"Saya Tak Ada Niat Bertemu Mahathir" |
Ketukan palu itu tiba-tiba saja melontarkan Anwar Ibrahim ke suatu masa silam: rumah yang nyaman penuh buku di Bukit Damansara; istrinya, Wan Azizah Ismail, beserta keenam anak mereka; para sahabat lama dan handai taulan; kepenuhan hak seorang warga Malaysia terhormat. Dan tentu saja, kepada kebebasan yang tak lagi dicecapnya sejak masuk bui pada 1998.
Di dalam ruang sidang Mahkamah Persekutuan di Putrajaya, Kuala Lumpur, Kamis pekan silam, kebebasan itu dipulihkan kepada Anwar, mantan Deputi Perdana Menteri Malaysia, melalui sidang pengadilan sepanjang 165 menit. Ketua Majelis Hakim Datuk Hamid Muhammad memberinya vonis bebas terhadap dakwaan kasus sodomi. Selepas sidang, Anwar bersowan kepada Pak Tua—begitu ia menyebut ayahnya—di Kajang, Selangor, dan bersimpuh di makam ibunya sebelum kembali ke rumahnya di Jalan Setia Murni I No. 8, Bukit Damansara, kawasan elite yang asri di jantung Kuala Lumpur.
Enam tahun Anwar menghabiskan waktu di Penjara Sungai Buloh untuk tuduhan korupsi. Kurungan badan itu mematrikan bekas yang bisa disaksikan dengan mata telanjang. Koresponden TEMPO di Malaysia, T.H. Salengke, yang hadir di rumah Anwar pada Kamis lalu, melukiskan begini: "Anwar kelihatan amat kurus. Lehernya dibalut plastik, perutnya dililiti kain khusus guna menjaga keseimbangan leher dan tulang punggung yang cedera. Dia didorong di atas kursi roda. Namun, Anwar terus-menerus mengulas senyum kepada tamu yang menyesaki rumahnya."
"Saya amat bersyukur karena telah bebas," ujarnya kepada TEMPO via saluran telepon internasional. Dia segera menambahkan: "Tuduhan sodomi kepada saya tidak terbukti. " Ribuan manusia memadati lingkungan rumahnya saat Anwar kembali. Mereka menyalaminya, sekadar menatapnya dari jauh, serta menyimak "ceritera dari penjara" yang dia ucapkan dengan penuh emosi selama 15 menit. Ali Rachman, 50 tahun, seorang warga kota yang ikut datang untuk menyambut Anwar, menatap TEMPO dengan perasaan meluap-luap, lalu berkata: "Saya amat gembira wira negara (warga negara) seperti dia telah bebas."
Dunia bebas yang kini dijejaki Anwar Ibrahim adalah, mengutip The Economist, "menandai fase baru pergolakan politik Malaysia". Boleh jadi benar. Tapi mungkin juga pergolakan itu telah mereda bersama berlalunya periode yang menghembalangkan Anwar Ibrahim dari panggung politik: perseteruan dengan bekas atasannya, mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad.
Dalam wawancara dengan TEMPO di Bandung pada Februari lalu (lihat TEMPO 15 Februari 2004), Mahathir membantah perkaitan dirinya dengan prahara yang menimpa Anwar Ibrahim: "Saya memberikan banyak kebebasan kepada Datuk Seri Anwar sebelum dia berkasus. Ketika kemudian terjadi kasus, di mana moral adalah alasan utamanya, saya tak bisa apa-apa."
Retaknya Mahathir-Anwar memang berita besar di masa itu karena pertautan mereka pernah begitu mesra. Malaysia dan sedikitnya para tetangga di regional Asia Tenggara di era sebelum 1998 praktis menganggap Anwar adalah "calon putra mahkota". Mahathir tidak membantah: "Saat itu saya betul-betul percaya dia akan menjadi pengganti saya," ujarnya kepada Tempo.
Toh kongsi itu hanya bertahan sampai 2 September 1998. Pada hari itu, Mahathir melucuti semua jabatan wakilnya dengan alasan moral. Satu hari kemudian, keanggotaan Anwar dalam UMNO (United Malays National Organization) dicopot. Pada 20 September tahun itu ia ditangkap di rumahnya dengan tuduhan korupsi dan kejahatan seksual.
Ditahan beberapa hari di Markas Besar Kepolisian Bukit Aman, Anwar keluar dari sana dengan wajah benjut-benjut, mata kiri menghitam, leher dan kepala luka parah. Di pengadilan pada 29 September 1998, Anwar mengaku disiksa oleh polisi. Toh, itulah siksa yang memberi blessing di satu sisi: para penyokong reformasi Malaysia dan mereka yang merindukan pembaharuan memujanya sebagai bintang reformasi. Ribuan manusia berdemo di jalanan Kuala Lumpur menentang penahanan Anwar Ibrahim.
