|
Kawasan Pelabuhan Tanjung Priok punya cerita heboh. Ribuan ikan dengan kepala menghitam, mata menguning, dan perut merah mengambang mati. Kabar pun meluas: ikan di Teluk Jakarta mati keracunan. Dan penggemar ikan pun ngeri.
Semula, tak jelas apa penyebab bencana itu. Belakangan ada dugaan ikan-ikan mati karena laut tercemar logam berat, khususnya merkuri dan aluminium. Versi lain penyebab matinya ikan kemudian muncul, ikan itu mati gara-gara bom ikan, dinamit.
Mana yang benar? Meizar B. Syafei, peneliti lingkungan, ketika itu sudah punya data. Ia telah meneliti air di Teluk Jakarta sejak 1979. Dari data yang ia miliki, Syafei yakin ikan itu mati gara-gara keracunan logam berat. Ia juga menduga penderita keracunan logam berat di Teluk Jakarta sama dengan korban keracunan merkuri di Teluk Minamata, Jepang, antara tahun 1953 dan 1960. Ia lalu mengundang Prof. Masazumi Harada, yang melakukan penelitian Minamata. Hasilnya: tingkat keracunan merkuri di Teluk Jakarta jauh lebih kecil.
Hasil penelitian Departemen Kependudukan dan Lingkungan Hidup tidak menunjukkan adanya cedera pada ikan akibat ledakan. Yang tersisa adalah keracunan kimiawi. Ditemukan natrium dan fenol yang kadarnya jauh lebih tinggi dari normal. Sayang, sumber pencemaran belum diketahui.
Kehebohan yang mirip terjadi di Teluk Buyat, Minahasa, selama dua bulan belakangan. Tapi di sini tak banyak ikan mati mengambang. Yang ada, ikan benjol-benjol dan orang-orang di sana yang menderita berbagai penyakit kulit.
Puncak kehebohan adalah kesimpulan tim gabungan bahwa pencemaran Buyat terjadi karena aktivitas PT Newmont. Benarkah Newmont memang bersalah?
|