Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXXIII/05 - 11 Juli 2004
   
Teater

Panggung Gelap, tanpa Kata

Pementasan teater tanpa dialog dan musik pengiring. Pernah dipentaskan di arena festival teater di Tokyo, Jepang.

Panggung itu pekat, senyap. Tak ada pelita kecuali tiga titik sinar merah temaram, berkejaran. Kadang menyatu, kadang bertebaran ke sudut-sudut ruang. Setelah sepuluh menit bersilangan kian kemari, tiga titik sinar itu berubah wujud menjadi satu cahaya. Kini, segala yang di panggung menjadi lebih transparan: dua lelaki bercawat, bertelanjang dada, dan seorang perempuan dalam busana ketat warna hitam. Mereka tak berkata-kata.

Perempuan yang terlihat samar lekuk tubuhnya dalam pentas teater berjudul Z di gedung Japan Foundation, Jakarta, pekan lalu itu terus memutari panggung. Ia tengkurap dan bergerak laksana lintah mencari darah. Dua lelaki yang menatapnya berjingkat-jingkat seperti kera. Suara yang meluncur dari mulut mereka tak ubahnya suara kera sedang berburu makanan. Lalu, tiga manusia ini saling tatap, sebelum merebut lampu senter yang menyala di tengah panggung.

Lakon Z yang dimainkan Teater Ruang itu adalah potret sosial yang hiruk-pikuk tentang keseharian manusia mempertahankan hidup. Mereka bisa saling menyingkirkan agar kebutuhan dan hasrat terpenuhi. Tak jarang pula harus berjibaku menyabung nyawa di tengah belantara. Dalam situasi tak terduga, sifat hewani manusia tiba-tiba muncul. Segala tingkah tak ubahnya laku binatang yang digerakkan oleh naluri, bukan oleh hati dan nalar. Akibatnya, hukum rimba "siapa kuat dia menang, siapa kalah jadi pecundang" menjadi pilihan.

Hidup dengan hukum rimba selalu saja menelan korban. Dan malam itu, sama seperti masa-masa sebelumnya, perempuan adalah korban. Joko Bibit, sutradara pementasan, meracik ketidakberdayaan dalam adegan ketika si perempuan diseret-seret. Pementasan Z cuma mengandalkan akting tiga pemain tanpa dialog. Panggung berlatar kain hitam dibiarkan bersih tanpa hiasan dan ornamen. Selama satu jam pertunjukan, ruangan benar-benar gelap karena lampu senter di panggung satu-satunya pelita yang menyala. "Kita tidak ingin bergantung pada aksesori panggung," kata Joko Santoso yang dikenal sebagai Joko Bibit ini.

Teater yang berdiri di pinggir Sungai Kaliwingko, Solo, pada 1994 ini memang menitikberatkan pada olah tu-buh dalam setiap pementasannya. Lakon Z malah pernah dipentaskan dalam arena Physical Theater Festival ke-5 di Tokyo, Jepang, November tahun lalu. Gerakan tubuh diproyeksikan sebagai pengganti dialog karena, "Tidak semua persoalan harus disampaikan dengan kata-kata," tuturnya. Pada satu sisi, mungkin ada benarnya. Paling tidak, pola ini bisa mengatasi kendala bahasa seperti saat tampil di Jepang itu.

Namun, tak semua pernik hidup bisa disampaikan dengan bahasa tubuh saja. Dialog, meski sepatah dua patah kata, tetap diperlukan. Sebenarnya lakon Z akan lebih menggigit jika pada beberapa bagian penting kata-kata bisa disertakan. Tak melulu membisu dan hanya mengandalkan gerakan. Apalagi jika akting pemain di panggung cuma bisa dilihat secara samar-samar. Penonton tak bisa menikmati mimik wajah mereka. Padahal, dari ekspresi wajah pemain, kita jadi tahu apakah si aktor sedang terbakar berahinya atau justru muak saat menyeret si perempuan.

Memang Joko berusaha menampilkan persoalan yang paling mungkin disampaikan lewat bahasa tubuh. Lakon yang dimainkan—perempuan sebagai korban problem sosial—kelewat "besar" untuk ditampung dalam permainan panggung sesingkat itu. Sepanjang pementasan, si perempuan cuma jadi si teraniaya di tangan laki-laki yang terus memburunya. Bahkan dalam kondisi tak berdaya sekalipun. Namun, lagi-lagi kita jadi tak tahu respons korban. Apakah merasa menderita, sedih, atau memang kekerasan itu sesuatu yang wajar saja.

Yang patut dicatat juga adalah pilihan judul yang cenderung ajaib. Tak jelas di mana korelasi antara judul dan tema persoalan sosial yang diangkat. Huruf ini konsonan terakhir dalam huruf latin. Bisa juga "zet", yang artinya belatung. Atau "zat", bagian terkecil materi. "Tergantung bagaimana kita menafsirkannya," kata alumni UNS Solo dan salah satu pendiri Teater Ruang ini. Meski begitu, Z tetap menyisakan pesan. Panggung teater tak mesti gemerlap oleh hiasan panggung dan pemain yang cantik rupawan. Asal tema dan akting menawan, siapa saja akan datang menontonnya.

Arif Firmansyah


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data