Dari dalam penjara, ayah enam anak ini menulis kepada Tempo: "Penahanan, pengadilan, dan hukuman saya adalah semata-mata hasil skenario para konspirator di bawah arahan Dr. Mahathir." Pendapat itu tetap dipegangnya hingga bebas. "Saya yakin semua keputusan itu sudah diatur. Itulah yang terjadi bila orang berbeda pendapat dengan dia (Mahathir—Red.)," ujarnya pekan silam. Toh, bekas Deputi Perdana Menteri itu mengaku tak menaruh dendam kepada mantan bosnya.
Apa yang akan dilakukan Anwar Ibrahim di masa yang nanti? Apakah dia akan kembali ke dunia politik? Sehari setelah keluar dari penjara, Anwar Ibrahim memberikan wawancara khusus kepada wartawan TEMPO Endah W.S. melalui telepon internasional. Berikut ini petikannya.
Dato' Anwar, apa yang mula pertama terlintas di benak Anda tatkala melangkah keluar dari penjara?
Saya amat bersyukur telah bebas. Yang pertama kali saya lakukan adalah mengunjungi rumah Pak Tua (sebutan Anwar bagi ayahnya—Red.), lalu bersimpuh di makam ibu saya. Dari sana, barulah saya pulang ke rumah.
Dalam hemat Anda, apakah ada semacam motivasi politik dari pemerintah Malaysia dalam pembebasan Anda?
Ya. Beberapa hari sebelumnya sudah mendapat sinyal. Pemerintah Badawi punya semacam keberanian untuk mengambil keputusan. Seharusnya keputusan itu diteruskan dengan pembebasan tahanan politik lain. Masih banyak yang mendekam di penjara. Nama-nama mereka yang telah dizalimi harus dipulihkan. Tapi, sudahlah....
Apakah ada pembicaraan langsung dengan Perdana Menteri Abdullah Badawi setelah atau sebelum Anda dibebaskan?
Tidak ada. Tapi, setelah saya bebas, menantunya, Heri, datang mengunjungi saya. Dia mengirimkan salam dari Abdullah Badawi. Dia juga yang membantu agar urusan paspor saya dapat disegerakan agar saya bisa secepatnya berangkat ke Jerman untuk berobat. Tadi (Jumat siang, 3 September—Red.).
Anda sudah ke kantor imigrasi?
Ya, registrasi elektronik harus dilakukan di sana. Begitu sampai di sana, kawan-kawan lama yang bertemu saya menangis gembira. Suasana pengurusan dokumen imigrasi jadinya amat mengharukan, ha-ha-ha….
Pernahkah Anda atau keluarga memendam nazar khusus jika kebebasan Anda terpenuhi?
Secara khusus tidak ada. Tapi saya harus membayar semua utang waktu saya yang diambil selama saya mendekam di penjara. Enam tahun tidaklah sebentar.
Bagaimana Anda melewatkan malam pertama bersama keluarga setelah enam tahun?
Saya tidak bisa tidur semalaman karena kami semua berkumpul menghabiskan waktu, saling melepas rindu.
Anda dipenjara di masa Mahathir Mohamad berkuasa. Apakah Anda menaruh dendam pada bekas atasan Anda itu?
Saya tidak menaruh dendam. Saya menganggap semuanya sudah berlalu. Ada semacam resistansi dari dia bahwa saya tetap bersalah. Dia masih mengecam saya bersalah atas kedua tuduhan yang dilekatkan pada saya. Dan itu tetap saya rasakan dalam keputusan hakim yang tidak bulat. Saya rasa hakim-hakim itu masih mendapat semacam tekanan dari dia.
Apakah Anda punya niat bertemu dengan Mahathir?
Tidak. Saya tak ada niat bertemu dia. Ah.., tapi sudahlah. Tapi pagi ini kakak ipar beliau datang mengunjungi saya. Namanya Datuk Sri Zaleha Ali. Dia datang untuk memberi dukungan kepada pembebasan saya.
Mahathir, dalam wawancara dengan kami di Bandung pada Februari lalu (TEMPO Edisi 15 Februari 2004), menegaskan bahwa alasan utama penahanan dan hukuman terhadap Anda adalah moral.…
Tidak. Saya yakin semua keputusan sudah diatur. Inilah yang terjadi kalau orang berbeda pendapat dengan dia (Mahathir—Red.). Dan saya tetap berpendapat demikian. Tuduhan saya melakukan sodomi toh tidak terbukti. Hasil pemeriksaan dokter terhadap diri Sukma (saudara angkat Anwar—Red.) tidak terbukti.
Bagaimana dengan kasus korupsi?
Itu hanya laporan yang dibuat oleh polisi tapi saya yakin bahwa saya tidak bersalah.
Kami banyak mendengar kabar bahwa Anda menderita siksaan fisik selama di penjara. Apakah benar demikian?
Ya, itu terjadi di awal penahanan saya. Mata saya ditutup, tangan saya dicambuk, badan saya dipukuli. Saya menderita dalam gelap dan menunggu dikunjungi dokter selama empat hari lamanya.
Berapa lama Anda menderita siksaan seperti ini?
