Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 17/XXXIII/21 - 27 Juni 2004
   
Pendidikan

Konversi 'Bukan untuk Konsumsi Publik'


ISTILAH konversi menjadi populer di dunia pendidikan dalam sepekan terakhir. Akibat konversi, ratusan ribu siswa yang nilainya jeblok diluluskan dari ujian akhir nasional (UAN). Namun, ribuan lainnya merasa kecewa karena nilai mereka yang kinclong harus melorot.

Menurut Departemen Pendidikan, konversi ini dipakai karena mereka membuat 30 paket soal yang berbeda untuk UAN. Perbedaan ini dikaitkan dengan keragaman kemampuan akademik siswa di daerah tertentu. Pemerintah menyediakan paket soal dengan tingkat kesulitan lebih rendah bagi sekolah-sekolah di kawasan timur Indonesia dibandingkan dengan sekolah di Pulau Jawa. Untuk Jakarta saja, ada tiga paket soal dengan tingkat kesulitan yang beragam.

"Dengan tabel konversi ini, justru lebih adil," kata Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Departemen Pendidikan, Bahrul Hayat. Melalui konversi, hasil UAN dapat dibandingkan secara linier dalam skala baku yang bersifat nasional. Sebab, nilai seseorang dapat langsung dibandingkan dengan nilai orang lain yang menggunakan paket soal yang berbeda. Sehingga, jika ada nilai yang diturunkan, itu karena paket tersebut termasuk dalam kategori soal yang mudah.

Bahrul meyakinkan bahwa paket soal dalam satu sekolah pasti sama. Sehingga, tidak mungkin nilai seorang siswa dinaikkan, sementara lainnya diturunkan. Terjadinya kontroversi kali ini ada kemungkinan karena siswa meraba-raba sendiri skor mentahnya, lantaran dalam laporan tidak ada laporan skor mentah. Padahal, bisa jadi karena jawaban tidak jelas sehingga tidak terbaca di pemindai komputer.

Pemerintah melakukan konversi ini sejak sembilan tahun lalu, dengan tujuan untuk seleksi dan sertifikasi. Selain itu, ia digunakan sebagai bahan masukan bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan pengendalian mutu di tingkat sekolah, daerah dan nasional.

Mengapa diam-diam? "Proses konversi skor tidak untuk konsumsi publik, karena tidak mudah memahami bahasa statistiknya," alasan Bahrul.

Agung Rulianto, Rina Rachmawati


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data