Hemat dengan Dua Telepon Seluler Layanan CDMA semakin diminati. Selain irit, teknologinya tak ketinggalan zaman, blank spot-nya juga berkurang. Inikah saatnya CDMA menantang GSM? |
LIHATLAH Thessa Kaunang. Satu telepon seluler sudah tak cukup untuk penyanyi, bintang sinetron, sekaligus bintang iklan itu. Ke mana pun ia pergi, ada dua telepon seluler yang tak pernah lepas dari dara manis ini.
Dia bukan sok kaya. Thessa justru mau berhemat dengan dua telepon seluler itu. Ia sadar tak bisa menyandarkan diri pada telepon berbasis teknologi GSM (global system for mobile communications). "Bisa bengkak tagihanku," kata artis yang kini jadi bintang sinetron Dunia Gemerlap itu.
Itulah sebabnya sejak akhir tahun lalu ia berpaling ke layanan telepon CDMA (code division multiple access), yang tarifnya semurah tarif telepon rumah. Tagihan telepon selulernya, yang dulu selalu di atas angka Rp 500 ribu, kini bisa dipangkas hingga sekitar Rp 300 ribu per bulan. "Sekarang inginnya malah menelepon melulu," kata putri musisi kawakan Arthur Kaunang itu setengah berseloroh.
Telepon CDMA yang murah meriah memang mulai dikenal luas sejak diperkenalkan pada medio tahun lalu. Di Jakarta, ada dua operator CDMA yang menawarkan pulsa dengan harga miring, yakni Telkom, yang mengusung merek dagang Flexi, dan Bakrie Telecom, yang membawa nama Esia (dulu Ratelindo). Untuk menelepon ke telepon rumah pada pukul 08.00 pagi, misalnya, tarifnya Rp 250 per tiga menit. Sebagai pembanding, bila menelepon dengan Kartu Halo Telkomsel, tarifnya Rp 504 per menit. Enam kali lipat lebih mahal. Tarif operator GSM lainnya, seperti Satelindo, IM3 (Indosat Multi-Media Mobile), Excelcomindo, tak jauh beda dengan sejawatnya, Telkomsel.
Pantas saja Thessa kini nyaris tak pernah memakai telepon GSM. Segala macam urusan menelepon—dari mulai menelepon pacar, ber-hahahihi dengan sobatnya, hingga urusan keluarga—semua ia lakukan dengan telepon CDMA itu. Kalau kepepet benar, barulah telepon GSM ia gunakan, misalnya ia sedang di luar kota atau CDMA-nya tak dapat sinyal.
Resep Thessa dijalankan juga oleh Indra Jati, yang kini nyaris memensiunkan telepon GSM-nya. Teleponnya itu paling-paling dua bulan sekali cuma diisinya pulsa Rp 100 ribu. Alasannya idem dito dengan Thessa: mencari layanan operator yang termurah pulsanya di dalam kota. Pengusaha sablon kaus asal Pasar Rebo, Jakarta Timur, itu kini 100 persen menggantungkan rezekinya dari telepon Flexi-nya. Pesanan-pesanan kaus selama enam bulan terakhir juga mengalir lewat telepon yang murah meriah itu. "Sejauh ini tak ada masalah, order tetap lancar," kata lelaki yang tiap bulan harus membayar tagihan Flexi-nya sebesar Rp 400 ribu itu.
Sejatinya, secara teknologi, CDMA tak jauh berbeda dengan GSM. Keduanya sama-sama bisa dipakai untuk berhalo-halo sambil bergerak, seperti di dalam mobil atau kereta. Juga sama-sama bisa digunakan untuk mengakses layanan data seperti Internet. Yang membikin tarif operator CDMA dan GSM di Indonesia berbeda adalah kebijakan "pilih kasih" pemerintah. Operator CDMA seperti Flexi dan Esia digolongkan sebagai fixed wireless (telepon nirkabel tetap) dan bukan digolongkan sebagai telepon seluler karena tak bisa dibawa ke luar kota—telepon dengan kode area 021, ya, cuma bisa dipakai di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi. Karena mobilitasnya terbatas, tarifnya pun disamakan dengan telepon rumah biasa. Hal itu berbeda dengan tarif yang dikeluarkan untuk operator telepon seluler GSM (Telkomsel, Satelindo, IM3, Excelcomindo) dan CDMA (Mobile-8) yang mengacu pada tarif seluler, yang notabene lebih mahal.
