Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 09/XXXIII/26 April - 02 Mei 2004
   
Ekonomi dan Bisnis

Bisnis Sepekan

Gubernur Demam Bandara

Demam membangun maskapai penerbangan yang belum lama ini menjangkiti beberapa pemerintah daerah rupanya terus "berbuntut". Para pimpinan daerah kini bernafsu membangun bandar udara.

Hasrat mereka terungkap dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Tingkat Nasional tahun 2004 di Gedung Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Jakarta, Senin hingga Jumat pekan lalu.

Beberapa pemerintah daerah seperti berlomba mengajukan anggaran dana ke pemerintah pusat untuk peningkatan sarana dan prasarana bandar udara di wilayah mereka. Alasannya, jumlah penerbangan dan penumpang dari dan menuju bandara tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun.

Gubernur Kalimantan Selatan Sjachriel Darham, misalnya, mengajukan anggaran Rp 100 miliar untuk peningkatan daya tampung terminal Bandara Syamsuddin Noor.

Sedangkan Kalimantan Timur minta dana lebih besar, sekitar Rp 470,88 miliar. Anggaran tersebut, kata Gubernur Kalimantan Timur Suwarna Abdul Fatah, untuk mengembangkan Bandara Sepinggan (Balikpapan), Juata (Tarakan), Kalimarau (Berau), Melalan Melak (Kutai Barat), dan Long Apung.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Irian Jaya Barat dan Jawa Tengah. Gubernur Irian Jaya Barat Abraham Atururi mengajukan rencana peningkatan fasilitas bandara di Rendani dan Manokwari, serta pelayanan udara perintis Sorong. Sedangkan Pemda Jawa Tengah mengajukan anggaran untuk memperpanjang landasan bandara Ahmad Yani dari 2.250 meter menjadi 2.850 meter.

Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Kwik Kian Gie memastikan keinginan daerah itu belum tentu semuanya dipenuhi. "Mereka boleh minta, tapi kalau uangnya tidak ada, bagaimana?"

Bunga Naik

Rupiah dan mata uang lainnya diperkirakan akan melemah terhadap dolar jika bank sentral Amerika Serikat (AS) jadi menaikkan suku bunga. Sinyal kenaikan tersebut disampaikan oleh Gubernur Bank Sentral AS, Alan Greenspan, dalam pidatonya di depan Komisi Perbankan Kongres di Washington, DC, Selasa pekan lalu.

Menurut Greenspan, beberapa hal yang selama ini menghalangi kenaikan suku bunga sudah tak ada lagi. Indeks harga konsumen sudah pulih. Begitu pula dengan ancaman deflasi, yang pada tahun sebelumnya sempat menjadi keprihatinan Amerika, kini sudah tidak lagi menjadi isu.

Meski para analis memperkirakan kenaikan baru akan terjadi pada Mei-Agustus, pasar ternyata bereaksi lebih cepat. Pidato Greenspan membuat dolar AS langsung menguat terhadap euro. Euro anjlok menjadi 1,1858 per dolar dari 1,2023 pada penutupan Senin waktu setempat.

Aksi spekulasi pembelian dolar AS di pasar uang global juga memicu tekanan terhadap mata uang utama dunia, seperti yen yang turun dari 107,79 ke 109,50. Mata uang Asia lainnya tak luput dari imbasnya. Rupiah bahkan anjlok beberapa puluh poin ke level 8.650 per dolar AS.

Meski demikian, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Anwar Nasution berpendapat rencana bank sentral AS tersebut tak akan banyak berpengaruh bagi Indonesia. BI juga tidak akan ikut menaikkan suku bunga, karena yang berlaku pada saat ini (6-7 persen) masih relatif tinggi dibandingkan dengan negara tetangga.

Rumah bagi Pekerja

Memiliki rumah tinggal yang layak merupakan impian bagi para pekerja di Tanah Air. Tidak lama lagi, impian itu menjadi kenyataan, setidaknya bagi 15 ribu pekerja.

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah dengan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi akan bekerja sama membangun 15 ribu unit rumah untuk pekerja.

"Jumlah ini relatif masih kecil. Seharusnya untuk pekerja di Indonesia dibutuhkan sekitar 50 ribu unit lagi untuk tahun ini," kata Menteri Permukiman Soenarno setelah penandatanganan nota kesepahaman pembangunan rumah pekerja dengan Menteri Tenaga Kerja Jacob Nuwa Wea, Kamis pekan lalu.

Saat ini masih banyak pekerja di Tanah Air, seperti di Tangerang dan Bandung, yang tinggal di rumah kontrakan enam meter persegi yang dihuni sampai empat orang. "Rumah itu sangat tidak layak ditinggali," kata Jacob.

