Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 19/XXXIII/05 - 11 Juli 2004
   
Nasional

Rekomendasi Lonjong dari Mampang

PKS menyerukan konstituennya mendukung Amien Rais. Menanti bayanaat kedua.

DENGAN hati berbunga-bunga, Amien Rais berkunjung ke Kantor Pusat Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Rabu sore pekan lalu. Begitu menjejakkan kaki ke halaman kantor, Ketua Umum Partai Amanat Nasional itu menyambut ajakan salat magrib berjamaah dengan para petinggi PKS. Di Masjid Istikmal di belakang kantor itu, Amien didapuk menjadi imam.

Bagaimana Amien tak senang. Siangnya, dalam konferensi pers yang dihadiri puluhan wartawan, Presiden PKS, Hidayat Nur Wahid, mencanangkan rekomendasi PKS agar warganya memilih pasangan calon presiden-wakil presiden Amien Rais-Siswono Yudho Husodo dalam Pemilu Presiden 5 Juli. Menurut Nur Wahid, keputusan itu bersifat mutlak. "Bukan kader PKS namanya kalau enggak patuh," katanya.

Semula para petinggi Partai ingin PKS konsisten tidak ikut cawe-cawe dalam urusan pemilihan presiden. "Kita lebih baik memperkuat parlemen," kata anggota Majelis Pertimbangan Partai (MPP), Mashadi, ketika itu. Tujuannya, menjaga citra PKS sebagai partai bersih sekaligus mematok investasi politik. Diharapkan, pada Pemilu 2009 pemilih PKS bertambah.

Tapi tarikan agar PKS mendukung calon presiden lain cukup kuat. Dukungan 8,3 juta suara di pemilu legislatif memang mengesankan. Berbagai upaya pendekatan pun terjadi. Misalnya, sehari setelah Wiranto unggul dalam Konvensi Partai Golkar, Murakib Aam PKS Ustad Hilmy Aminuddin, Sekretaris Jenderal PKS M. Anis Matta, dan beberapa petinggi PKS menemui Wiranto. Amien pun mengajak Nur Wahid memperkuat Poros Penyelamatan Bangsa.

Semula, keputusan Partai akan dikeluarkan pada akhir April. Kemudian diundur awal Juni, tapi molor lagi. Rupanya pembahasan cukup alot. Tapi, akibat berlarut-larutnya keputusan, pendukung PKS mulai gerah. "Kalau milih Wiranto, saya keluar dari PKS," kata seorang aktivis perempuan PKS di Jakarta Selatan. Di beberapa daerah, bendera PKS pun sudah bermunculan dalam kampanye Amien Rais.

Karena desakan dan pertanyaan konstituen itu, pekan lalu Majelis Syuro PKS menggelar musyawarah. Menurut Sekretaris Jenderal PKS, M. Anis Matta, Majelis Syuro hanya memilih empat nama karena Presiden Megawati Soekarnoputri telah dianggap gagal memimpin negeri. "Namun, dari keempat kandidat, tak satu pun anggota yang memilih Yudhoyono," ujarnya usai mendampingi konferensi pers Nur Wahid, Rabu lalu.

Musyawarah yang diikuti 54 anggota Majelis Syuro itu berlangsung seru. Pembahasan berkisar pada figur Amien dan Wiranto. Kedua kubu saling melontarkan argumentasi berdasarkan dalil agama maupun fakta lapangan. Kata Anis, ia mendukung Wiranto karena calon ini memiliki figur kepemimpinan kuat, dan kemungkinan menangnya lebih besar. "Leadership Pak Wiranto lebih bagus daripada Pak Amien," ujarnya.

Kedekatan keluarga Wiranto maupun Salahuddin Wahid dengan PKS, menurut Anis, juga menjadi pertimbangan. Maklumlah, kedua anak dan menantu Wiranto adalah kader dan simpatisan PKS. Begitu pula salah satu anak Gus Sholah. "Jadi, hubungan kami memang sudah cukup lama, dalam arti hubungan dakwah," kata Anis.

Tapi suara mendukung Wiranto akhirnya tertinggal jauh. "Inilah hasil terbaik yang bisa kami putuskan," kata Ketua Majelis Syuro, Ustad Rahmat Abdullah. "Rekomendasi itu mematahkan dugaan tentang politik uang yang diberikan Wiranto," Anis menimpali. Uniknya, sehari kemudian MPP PKS mengeluarkan putusan susulan yang terkesan mementahkan rekomendasi.

Dalam seruan bertajuk Bayanaat alias penjelasan, kesan itu muncul pada penjelasan butir pertama. Di situ disebutkan, "bagi kader dan struktur organisasi PKS di kawasan-kawasan dakwah yang mengalami kesulitan menerapkan rekomendasi tersebut, dipersilakan memilih alternatif yang memungkinkan terpeliharanya maslahat dakwah."

Namun Ustad Rahmat mencoba meluruskan. Menurut dia, seruan itu terutama ditujukan untuk daerah konflik seperti Maluku dan Sulawesi Tengah. "Ini semata-mata untuk kemaslahatan dakwah," katanya. Bahkan, menurut dia, PKS akan menyiapkan bayanaat kedua untuk lebih menjernihkan persoalan. Amien mengaku siap menerima apa pun yang terjadi, termasuk soal "lonjong"-nya dukungan PKS. "Takdirlah yang menentukan," ujarnya.

Hanibal W.Y. Wijayanta


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
28/XXXVII/01 - 7 September 2008

 

Berita lainnya

Pertamina Akan Impor Tabung Gas Elpiji - 05 Sep 2008 | 15:54 WIB
PGRI Awasi Penggunaan Anggaran Pendidikan - 05 Sep 2008 | 15:53 WIB
Yudhoyono Terima Gubernur Bali dan Kalimantan Barat - 05 Sep 2008 | 15:48 WIB
Swasta Dominasi Proyek Listrik Tahap Dua - 05 Sep 2008 | 15:46 WIB
Polisi Sita 3,5 Kilogram Ganja - 05 Sep 2008 | 15:45 WIB
Malaysia Bakal Deportasi Pengungsi Tsunam - 05 Sep 2008 | 15:42 WIB
BP Solar Jual Pembangkit Tenaga Surya - 05 Sep 2008 | 15:41 WIB
Minyak Tanah Subisidi Dijual Lewat Operasi Pasar - 05 Sep 2008 | 15:36 WIB
Pengungsi Lapindo Mulai Tinggalkan Pasar Baru Porong - 05 Sep 2008 | 15:36 WIB
Soal Masa Jabatan, Presiden Tunggu Kapolri Pulang Umroh - 05 Sep 2008 | 15:33 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data