Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXXIII/19 - 25 April 2004
   
Seni Rupa

Sebuah Transit di Taman Zen

Perupa Jepang Yoshie Mizuno mengangkat tema pencerahan dalam Zen Buddhisme. Memanfaatkan beras, kertas merang, bambu, benang, dan lilin.

Matahari baru saja meninggalkan sore, tapi 15 batang lilin di dalam gelas kaca di atas lingkaran beras putih seakan menolak pekatnya gelap. Di ruang pameran Bentara Budaya, Jakarta, pekan lalu, mereka memancarkan cahaya temaram dari balik o bon—sejenis cerobong dari kertas merang putih dengan bercak-bercak cokelat muda dan berhias huruf kanji hitam.

Sekilas, kaligrafi dalam instalasi berjudul Satori I (2003) itu mendekati bentuk sebuah kepala domba. Tapi, dari artis-kreator karya itu, Yoshie Mizuno, kita kemudian tahu bahwa kata-kata itu adalah "Hannya" dan "Tei", dua buah doa. "Doa yang biasa dibaca orang Buddha di dalam kuil," kata perempuan berambut hitam sebahu yang juga penganut agama Buddha itu. Satori I berangkat dari semangat pencerahan dalam Zen Buddhisme. O bon berlilin adalah pemandangan yang sering kita dapati dalam taman-taman Zen, seperti di Kuil Kenchoji di Nakamura.

Ada dua instalasi dan 11 lukisan karya Yoshie Mizuno dalam pameran tunggal bertema Satori itu. Ada Mushin (2003), karya yang berdiri sendiri, menggunakan medium-medium seperti lilin, kertas merang dengan huruf kanji, dan beras. Namun ada juga instalasi yang tak terpisah macam Satori I dan Satori II—keduanya lahir melalui suatu proses artistik-spiritual: sang artis menarik diri dari keramaian, hidup di dalam ruang meditasi yang sebenarnya.

Satori II berbentuk rajutan puluhan meter benang putih di atas kerangka bilah bambu. Bentuknya menyerupai gundukan bukit-bukit kecil. Tingginya 20 sampai 60 sentimeter. Anyaman benang berdiri tegak di tengah lingkaran beras putih di lantai. Warna lantai kadang menyembul di antara galur-galur melingkar di atas beras. Peraih Top End Women's Legal Service Awards for Outstanding Female Artist 2003 ini membiarkan bagian pinggir beras agak berantakan.

Mizuno sengaja tak memberikan batas tegas di antara dua karya tadi. Beberapa bukit benang dan lingkaran beras itu nyelonong ke wilayah o bon yang terus memendarkan cahaya. "Kesatuan karya akan pecah jika diberi batas tegas," kata sarjana visual arts dari Northern Territory University, Australia, ini. Di sinilah Hannya (2004) dan Tei-1 (2004), dua doa yang disebut di atas, berada dalam kesatuan.

Mizuno perempuan Jepang masa kini: dalam usia 30-an tahun, ia enggan memakai kimono, asyik berkaus ketat tanpa lengan dengan pusar yang kasatmata. Ia orang yang hidup selama 14 tahun dan belajar seni di Australia, dan mengantongi gelar master of visual arts dari Northern Territory University. Ia memang bukan wanita Jepang tradisional, tapi itu tak membuatnya lepas dari spiritualitas yang berakar di tanah airnya. Dan dalam pameran barusan, itulah yang membuatnya menemukan "benang merah" antara Zen Buddhisme dan spiritualisme kaum Aborigin, penduduk asli Australia.

"Secara naluriah tradisi lokal Australia seperti Aborigin ikut mewarnai karya saya sekarang," kata Mizuno. Ya, pengaruh itu setidaknya terlihat pada Satori II. Bentuk gundukan menyerupai bukit adalah gambaran wilayah "kekuasaan" kaum Aborigin di pedesaan Australia. Bukit-bukit kecil memang identik dengan kehidupan masyarakat asli Australia yang tergusur oleh pendatang kulit putih. Namun Mizuno sebenarnya tak sepenuhnya menyerap kehidupan mereka ketika mengawinkan dua budaya berbeda tadi. Jika kita melongok rajutan benang itu lebih dalam, samar-samar akan tampak gundukan seperti vagina di dalamnya. Kehadirannya menguatkan kesan bahwa tonggak dan gundukan itu adalah simbol phallus. "Bentuk ini berhubungan dengan falsafah ketimuran saya sebagai orang Jepang dan Asia," katanya.

Paduan bentuk vagina dan phallus dalam karya itu tak ubahnya lingga-yoni dalam tradisi Jawa ataupun yin-yang dalam Taoisme. Dua hal bertentangan, tapi mesti hidup berdampingan, saling menguatkan eksistensi lawannya. Mizuno, sosok yang rajin melakukan meditasi, meyakini hukum itu: hidup-mati, panas-dingin, siang-malam, baik-buruk, terang-gelap, dan seterusnya. Identitas ketimuran Mizuno semakin menonjol dengan bermacam medium yang tumbuh di dunia Timur: beras, benang, bambu, dan kertas—semua bagian kehidupan agraris Asia. Perempuan berkulit putih ini seakan ingin menyegarkan ingatan kita kembali tentang kebijakan dan kesederhanaan ajaran itu.

Mungkin Yoshie Mizuno meyakini bahwa yang dilakoninya suatu dialektika, hasil pertentangan yang tak saling menafikan, suatu pertemuan kuno-modern, pertemuan menyerupai tawar-menawar dengan tradisi di luar dirinya. Instalasi yang sepenuhnya dikerjakan tangan adalah tawaran lain bagi kehidupan lingkungannya yang serba teknis dan mekanis. Dan menyepi tiga bulan untuk melahirkan Satori merupakan tawaran lain kepada lingkungan asingnya yang serba instan. Semua itu, ia yakin, tak terjangkau oleh mekanisme industri yang hanya memberikan kepuasan jasmani. Mizuno menggunakan tangannya merajut benang, merangkai bilah bambu, mengikat kertas merang, dan melukis kaligrafi kanji.

Mizuno muda tapi telah berjalan cukup jauh. Karya awal Mizuno banyak menggunakan bahan tekstil dan serat, dan berbicara tentang persoalan gender. Dalam karya seperti Land of Memory I (1999), Land of Memory II (2000), dan Land of Memory III (2001), ia mempertanyakan dominasi lelaki terhadap dunia perempuan. Tapi, dalam pamerannya di Galeri Seni Kontemporer Silka, Bali, ia bereaksi terhadap keadaan dunia setelah peristiwa 11 September. Di sana, Mizuno membuat lubang-lubang pada selembar kain, medium dengan tepi-tepi gosong, terbakar. Ia membuka jalan ke dunia Zen mulai tahun lalu, memadukan konfigurasi beras yang berbentuk lingkaran di lantai dan cahaya lilin.

Mizuno kini memandang apa saja yang dijumpainya di perjalanan artistiknya. Pameran instalasi Mushin di Galeri Universitas Charles Darwin, Australia, akhir tahun lalu disebutnya sebagai instalasi dengan rasa meditasi dan ruang spiritual. Sedangkan Satori, yang kini dipamerkan di Bentara Budaya dan pernah digelar di 24HR Art Gallery di Darwin, Februari 2004, ia sebut ruang mereka ulang kesadaran spiritualnya. Artis muda dan satu perjalanan panjang: tak ada yang tahu apakah spiritualitas ini sekadar transit perjalanan artistiknya.

Arif Firmansyah


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data