Siksaan itu berhenti setelah (pemerintah Malaysia—Red.) mendapat tekanan dari dunia. Saat itu saya mendapat dukungan dari banyak kawan, termasuk dari kawan-kawan di Indonesia. Terima kasih untuk TEMPO, yang terus menjaga pertalian (keep in touch) dengan saya sejak tahun 1999. Setelah (berbagai dukungan mengalir—Red.) saya tidak terlalu mendapat tekanan fisik lagi. Tahun-tahun terakhir, mereka cukup baik memperlakukan saya.
Siapa saja yang diperbolehkan menemui Anda selama di penjara?
Hanya istri dan anak saya. Itu pun hanya seminggu sekali. Pak Tua (ayah Anwar Ibrahim) tidak diperbolehkan menjenguk saya.
Mei 1999, TEMPO mewawancarai Anda secara tertulis. Dan Anda mengirimkan berlembar-lembar jawaban dengan tulisan tangan dari penjara. Apakah Anda memang punya kebiasaan membuat catatan selama berada dalam bui?
Ha-ha-ha…, ya saya ada membuat catatan. Mungkin nantinya akan saya terbitkan sebagai buku. Kalau Goenawan Mohamad menulis Catatan Pinggir, saya nanti akan membuat semacam Catatan Penjara.
Tentang rencana ke depan nanti. Apakah Anda berniat terjun lagi ke dunia politik?
Apa yang saya bicarakan dengan Anda saat ini kan politis (Anwar Ibrahim tertawa).
Maksud kami, apakah ada kemungkinan Anda akan aktif lagi di Parti Keadilan?
Oh, kalau itu, saya belum tahu. Rencana terdekat saya adalah menjalani operasi pengobatan dulu.
Apakah penyakit itu Anda dapatkan di penjara?
Secara tidak langsung iya. Ada bagian dari tulang punggung saya yang rusak dan harus dibedah. Nama penyakit ini spinal stenosis.
Anda akan menjalani pengobatan di Jerman?
Ya. Saya berangkat besok pagi (Sabtu, 4 September—Red.). Keterangan dokter menyatakan sekurang-kurangnya saya harus menjalani pengobatan selama satu bulan.
Apa rencana Anda setelah kembali ke Malaysia nanti?
Saya belum tahu. Tapi, yang pasti, saya akan berkunjung ke Indonesia, menemui kawan-kawan lama saya yang selama ini mendukung saya.
Malaysia telah berganti pemimpin saat Anda di penjara. Menurut Anda, apa perbedaan dasar antara pemerintah Abdullah Badawi dan Mahathir Mohamad?
Sebenarnya sedikit sekali perbedaannya. Sistem hukum dan undang-undang yang ada masih terasa amat kejam dalam hal kebebasan berpendapat. Masih banyak ratusan tahan politik yang ditahan. Bahkan orang-orang yang dituduh teroris ditahan tanpa ada bukti yang jelas. Orang-orang masih ditahan lebih karena perbedaan politik mereka, bukan karena bukti bahwa dia bersalah. Tapi saya juga bisa katakan pemerintah Badawi bersedia lebih lunak dan sopan dalam melakukan serangan, terutama dalam mahkamah pengadilan.
Tapi, bukankah ada kemajuan? Setidaknya dalam kasus Anda?
Untuk ini, saya amat bersyukur karena dalam kasus saya segala bukti-bukti saya masih diperiksa untuk membuktikan bahwa saya tidak bersalah. Begitu tidak ada bukti bersalah, saya dibebaskan. Ini membuktikan bahwa hakim-hakim yang ada di mahkamah pengadilan cukup adil.
Apakah soal Internal Security Act (Akta Keamanan Dalam Negeri— yang dapat dipakai oleh pemerintah Malaysia untuk menahan siapa saja yang dianggap mengancam keamanan negara) akan menjadi agenda perjuangan Anda berikutnya?
Belum tahu. Saya belum memikirkan ke sana.
Omong-omong, apa posisi yang akan Anda tempati di Parti Keadilan nanti bila Anda sudah kembali aktif di partai?
Ini juga masih dibicarakan. Saya sudah berbicara dengan ketuanya, termasuk dengan Azizah (Wan Azizah, istri Anwar Ibrahim—Red.). Saya juga sudah berbicara dengan anggota lain, termasuk sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang ada di dalam partai. Tapi, lebih jelasnya, nanti saja sepulang saya dari Jerman.
Anwar Ibrahim
Tempat dan Tanggal Lahir:
Pendidikan:
- Malay College, Kuala Kangsar (1960-1966)
- Malay Studies, University of Malaysia, Kuala Lumpur (1967-1971)
Beberapa Jejak Penting:
- Bergabung dengan United Malays National Organization (UMNO), 1982
- Wakil Presiden UMNO, 1986
- Menteri Keuangan Malaysia, 1991
- Deputi Perdana Menteri Malaysia, 1993
- Dipecat dari semua jabatan dan keanggotaan UMNO, September 1998
- Ditahan dan dipenjarakan, September 1998
- Bebas, September 2004
|