|
Kesabaran para aktivis gerakan penyeru anti-narkoba hampir habis. Ketika dunia se-dang memperingati Hari Antimadat Sedunia pada 26 Juni 2004 ini, Indonesia semakin terpuruk dengan kasus narkoba yang jumlahnya makin menggunung. "Penjara kita sekarang dipenuhi narapidana kasus narkoba," kata Joice J. Gordon, pendiri panti rehabilitasi pecandu narkoba Yayasan Harapan Permata Hati Kita.
Meningkatnya jumlah pecandu narkoba ini adalah penyakit kronis yang sudah menahun. Dua puluh tahun lalu, polisi kita sudah disibukkan masalah ini. TEMPO Edisi 24 September 1983 pernah menulis laporan utama tentang meluasnya jaringan para pengedar barang haram itu. Sudah banyak yang ditangkap, tapi jaringan penjual narkoba itu malah semakin luas. Dalam berbagai penelusuran TEMPO, jaringan para pedagang narkoba saat itu persis seperti siluman yang tidak ketahuan mana ujung rambut dan mana pangkal kakinya.
Anggota sindikat bandar itu ada yang bersosok tante-tante muda yang sering beroperasi di hotel mewah, bar, atau klub malam. Mereka datang dari berbagai latar belakang: ada yang janda bintang film, istri seorang pejabat terkenal di Bea dan Cukai di masa itu, istri pemain band. Tante muda itu sering menjadi langganan pecandu morfin. Para wanita molek itu punya jaringan kuat hingga ke Thailand.
Aksi para bandar itu bahkan sudah persis seperti di film-film mafia narkoba di Amerika Serikat. Mereka berani main bunuh. Polisi sebenarnya sudah berusaha memasang perangkap untuk orang-orang kunci. Rupanya, rencana penangkapan itu bocor duluan. "Begitu kami merencanakan untuk menangkap, mereka sudah lebih dahulu dihabisi," ujar seorang polisi. Sindikat narkoba rupanya sudah sangat berkuasa.
|