Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 11/XXXIII/10 - 16 Mei 2004
   
Ekonomi dan Bisnis

Budi Setiadharma:

MODEL Toyota Kijang akan berubah total. Pabrikan Toyota sedang menggodok konsep Kijang terbaru melalui proyek Innovative Multipurpose Vehicle (IMV). Kabarnya, Kijang baru ini meninggalkan konsep produk lokal yang dikembangkan Astra selama ini. Untuk mengetahui persis masalah ini, TEMPO mewawancarai Budi Setiadharma, Presiden Direktur PT Astra International Tbk.?mitra lokal Toyota Motor Company?di kantornya, pekan lalu.

Kijang baru akan muncul dengan nama Innova?

Namanya Kijang saja. Proyek ini sedang dalam proses.

Jadi, merek Kijang tidak akan dihapus?

Kami ingin merek Kijang tetap ada, tetapi saya tidak apriori. Ada yang bilang Kijang bagus, tapi namanya jangan Kijang. Karena itulah sebagian orang membeli mobil CBU saingan Kijang. Namun penjualan Kijang tetap lebih besar daripada mobil impor atau mobil sekelas yang dibuat di sini. Saya harus melihat nilai tambahnya. Kijang baru dibuat di sini. Komponen lokalnya juga di sini, sebanyak mungkin. Kalau bisa memenuhi harapan masyarakat dengan harga terjangkau dan baik, produksi naik. Untuk itu, perlu tambahan investasi, tenaga kerja, dan mesin. Yang untung siapa, Republik Indonesia, kan?

Konsep produk baru ini seperti apa?

Kami ingin Indonesia menjadi salah satu basis produksi. Soal cita rasa pasti mengikuti perkembangan. Indonesia tidak bisa lepas dari lingkungan global. Kalau mencoba basis produksi ke negara lain, tentunya kami harus mencari win-win solution. Kalau tetap mempertahankan citra lokal, tetapi tidak bisa diterima pasar global, kami tidak bisa mengekspor. Sekarang pasar global, Astra juga diserang. Kalau kami pertahankan citra lokal terus, Kijang begini-begini terus, ceruk kami diambil terus, sedangkan nilai tambah ada di luar Indonesia.

Bagaimana konsep produk global itu?

Sewaktu kami melakukan survei pasar, konsumen ingin mobil yang tidak kotak-kotak. Kijang kapsul oke, tetapi bagaimana membuat model lebih manis, misalnya lampu harus lebih besar. Kalau cita rasanya global, kunci sukses lainnya adalah harga, kualitas, dan kepuasan pelanggan. Jadi, kebutuhan konsumen itu yang harus dicari.

Harganya tidak akan jauh dari model kapsul?

Murah itu relatif, terjangkaulah. Model ini inovatif, si cantik dari Astra. Mudah-mudahan jadi terobosan, sehingga bisa masuk ke pasar regional.

Dengan fokus ke distribusi seperti sekarang, apakah nilai Astra bertambah?

Saya yakin pada pasar Indonesia. Dengan penduduk 220 juta, prospeknya baik. Kami yakin, distribusinya masih baik, meski manufaktur tidak punya. Meski Astra tidak berperan signifikan di pabrikan, hanya di distribusi, kami yakin Astra mempunyai value tinggi.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
27/XXXVII/25 - 31 Agustus 2008

 

Berita lainnya

Elpiji Tidak Akan Naik Selama Puasa - 29 Ags 2008 | 20:48 WIB
Gadai Saham Bakrie Dianggap Wajar - 29 Ags 2008 | 20:33 WIB
Pemerintah Jamin Pasokan Kebutuhan Pokok menjelang Lebaran - 29 Ags 2008 | 20:32 WIB
Massa Gus Dur Demo KPU Jawa Timur - 29 Ags 2008 | 20:28 WIB
BI Siapkan Rp 77 Triliun untuk Lebaran - 29 Ags 2008 | 20:26 WIB
Kejaksaan Bojonegoro Periksa Staf Sekretariat Dewan - 29 Ags 2008 | 20:26 WIB
Puluhan Ribu Ton Gula Petani Tidak Laku - 29 Ags 2008 | 20:24 WIB
Lokalisasi Seks di Malang Tutup, Takut Diancam Banser - 29 Ags 2008 | 20:21 WIB
Lapangan Terbang Jember Dioperasikan Secara Komersil - 29 Ags 2008 | 20:18 WIB
Pindad Rancang Panser Canon - 29 Ags 2008 | 20:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data