Muhibah Erica ke Cina Pelukis Erica Hestu Wahyuni menggelar 15 karya tentang perjalanannya. Tetap mengusung gaya naif kekanak-kanakan. |
Perempuan muda bergaun gelap itu seorang pelukis. Tangan kanannya memegang kuas. Seperangkat alat lukis tergeletak di atas kotak. Tak jauh, empat kanvas berisi gambar. Dua kanvas bergambar orang Cina, satu lukisan kotak-kotak putih, satu lagi delapan ekor kuda. Tapi si pelukis duduk, menatap ke muka, dan sebagian paha kirinya menyembul karena belahan busananya cukup tinggi.
Erica at Tiananmen (2003): si pelukis merangkap model itu berpose dengan latar Istana Kota Terlarang di Cina. Sepatu bot merahnya menutup ujung kaki hingga lutut. Ia, Erica Hestu Wahyuni, berbicara tentang perjalanan dalam pameran tunggal bertema Long Journey of Erica di Galeri Hadiprana, Jakarta, pekan lalu. Erica at Tiananmen, The Palace's Painter (2003), The Secret of Red Room (2004), dan karya-karya lain memantulkan kreasi seorang pelukis yang takjub pada dunia visual Cina.
Erica "ada" di mana-mana, di Lapangan Tiananmen, Istana Kota Terlarang, tradisi klasik masyarakat Cina, dan masih banyak lagi. Dua tahun silam, pelukis kelahiran Yogya, 1 Januari 1971, ini mengunjungi Beijing, Shanghai, dan Guangzhou. Ia menangkap atmosfer Dinasti Ming. Bahkan, di Istana Kota Terlarangdibangun Kaisar Yung Lo pada awal abad ke-14ia sempat membayangkan dirinya menjadi putri lucu Mei Su Hua.
Dalam The Secret of Red Room terdapat foto istana itu yang disajikan dalam gaya berbeda. Penulis Pearl S. Buck pernah melukiskan istana tersebut sebagai sosok angkuh dalam novel Maharani. Tapi, di tangan Erica, bangunan keraton yang selama 500 tahun tertutup bagi rakyat jelata itu justru menyimpan sikap naif, kekanak-kanakan. Ia memang tidak pernah meninggalkan sikap kekanak-kanakan dalam karyanya, sejak melangit ke belantika seni rupa Indonesia akhir 1990-an, bahkan setelah empat tahun menyelami seni monumental dan sejarah seni rupa Rusia di Institut Seni Surikov, Moskow, Rusia. "Gaya itu sebuah pilihan dan keniscayaan bagi saya," kata pelukis yang sedang menggarap tugas akhir di Surikov ini.
Walau mempertahankan gaya tadi, karya "terkini" Erica terlihat sedikit berbeda dibandingkan dengan sebelumnya. Pada awal kemunculannya, jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini cenderung "boros" ruang, tapi tak mau terikat dengan media lukis. Karyanya selalu berukuran raksasa, dua meter lebih. Sapuan kuasnya begitu mudah menerobos media lukis karena ia tak mau dibatasi ruang. Suasana yang diciptakan sering riuh dan ramai meski banyak bagian yang terasa hampa dan kurang isi.
Kegemaran menggunakan media raksasa dan warna riuh ini mulai berkurang pada karya terbarunya, kecuali Sixth Floor, yang memanjang hingga 2,5 meter. Lukisan ini terbagi menjadi tiga bagian yang sebenarnya satu kesatuan utuh. Erica menggambarkan dirinya perempuan bersayap seperti malaikat yang menenteng tas. Ia menoleh ke seorang lelaki di balik pintu setengah terbuka. Bisa jadi pelukis yang pernah dijuluki "ratu pasar" ini sedang berada di persimpangan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Pergulatan batin ibu satu anak ini bisa dilihat dari awal perjalanan kariernya. Sejak menekuni pendidikan di ISI Yogyakarta, Erica langsung menantang arus. Ia tak percaya melukis harus dimulai dari realisme atau basis akademis konvensional membuat bentuk dalam presisi. Realisme bukan ajaran wajib yang harus ditekuni. Pelukis harus berkembang dari dunia yang memberikan kebebasan. "Dan dunia bebas itu saya temukan pada dunia anak-anak," katanya.
Pikiran tadi tentu tak sejalan dengan tuntutan akademis yang menuntut dasar realisme bagi calon pelukis. Erica pun tampil sebagai mahasiswa dengan pengecualian setelah Nyoman Gunarsa dan Subroto S.M. memahami jalan pikirannya. "Beliau menilai prinsip saya sebagai semangat seni baru," katanya. Kekukuhan Erica setidaknya terbukti ketika menggelar pameran tunggal di Galeri Nasional Indonesia, April 2001. Karyanya yang berciri kekanak-kanakan diminati kolektor dan ia tampil sebagai pelukis muda yang cukup laris.
Kengototan Erica mengusung gaya kekanak-kanakan tak juga padam saat dia belajar di Institut Seni Surikov sejak empat tahun silam. Program kuliah di kampus baru itu berbasis realisme klasik, gaya yang sulit masuk ke pikirannya. Begitu pula sebaliknya. Gaya melukis Erica tak masuk ke pikiran pengajarnya. "Syukurlah saya akhirnya bisa mendapatkan titik temu," katanya.
Titik temu Erica bukan sekadar teknik melukis, melainkan atmosfer berkesenian yang cukup baik di Surikov. Ia mampu menerjemahkan dan mengolah semangat masyarakat Eropa Timur untuk menempa mental kreatifnya. Suasana Rusia yang serba kaku, tegas, tapi teratur justru menjadi sumur gagasan baru, bahkan mempengaruhi pola pewarnaan karya "terkini" yang tegas memilah setiap warna dengan garis tanpa meninggalkan ciri aslinya.
Meski Surikov memberikan bekal bagus, ia belum merasa puas. Seperti pada bagian ketiga dalam Sixth Floor, Erica memandang Negeri Tirai Bambu sebagai tempat ngangsu kaweruh berikutnya. "Saya sangat ingin beradaptasi dengan kehidupan kesenian Cina," katanya. Tradisi masyarakat Cina, katanya, akan memberikan perubahan berarti dalam karya berikutnya. Pelesir selama dua tahun terakhir sedikit-banyak memberikan bekal awal tentang seluk-beluk Cina.
Gambaran pesona dan daya tarik Cina mulai terangkai dalam pameran Long Journey of Erica kali ini. Cina yang eksotis ia "ucapkan" dalam bahasa naif yang kekanak-kanakan. Karya "terkini"-nya "manifestasi spirit bermain yang tiada berujung," kata pengamat seni rupa Agus Dermawan T. Bermain dalam bentuk, teknik, ataupun pengejawantahan imajinasi dan fantasi. Tak aneh jika Erica berkhayal menjadi Mei Su Hua dan menikmati hidup di Istana Kota Terlarang.
Arif Firmansyah
|