Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 09/XXXIII/26 April - 02 Mei 2004
   
Catatan Pinggir

Spion

Orang yang 18 tahun lamanya dipenjara itu?12 tahun di antaranya ia disekap dalam isolasi?menulis sajak, ditujukan kepada dirinya sendiri:

Ya, kau.
Kaulah agen rahasia rakyat. Kaulah mata bangsa.
Bung Spion, ceritakan apa yang kau lihat. Ceritakan apa yang disembunyikan
Orang-orang dalam itu, mereka yang pintar, ceritakan apa yang mereka
Sembunyikan?.

Sang terpidana itu memanggil dirinya "Bung Spion". Ia mengaku ia seorang mata-mata, tapi ia menjalankan tugas itu bukan untuk sebuah negeri musuh. Ia seorang "agen rahasia rakyat". Ia sepasang "mata bangsa".

Tapi benarkah demikian? Pada akhir September 1986, ia, Mordechai Vanunu, warga negara Israel, diculik oleh Mossad, dinas rahasia negeri itu, setelah ia ditipu agar datang ke Roma dari London. Ia dibius, diringkus, dan dibawa diam-diam dengan kapal laut kembali ke tanah airnya. Ia diadili secara rahasia, dan setahun kemudian dijatuhi hukuman 20 tahun, yang kemudian dipotong dua tahun. Ia dianggap bersalah karena ia, seorang juru teknik nuklir, dengan sengaja membongkar rahasia, menceritakan kepada dunia luar apa yang dilihatnya di tempatnya bekerja: bahwa Israel punya segudang senjata nuklir, disiapkan di Dimona, di Gurun Nejev.

Ia sejak itu tak dimaafkan. Ketika ia akhirnya keluar dari Penjara Shikma di Ashkelon pada 21 April yang lalu, Shimon Peres, tokoh Israel yang sering dikaitkan dengan gagasan "perdamaian", masih menganggap Vanunu telah "mengkhianati bangsanya".

Harian Haaretz membuat satu survei pendapat, dan menyimpulkan: hampir separuh khalayak Israel tak setuju Vanunu dibebaskan sekarang. Hampir seperempat dari mereka bahkan mengatakan agar Vanunu tak usah dilepas sama sekali. Departemen Pertahanan Israel menganggap orang yang telah menjalani hukuman ini tetap sebuah "ancaman keamanan". Catatan harian Vanunu di tahanan, katanya, menguraikan secara rinci keadaan tempatnya dulu bekerja di lokasi rahasia di Gurun Nejev. Para petugas telah menyita catatan itu, tapi gudang ingatan Vanunu masih utuh. Ia masih bisa mengungkapkannya lagi kepada dunia. Maka kata Menteri Kehakiman Israel, "Dia akan tetap kami awasi."

Vanunu, dengan kata lain, adalah musuh. Ia tak bisa sebenarnya mengklaim bahwa ia sepasang "mata bangsa". "Bangsa" yang dulu merupakan bagian hidup orang Yahudi kelahiran Maroko ini telah menolaknya. Orang Israel ternyata begitu cemas dan marah, hingga mereka menghalalkan perbuatan keji yang dilakukan untuk menyekap Vanunu?mulai dari melanggar kedaulatan negeri lain dengan menculik juru teknik nuklir itu di Italia, sampai pada tak membebaskan penuh seseorang yang seharusnya sudah merdeka.

Bagi Vanunu sendiri, tali itu akhirnya putus. Sejak tahun-tahun awal masa hukumannya ia telah tak merasa lagi bagian dari Israel. Ia mencoba menyesuaikan diri dengan ruang 3 x 2 meter itu, dan menjalankan "hidup dalam kubur". Dengan amarah yang tersimpan. Dalam sepucuk suratnya yang ia tulis dari sel, 10 tahun setelah ia disekap, ia mengatakan, "Banyak hal bersahaja yang aku tak ingat lagi dalam kehidupan tembok semen yang sangat biadab, brutal, dan kejam ini. Aku di penjara seperti seorang sandera, sebab mereka menculikku. [Tapi] aku harus lebih kuat dan yakin, seperti tahun pertama dulu. Jalan terus, dan tak tunduk kepada kekuasaan yang kotor...."

Di halaman Penjara Shikma, ketika ia dikeluarkan dari sel pada pukul 11 itu, ia memang tak tunduk. Ia disambut para simpatisannya, sebagian orang Inggris dan Amerika, para aktivis anti-senjata nuklir dan pendukung hak asasi. Tapi tak jauh dari sana, ada beberapa ratus orang Israel mencerca. Vanunu tetap bergeming "Kepada semua mereka yang menyebut saya pengkhianat," katanya, "saya bangga dan bahagia atas apa yang dulu saya lakukan."

Ia menolak berbahasa Ibrani. Ia memilih bahasa Inggris. Ia meninggalkan agama Yahudi. Ia masuk Kristen.

Apa arti sebuah ikatan?dan juga ingatan?jika asal dan latar belakang hanya berarti sebuah aliansi dusta, ketidakadilan, dan destruksi? Persoalan ini bukan baru, tentu.

Begitu keluar dari sel, Vanunu langsung menuju ke gereja, ke tempat imannya yang baru. Mungkin ia ingat: sekitar 2.000 tahun yang lalu di tanah Palestina itu Yesus juga dilempari batu di tanah kelahirannya sendiri. Kini, ketika Vanunu tampak melangkah ke luar halaman bui, orang-orang Israel yang membencinya berteriak, "Mati bagi dia!" seperti 2000 tahun yang lalu orang-orang Yahudi berteriak, ke arah rabi yang telah disiksa itu, "Salibkan dia!"

Pada momen seperti itu kesetiaan kepada kaum sendiri akan sama artinya dengan kebengisan kepada apa yang berharga di luar kaum sendiri. Tapi ada yang lebih luhur ketimbang puak. Ketika pada Oktober 1986 Vanunu datang ke London untuk mengungkapkan kepada The Sunday Times bahwa Israel memang menghimpun senjata nuklir, ia terdorong oleh sebuah keyakinan: Israel, seperti negara mana pun, tak boleh mempersiapkan kekuatan yang mengancam kehidupan itu.

Apalagi sebenarnya kekuatan itu sia-sia. Bom nuklir Israel tak akan berguna menghadapi bom bunuh diri, sebagaimana Amerika Serikat tak bisa mengalahkan Vietnam dan Uni Soviet tak bisa menjinakkan Afganistan. Keamanan, akhirnya, bukanlah soal persenjataan yang piawai.

Ada sesuatu yang tak kalah penting: tiadanya sikap sewenang-wenang. Pada zaman ketika Bush dan Blair menggebuk Irak yang ternyata tak punya senjata nuklir, tapi membiarkan dan mendukung Israel yang memilikinya, yang sewenang-wenang menang. Siapa kuat, dapat. Siapa memaksa, bisa. Siapa brutal, halal.

Maka dunia pun jadi padang pembantaian, dan manusia wadah kekejian. Sampai ketika kita teringat Vanunu. Dengan 18 tahun di penjara dan dengan jiwa yang tak terpatahkan, ia praktis menebus kembali kemampuan kita untuk melepaskan diri dari penghancuran.

Goenawan Mohamad


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data