Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 08/XXXIII/19 - 25 April 2004
   
Indikator

Pernyataan yang Menuai Kecaman

Menurut Anda, tepatkah sikap Aliansi Partai Politik untuk Keselamatan Bangsa menolak hasil Pemilu
2004?
(9 - 16 April 2004)
Ya
19,39%120
Tidak
73,99%458
Tidak tahu
6,62%41
Total100%619

Awalnya adalah pertemuan 19 pejabat partai politik di Hotel Nikko, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, 10 April 2004. Seusai pertemuan selama satu jam itu, lahirlah pernyataan menolak hasil Pemilu 2004 karena banyak ditemukan kecurangan. Otomatis, harus ada pemilihan ulang.

Kontan saja ini mengundang hujatan dan kecaman. Keesokan harinya, sejumlah kelompok dari berbagai kalangan mengadakan pertemuan di Gedung Pusat Muhammadiyah, Jakarta. Mereka menilai penolakan hasil pemilu oleh sejumlah politisi itu bisa merusak sendi-sendi demokrasi dan mengancam keutuhan bangsa.

Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan, proses demokrasi sudah berjalan baik. Ini tecermin dari pelaksanaan pemilu yang aman, damai, dan demokratis. Namun dia mengakui memang ada kekurangan di sana-sini, dan itu bisa diperbaiki.

Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) juga menilai pernyataan penolakan hasil Pemilu 2004 oleh politisi itu telah melecehkan proses demokrasi. ”Pernyataan itu telah menimbulkan kebingungan pada masyarakat,” kata Koordinator JPPR Gunawan Hidayat.

Menurut pemantauan JPPR, pelaksanaan pemilu legislatif berlangsung kondusif dan transparan. ”Kecurangan memang terjadi di berbagai tempat, tapi itu tidak bisa menjadi alasan yang kuat untuk menolak hasil pemilu,” kata Gunawan. JPPR menilai tuntutan itu tidak berdasar.

Itu pula yang disampaikan mayoritas peserta jajak pendapat Tempo Interaktif pekan lalu. ”Saya sangat tidak setuju dengan adanya penolakan hasil pemilu. Sebagai rakyat di tingkat bawah, kami capek melihat elite politik yang sering membuat ulah,” kata Haryoko, responden asal Depok.

Ongkos untuk menyelenggarakan pemilu memang tak bisa dibilang kecil. Tapi tentu bukan semata karena soal itu banyak kalangan tak setuju dengan penolakan hasil pemilu. Namun semrawutnya kerja Komisi Pemilihan Umum dan banyaknya kecurangan tentu juga tak boleh didiamkan.




Indikator Pekan Ini:
Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Amanat Nasional menggagas Poros Penyelamatan Bangsa pada 13 April 2004. Nama itu berganti menjadi Forum Bersama untuk Selamatkan Bangsa setelah tokoh-tokoh partai bertemu di rumah Amien Rais di Jalan Widya Chandra IV keesokan harinya.

Politisi yang hadir dalam pertemuan itu adalah Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Alwi Shihab, Wakil Ketua Umum PKB Mahfud Md., Ketua Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan Ryaas Rasyid, Ketua Umum Partai Nasional Banteng Kemerdekaan Eros Djarot, Ketua Umum Partai Pelopor Rachmawati Soekarnoputri, fungsionaris Partai Persatuan Pembangunan Habil Marati, dan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Hidayat Nur Wahid. Seusai pertemuan, Habil Marati mengungkapkan bahwa salah satu tujuan forum ini adalah mengganti kepemimpinan nasional.

Menurut Anda, bisakah Forum Bersama untuk Selamatkan Bangsa mengganti kepemimpinan nasional? Kami tunggu pendapat Anda dalam sepekan ini di www.tempo.co.id.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data