14 September 1812

Sepekan setelah menang dalam pertempuran berdarah melawan pasukan Rusia dalam palagan Borodino, Napoleon memimpin pasukan Prancis masuk ke Ibu Kota Moskow. Tapi yang mereka temukan adalah kota yang sudah kosong karena ditinggal mengungsi, sementara tentara Rusia sudah mundur.

15 September 1964

The Sun, tabloid ”lher” Inggris, terbit untuk pertama kalinya. The Sun diterbitkan untuk mengganti tabloid Daily Herald, yang tidak laku. Dalam edisi perdananya, pemimpin redaksi The Sun menjanjikan tabloidnya akan menjadi tabloid radikal dan independen, tidak seperti Daily Herald yang lebih condong ke Partai Buruh.

16 September 1982

Ratusan pria, wanita, dan anak-anak pengungsi Palestina di kamp Sabra dan Chatila dibantai oleh milisi Kristen Libanon, hanya beberapa hari setelah tentara Israel menduduki wilayah itu.

17 September 1978

Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin menandatangani perjanjian damai Camp David di Gedung Putih, disaksikan Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter. Tahun itu pula Sadat dan Begin mendapat hadiah Nobel Perdamaian.

18 September 1961

Dag Hammarskjold, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, tewas dalam kecelakaan pesawat di Zambia saat dalam perjalanan tugas ke Kongo.

19 September 1955

Presiden Argentina, Juan Domingo Peron, digulingkan dalam sebuah kudeta militer. Peron kemudian diasingkan ke Spanyol, memimpin gerakan ”Peronis”.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Soekarwo Dekati PGRI - 07 Sep 2008 | 18:42 WIB
Tarif PDAM Bojonegoro Naik 50 Persen - 07 Sep 2008 | 18:38 WIB
PT Sarana Tanggapi Surat Petani Super Toy HL-2 - 07 Sep 2008 | 18:34 WIB
Hanya Enam Parpol di Malang yang Penuhi Kuota Perempuan - 07 Sep 2008 | 18:33 WIB
Tiket Kereta Bojonegoro-Jakarta Ludes Terjual - 07 Sep 2008 | 18:25 WIB
Begini Rasanya Menjadi Pegawai Pertama Google - 07 Sep 2008 | 18:18 WIB
Pusat Perbelanjaan di Semarang Mulai Ramai - 07 Sep 2008 | 18:10 WIB
Soekarwo Dekati Persatuan Guru Republik Indonesia - 07 Sep 2008 | 18:02 WIB
Presiden Buka Puasa di Kediaman Ketua DPD - 07 Sep 2008 | 17:51 WIB
Indonesia Diminta Garap Energi Iran - 07 Sep 2008 | 17:29 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data