Riswandha Imawan, 49 tahun |
Profesor. Inilah gelar yang sejak Sabtu 4 September lalu berhak disandang ahli ilmu politik, Dr. Riswandha Imawan. Melalui pidato ilmiah berjudul ”Partai Politik Indonesia: Pergulatan Setengah Hati Mencari Jatidiri,” hari itu Riswandha dikukuhkan sebagai guru besar ilmu politik Universitas Gadjah Mada.
Dalam pidatonya, Riswandha menyebut partai politik yang ada di Indonesia tidak punya jati diri. Padahal berkali-kali partai-partai politik memperoleh momen untuk menjadi partai yang mandiri dan independen. ”Namun mereka menolak dan memilih berada di bawah kungkungan eksekutif,” kata dia.
Riswandha mengaku agak telat memperoleh gelar guru besar. Mestinya gelar itu sudah dia pakai beberapa tahun lalu. Segala persyaratan untuk meraih gelar itu sudah ia miliki, termasuk menulis sejumlah karya ilmiah. ”Tapi saya malas mengumpulkan semua persyaratan. Maka inilah risikonya, terlambat,” ujar mantan Direktur Program Studi Pascasarjana Ilmu Politik UGM tersebut. Selain menjadi dosen di UGM, Riswandha menjadi dosen luar biasa di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Di kalangan rekan-rekannya, pria kelahiran Bangkalan, Madura, 17 Januari 1955, ini tidak hanya piawai sebagai ilmuwan, tapi juga dikenal sebagai penggila gunung. Setiap kali ada kesempatan, ia akan pergi ke gunung. Yang paling kerap ia daki adalah Merapi, Yogyakarta.
Hampir semua gunung di Indonesia pernah ia taklukkan, termasuk Puncak Jaya. Saat ia mengambil gelar master dan doktor di Northern Illinois University, AS, hobi ini tak juga dia lepas. Ia pernah mencapai puncak bersalju George Smith, California, dan Mount McCanles, Alaska. ”Dengan naik gunung, kita bisa mendapat sudut pandang yang tak bisa didapat orang lain,” kata Riswandha. Sudut pandang tak biasa itulah yang menjadi bekalnya dalam menganalisis masalah politik.
”Saya tidak melihat urgensi kepemilikan rudal itu selain untuk kepentingan agresi.”
— Anggota Komisi Pertahanan DPR, Djoko Susilo, Senin pekan lalu, ketika menyatakan kekecewaannya terhadap rencana pemerintah Australia mengembangkan sistem peluru kendali jelajah jarak jauh.
”Ibarat pesawat terbang, bangsa Indonesia saat ini pada posisi turbulence, gonjang-ganjing. Maka pejabat negara jangan coba-coba iseng atau ceroboh menciptakan suasana yang justru menimbulkan gesekan-gesekan di masyarakat.”
— Ketua Panitia Pengawas Pemilihan Umum Pusat Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Kamis pekan lalu, meminta agar PDI Perjuangan dan Partai Golkar bermain jujur pada pemilihan presiden 20 September mendatang.
TEMPO DOELOE
6 September 1972
Sembilan atlet Olimpiade Israel tewas saat pasukan khusus Jerman Barat mencoba membebaskan mereka dari penyanderaan oleh kelompok gerilyawan Palestina. Ikut tewas dalam insiden di Munich, Jerman Barat, ini lima penyandera dan seorang anggota pasukan khusus.
7 September 1977
Presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter, menandatangani pakta penyerahan kontrol atas Terusan Panama kepada diktator Panama, Omar Torrijos.
8 September 1945
Pasukan Amerika mendarat di Korea untuk mengawasi bagian selatan negeri ini. Sebulan sebelumnya, pasukan Uni Soviet sudah menduduki bagian utara Korea. Inilah awal Perang Korea yang kemudian memecah negeri semenanjung itu menjadi negara Korea Utara dan Korea Selatan.
9 September 1976
Mao Ze Dong, pemimpin negeri komunis Cina, wafat. Lahir tahun 1893, Mao adalah bapak komunis negeri Cina dan berkuasa di negeri itu sejak 1949.
10 September 1981
Guernica, salah satu karya besar pelukis Pablo Picasso, dipulangkan ke Kota Guernica, Spanyol. Lukisan ini menggambarkan episode perang saudara yang berlangsung di negeri itu.
11 September 1971
Mantan pemimpin Partai Komunis Uni Soviet, Nikita Khrushchev, meninggal.
12 September 1977
Steve Biko, salah satu pemimpin gerakan anti-apartheid di Afrika Selatan, meninggal dalam tahanan polisi. Pemuda 30 tahun ini tewas setelah melakukan aksi mogok makan selama tujuh hari di tahanan.
|