Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 15/XXXIII/07 - 13 Juni 2004
   
Ekonomi dan Bisnis

Demi Nilai Tambah

DIREKTUR Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BNI), Sigit Pramono, sama sekali tak menyangkal BNI ingin "memanfaatkan" PT Bank Permata Tbk. melalui proposal merger yang diajukannya. Bankir yang pernah memimpin PT Bank Internasional Indonesia Tbk. itu terang-terangan mengatakan salah satu tujuan merger adalah penciptaan nilai lebih bagi BNI. "Semua investor asing yang membeli bank di Indonesia menginginkan hal yang sama. Kenapa itu dipersoalkan?" tuturnya kepada M. Teguh dan Y. Tomi Aryanto dalam wawancara khusus di kantornya, Jumat malam pekan lalu.

Mengapa Permata yang diincar?

Karena kebetulan Permata yang mau dijual. Ini kami lihat sebagai kesempatan bagi perbankan nasional melakukan konsolidasi. Sebelumnya, meskipun itu tidak salah, yang mendapat manfaat dari proses divestasi adalah bank-bank asing. Kalau sekarang ada bank nasional yang berminat, apa salahnya?

Dengan mengambil Permata, BNI dinilai hanya mau enaknya saja. Anda mengincar bisnis retail mereka?

Memang itu salah satu tujuan merger ini. Wajar, kan, karena Permata bagus di bisnis konsumer dan kredit kecil-menengah, sementara kami kuat di korporasi. Butuh lima atau sepuluh tahun bagi BNI membangun sampai begitu. Melalui merger, kami akan langsung memilikinya. Saya tanya balik, apa tujuan para investor asing yang membeli bank-bank kita selama ini? Sama dengan kami, yaitu menciptakan nilai. Kalau itu disebut mau enaknya, ya, betul.

Jika yang membeli BNI, berarti tidak ada uang tunai yang masuk ke pemerintah?

Justru itu anggapan yang salah. Memang benar kami tidak bayar tunai. Tapi, jangan salah, nantinya bank gabungan BNI dan Permata tetap akan didivestasi. Dari situlah pemerintah mendapat uang tunai dengan jumlah lebih besar dari yang didapat jika penjualan Permata dilakukan sekarang. Tambahannya bisa mencapai Rp 1,7 triliun.

Tapi waktunya tertunda, sementara pemerintah butuh tunai sekarang untuk menambal anggaran.

Paling cepat November. Tapi, kalau keputusannya bertele-tele seperti sekarang, memang bisa-bisa sampai 2005, dan target anggaran pendapatan dan belanja negara sekarang tidak tercapai. Namun, kalau kita bicara kepentingan negara, tahun ini dan tahun depan kan tidak ada bedanya. Yang penting nilai tambahnya ada.

Salah satu alasan manajemen Permata menolak merger adalah perbedaan kultur perusahaan.

Memangnya kalau yang beli Temasek Holding (Singapura) atau Kookmin Bank (Korea Selatan), kulturnya tidak berbeda? Lihat saja di bank-bank yang sudah dijual terdahulu. Mereka akan makin lelah. Yang pasti, akan lebih mudah kalau yang beli sesama bank nasional.

Mereka juga khawatir dengan kemungkinan pengurangan karyawan.

Tidak akan ada cabang yang ditutup, meskipun itu berimpitan dengan kantor BNI, karena memang fokus bisnis dan nasabah Permata berbeda. Kami juga sudah menyiapkan rencana pengembangan yang di dalamnya tidak akan terjadi pemutusan hubungan kerja.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data