Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXXIII/19 - 25 April 2004
   
Kriminalitas

Bermodal Komputer dan Printer

Komplotan pemalsu duit lima puluh ribuan yang bermarkas di Tawangmangu dibongkar polisi. Inilah kisah mereka.

SEBUAH rumah berdinding bata agak terpencil di kaki Gunung Lawu itu terkunci rapat. Garis polisi berwarna kuning sempat melingkari rumah kontrakan di Kelurahan Kalisoro, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah itu. Di situlah, sejak Februari lalu, komplotan pemalsu uang yang diotaki Cahyo Widodo menjalankan "roda bisnisnya".

Cahyo dan enam rekannya ditangkap polisi akhir bulan lalu. Jaringan lelaki ini telah merambah di berbagai kota, yang terlihat dari daerah asal rekannya yang berbeda-beda. Mereka adalah Subandi, 60 tahun (Kediri, Jawa Timur), Bangun Rahino, 20 tahun (Ngawi), Tamami, 50 tahun, Nuryati, 27 tahun (keduanya warga Ungaran, Semarang), Muhaimin, 54 tahun (Wonosobo), dan Windu Kuntarto, 33 tahun (Solo). Di Semarang, pekan lalu polisi juga menjerat Sumini, satu lagi pengedar uang palsu dalam jaringan Cahyo.

Bersama komplotannya, tak sulit bagi Cahyo membuat dan mengedarkan uang palsu. "Dia pemain lama," kata Kepala Polda Jawa Tengah, Irjen Didi Widayadi. Sebelumnya Cahyo telah diganjar hukuman 15 tahun karena membuat duit palsu senilai Rp 35 juta. Baru menjalani hukuman satu setengah tahun, ia kabur dari Lembaga Pemasyarakatan Ambarawa, Jawa Tengah.

Berbekal Rp 20 juta yang diperolehnya dari Subandi, Cahyo, yang jebolan Universitas Negeri Surakarta, lalu menekuni kembali bisnis lamanya. Februari lalu, ia mengontrak rumah di Tawangmangu sebagai tempat produksi uang palsu. Sepintas uang palsu buatan Cahyo sama persis dengan pecahan Rp 50 ribu asli keluaran Bank Indonesia. Menurut sumber TEMPO di Kepolisian Wilayah Surakarta, ia bisa menghasilkan 350 lembar duit bohongan itu per hari.

Peralatan yang digunakan Cahyo tak terbilang canggih. Ia mengandalkan komputer berprosesor Pentium II, dua unit printer, satu unit pemindai (scanner), alat pemotong kertas manual, lampu ultraviolet, dan kertas hammer sebagai bahan baku kertas. Hampir semua pekerjaan mencetak uang itu dilakukan Cahyo sendiri. Saban hari, ia cuma ditemani Windu Kuntarto, yang membantunya berbelanja kertas dan tinta, dan Bangun Rahino yang bertindak seperti kepala rumah tangga.

Pengedarannya pun mudah. Selain menyediakan modal, ternyata Subandi juga menampung uang palsu tersebut. Diduga Subandi sudah tujuh kali membeli duit palsu Cahyo dengan harga rata-rata 1 : 7. Artinya, Rp 1 juta duit asli bisa ditukar dengan Rp 7 juta duit palsu. Dari penyidikan Polda Jawa Tengah diketahui bahwa Subandi telah memborong Rp 200 juta uang palsu. Polisi memperkirakan, selama berproduksi sejak Februari lalu, Cahyo telah mengedarkan uang palsu senilai Rp 400 juta.

Selain Subandi, ada lagi Tamami, Muhaimin, Nuryati, dan Sumini yang berperan sebagai pengedar. Menurut sumber TEMPO, Tamami yang bekas anggota TNI berpangkat kopral pernah membeli Rp 25 juta uang palsu. Orang yang terlibat sebagai pengedar uang buatan Cahyo diperkirakan masih banyak.

Terbongkarnya "bisnis" uang palsu ini juga gara-gara tertangkapnya seorang pengedar, Nuryati, di Wonosobo, Jawa Tengah. Polisi lalu memanfaatkan Nuryati untuk membekuk sang pembuat. Cahyo sebenarnya berusaha kabur dari sergapan polisi ketika bertemu dengan Nuryati di sebuah hotel melati di Surakarta. Tapi polisi melumpuhkan kakinya dengan pelor.

Pengacara para tersangka, Yasri Yudha Yahya, tak menampik sangkaan polisi terhadap tiga kliennya, Cahyo, Subandi, dan Sumini. "Cahyo memang pernah dipidana dalam perkara yang sama dan masuk daftar pencarian orang karena kabur dari bui," ujar Yasri. Tapi ia keberatan dengan tuduhan terhadap klien lainnya, Nuryati, Windu, dan Bangun. "Mereka hanya pesuruh," katanya.

Endri Kurniawati, Imron Rosyid (Surakarta), Sohirin (Semarang)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data