Rumah bagi pekerja itu akan dibangun vertikal, mirip rumah susun. Pemerintah akan membantu penyediaan uang muka senilai Rp 7,5 juta per rumah melalui PT Jamsostek.

Tiga Bank Digabung

Penggabungan bank tampaknya bakal segera menjadi tren dalam industri perbankan Indonesia. Tahun ini tiga bank dipastikan akan bergabung.

Bank Indonesia (BI) sudah menyetujui rencana penggabungan PT Bank Pikko Tbk., PT Bank CIC International, dan PT Bank Danpac Tbk. "BI sudah mengeluarkan izin merger," kata Anwar Nasution. Deputi Gubernur Senior BI, Kamis, pekan lalu.

Yang masih ditunggu bank sentral, kata Anwar, realisasi pemegang saham pengendali untuk menambah modal sebagai salah satu komitmen kesediaan merger tadi. Ketiga bank tersebut dikendalikan oleh pemegang saham yang sama, yaitu Chinkara Capital Limited, milik pengusaha Robert Tantular.

Anwar menegaskan, penggabungan itu merupakan keinginan mereka sendiri, bukan karena paksaan atau tekanan dari BI. Selain ketiga bank tersebut, kata Anwar, bank-bank milik negara kemungkinan juga akan melakukan hal yang sama. "Sudah ada pembicaraan ke arah sana," katanya.

Surat Lunas Bisa Batal

Meski sudah mengantongi surat keterangan lunas, para pengutang kakap Badan Penyehatan Perbankan Nasional belum tentu akan bisa tidur nyenyak.

Soalnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) akan mengaudit pemberian surat tersebut. Jika hasil audit menunjukkan adanya penyimpangan, pemerintahan yang baru bisa menggugat dan membatalkannya.

Anggota Pembina Auditama BPK, Bambang Wahyudi, menjelaskan bahwa pembatalan surat lunas bisa dilakukan dengan cara membatalkan Instruksi Presiden No. 8 Tahun 2002 yang dijadikan pegangan BPPN dalam memberikan surat lunas.

Penegasan BPK ini berbeda dengan pernyataan mantan Ketua BPPN Syafruddin A. Temenggung bahwa pemerintahan baru harus menerima keputusan pemberian surat lunas. Alasannya, keputusan itu merupakan kebijakan satu pemerintahan yang sah. Pemberian surat utang lunas juga didasarkan atas ketetapan MPR, undang-undang, dan Inpres No. 8.

BPPN akan menyerahkan surat lunas kepada dua pengutang kakap, yakni Sjamsul Nursalim (mantan pemilik PT Bank Dagang Nasional Indonesia) dan Mohammad "Bob" Hasan (mantan pemilik PT Bank Umum Nasional), pada Senin, 26 April.

Sjamsul dinilai sudah menyelesaikan utangnya Rp 28,4 triliun, sedangkan Bob senilai Rp 5,341 triliun. Dengan demikian, total pengutang kakap yang sudah menerima surat lunas ada 21 orang.

Rekor Baru Indeks

Selasa pekan lalu indeks bursa saham Jakarta kembali memecahkan rekor. Indeks melonjak 26,02 poin (3,32 persen) menjadi 810,859, posisi tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia

Ini merupakan level psikologis baru, karena sebelumnya posisi indeks tidak pernah menyentuh angka 800. Diukur dari kenaikan indeks harian, lonjakan ini merupakan yang terbesar kedua sejak 21 Oktober 1999. Waktu itu indeks melonjak 32,065 poin (5,48 persen), menyusul respons positif pasar atas terpilihnya Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri menjadi presiden dan wakil presiden.

Para analis umumnya melihat lompatan indeks kali ini pun merupakan pencerminan tanggapan positif pasar terhadap situasi politik belakangan ini. Pemilihan umum yang aman adalah salah satu indikatornya.

Namun analis dan penasihat investasi PT Mega Akses Securities, Hendra Bujang, menduga kenaikan indeks karena intervensi pasar oleh pihak-pihak tertentu untuk mengangkat indeks saat berlangsung konvensi Partai Golongan Karya. "Jadi, seolah-olah pasar menyambut positif konvensi tersebut," katanya.

Sebenarnya, kata Hendra, pelaku bursa masih mencermati perkembangan peta politik yang terjadi di Tanah Air. "Yang terpenting bagi pasar adalah presiden terpilih nanti tidak membuat kebijakan aneh-aneh, diterima semua pihak, dan iklim investasi masih tetap kondusif."


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data