Tentu orang pilih yang murah. Telepon CDMA yang irit biaya segera saja menarik hati banyak orang seperti Thessa dan Indra. Flexi, hanya dalam waktu sekitar setahun, telah merangkul 680.450 pelanggan di 45 kota di Indonesia. Mereka bahkan juga telah merangsek ke kota-kota kecil seperti Probolinggo, Pamekasan, Tuban, Jember, Madiun, Magetan. Semua kota itu ada di Jawa Timur. Esia juga telah mengantongi 135 ribu pelanggan di Jakarta dan sekitarnya. Jumlah itu memang tak seberapa dibanding total pelanggan GSM, yang sampai tahun ini mencapai 16 juta. Tapi tetap saja CDMA merupakan sodokan serius bagi operator GSM.
Tarif CDMA yang lebih murah itu ternyata belum diikuti layanan yang sekelas GSM. Selama memakai Flexi, Thessa beberapa kali menemui masalah seperti drop call atau sinyal telepon tiba-tiba hilang. "Itu sering terjadi di daerah sekitar Mal Taman Anggrek, Grogol, dan Slipi," tuturnya menunjuk tiga tempat di Jakarta Barat. Pengiriman pesan pendek (SMS), meskipun sudah bisa kirim ke lintas operator, juga acap terganggu. "Kadang-kadang satu jam baru sampai SMS itu," Indra menambahkan.
Gunung Simaremare, Manajer Humas dan Sekretariat Telkom Flexi, mengakui bahwa dibanding GSM, yang sudah belasan tahun hadir di Indonesia, Flexi masih terus berbenah dan membangun stasiun-stasiun pemancar (base transceiver station atau BTS). Kegagalan panggilan, nihil sinyal (blank spot), adalah akibat terbatasnya jumlah jaringan Flexi—karena mahalnya biaya pembangunan stasiun pemancar.
Melihat faktor itulah pada tahun 2004 ini, menurut Komisaris PT Telkom Garuda Sugardo, beberapa waktu lalu, Flexi merencanakan akan membangun 1,2 juta satuan sambungan telepon (SST) dengan rencana nilai investasi Rp 2,4 triliun. Selain itu, Telkom Flexi juga ingin merengkuh 1,5 juta pelanggan di 61 kota.
Khusus untuk Jakarta, mereka juga akan menambah 215 stasiun pemancar baru, melengkapi 110 stasiun yang telah ada. Cara itu, kata Gunung, diharapkan bisa mengurangi masalah terbatasnya jangkauan layanan. "Saat ini coverage di Jakarta, Tangerang, Bekasi baru 70 persen," tuturnya.
Khusus untuk kawasan pusat-pusat perbelanjaan, Flexi akan menempatkan ratusan stasiun pemancar mini (dalam teknologi GSM biasa disebut micro-cell) yang daya jangkaunya cuma beberapa ratus meter. Tugas pemancar mini adalah memperluas daya jangkau Flexi hingga ke sudut-sudut mal.
Esia mengguna-kan jurus serupa, menggenjot penambahan stasiun pemancar. Meski dananya lebih pas-pasan, mereka akan melengkapi stasiun pemancarnya menjadi 75 buah di Jakarta dan 20 buah di Jawa Barat. Tambahan jangkauan layanan itu berujung pada tambahan pelanggan hingga 150-200 ribu.
Dengan kondisi seperti itu, sementara ini operator CDMA memang bukan rival operator GSM. Kendati begitu, Thessa dan Indra tetap merasa untung memakai Flexi. Mereka maklum dengan keterbatasan operator yang berumur kurang dari setahun itu. Menurut Indra, sekarang ini daerah jangkauan Flexi sudah jauh lebih baik ketimbang beberapa bulan lalu. Kawasan Cengkareng, yang tahun lalu belum terjangkau, kini sudah masuk area yang dilayani.
Itu artinya, dengan berjalannya tahun, CDMA segera bersaing dengan kekuatan penuh dengan GSM.
Burhan Sholihin, Agricelli (Tempo News Room)
Siapa yang Terbaik?
Flexi
- Tarif sama dengan telepon rumah.
- Jangkauan layanan luas, ada di 45 kota.
- Akses Internet cepat dengan teknologi CDMA 2000 1x, biayanya Rp 350 per menit.
- Hanya bisa dipakai di dalam kota.
Esia
- Tarif sama dengan telepon rumah.
- Layanan di Jakarta dan Bandung.
- Hanya bisa dipakai di dalam kota.
Mobile-8
- Tarif tergolong tarif seluler, ke telepon rumah Rp 504 per menit, sesama pelanggan Mobile-8 Rp 400 per menit
- Akses Internet kencang dengan CDMA 2000 1x. Biayanya Rp 5 per kilobyte.
- Mobilitas tinggi, bisa terima telepon di luar kota se-Jawa.
StarOne
- Tarif sama dengan telepon rumah.
- Pertengahan tahun ini diluncurkan oleh Indosat.
|