Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 21/XXXIII/19 - 25 Juli 2004
   
Opini

Demi Tiga Juta Peternak

Puluhan kontainer daging selundupan menumpuk di pelabuhan. Pelakunya perlu dibui dan dagingnya dimusnahkan.

Bayangkan, suatu hari Anda sekeluarga menyantap bakso saat menikmati hari libur. Lalu, beberapa jam kemudian, terpaksa bermalam di rumah sakit karena keracunan makanan. Atau, yang lebih mengerikan, bertahun-tahun kemudian dikebumikan dengan jaringan otak yang rusak karena dimakan virus sapi gila. Tentu ini sebuah mimpi buruk yang, mudah-mudahan, tak akan pernah menjadi kenyataan.

Harapan agar tak mengalami keracunan makanan atau menderita penyakit sapi gila ini tentu tak cukup hanya berdasarkan doa atau mudah-mudahan belaka. Upaya pencegahan harus kita lakukan, termasuk oleh pemerintah. Itu sebabnya departemen pertanian, kesehatan, dan perdagangan setiap negeri selalu waspada membuat kebijakan untuk melindungi rakyatnya. Termasuk mencegah kemungkinan masuknya segala penyakit dari negara lain.

Sayang sungguh sayang, tak semua pejabat republik ini menjalankan tugas itu dengan sungguh-sungguh. Puluhan kontainer berisi daging yang tak aman disantap, yang kini menumpuk di Pelabuhan Tanjung Priok, adalah contoh kelalaian itu?atau bahkan penyalahgunaan kekuasaan. Bahkan beberapa kontainer di antaranya sempat masuk pasar kendati pada bungkus dagingnya jelas-jelas tertulis "hanya untuk keperluan farmasi, bukan untuk dikonsumsi manusia."

Beruntung ada anggota masyarakat yang bertindak dan melaporkan soal ini kepada aparat yang berwenang. Daging ilegal asal India dan Amerika Serikat itu malah ada yang telah dimusnahkan, sekitar sepuluh kontainer. Anehnya, masih puluhan lain dibiarkan menumpuk, mungkin karena pemiliknya berbeda dan mengaku punya hubungan dekat dengan kalangan yang berkuasa. Bahkan ada upaya untuk mengekspornya.

Upaya ini jelas tak bertanggung jawab. Polisi seharusnya segera menangkap para penyelundup daging ini dan memberkasnya, tak hanya karena mereka melakukan tindak pidana penyelundupan, tapi juga lantaran menyebarluaskan makanan yang patut diduga beracun. Tentunya termasuk para orang kuat yang membantu kegiatan ini.

Adapun daging yang ada harus segera dibakar habis dan biayanya dibebankan pada para penyelundup tadi. Bila hal ini tak segera dilakukan, kemungkinan ada yang lolos ke pasar lokal akan membesar. Ini berbahaya sekali, tak hanya bagi para penyantap daging, tapi juga bagi sekitar tiga juta peternak di Indonesia. Maklum, daging asal India dikhawatirkan membawa virus penyakit mulut dan kuku, yang bila menyebar di negeri ini akan berakibat jutaan sapi harus dimusnahkan.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data