Jalan Pintas Sampah Kampus Biro konsultansi skripsi dan jual-beli skripsi semakin marak di Jakarta dan Yogyakarta. Dalihnya demi menolong mahasiswa. |
... Buat apa susah-susah bikin skripsi sendiri
Tinggal membeli tenang sajalah...
(Iwan Fals,Teman Kawanku Punya Teman)
SINDIRAN Iwan Fals lewat sebuah lagunya itu masih relevan sampai kini. Budaya menempuh jalan pintas tetap merebak di dunia pendidikan. Mahasiswa semakin malas membuat skripsi sendiri karena mereka bisa memperolehnya dengan membeli. Cukup menyiapkan sejumlah uang, status mahasiswa abadi bisa berganti dengan gelar kesarjanaan. Toh di ijazahyang sering dipajang dalam piguratidak bakal tercantum kalimat "Lulus dengan Skripsi Beli".
Jangan heran jika biro konsultan skripsi belakangan menjamur di Jakarta dan Yogyakarta. Mahasiswa yang ingin cepat lulus tinggal pesan judul tertentu, lalu dalam tempo satu atau dua bulan karya ilmiah yang menjadi kunci kelulusan itu sudah siap diujikan. Dulu praktek ini dilakukan sembunyi-sembunyi, tapi sekarang mulai terang-terangan. Bahkan tak sedikit biro skripsi yang memasang iklan di koran dengan iming-iming yang menggiurkan. Selain "dijamin sampai lulus", harganya nego banget.
Dari pemantauan TEMPO sepanjang Maret lalu, sebuah biro skripsi di Jakarta bernama Magna Script termasuk yang paling getol beriklan. Dalam kampanyenya, ia sesumbar telah meloloskan 765 sarjana dengan nilai memuaskan dan cum laude. Sarjana-sarjana itu bukan hanya di tingkat S1, tetapi juga untuk master dan doktor.
Magna Script, yang menyebut diri sebagai lembaga konsultan dan bimbingan skripsi ini, menempati sebuah rumah di kawasan Jakarta Timur. Pengelolanya menolak jika profesi mereka disebut pedagang skripsi. Setiap klien menyelesaikan skripsinya harus melalui proses bimbingan. Untuk menyelesaikan skripsi tingkat S1 cukup dengan 14 kali bimbingan, dijamin beres. Sedangkan untuk S2 dan S3 bergantung pada tingkat kesulitan.
Tentu saja ada harga yang mesti dibayar. Bagi mahasiswa S1, sekali bimbingan harus merogoh uang Rp 100 ribu. Adapun untuk tingkat yang lebih tinggi, mahasiswa S2 dikenai tarif Rp 150 ribu sekali bimbingan. Ongkos Rp 300 ribu untuk sekali bimbingan harus dibayar untuk menyelesaikan tesis doktoral.
Konsumen akan dibantu sejak dari proposal, database teori, pengumpulan dan pengolahan data, sampai pengetikannya. Menjelang ujian, mereka juga diberi simulasi di depan para penguji "palsu" yang disiapkan lembaga ini. Selain skripsi, lembaga ini juga bisa membuatkan makalah atau karya tulis lain.
Bagaimana untuk mahasiswa yang sama sekali tidak punya kemampuan menyusun skripsi? Ada terobosan lain: program nonreguler. Mereka tinggal terima jadi bab demi bab, sedikit bimbingan untuk menghadapi dosen di kampus, dalam tempo dua bulan semua beres. Tentu saja jalur cepat ini membutuhkan biaya ekstra. Menurut Widodo, yang menjadi Direktur Magna, ongkosnya Rp 1,5 juta hingga Rp 3,5 juta.
"Mereka ini sampah kampus," kata Widodo. Lo? Ia menjelaskan, mereka hanya akan menjadi deretan mahasiswa abadi jika tidak "dibantu" membuat skripsi. Bagi Widodo, yang mendirikan lembaga ini empat tahun lalu, sampah-sampah perguruan tinggi ini harus segera dibersihkan. Namun dia meyakinkan lembaganya tetap mewajibkan mereka mengikuti bimbingan agar memahami karya tulis yang diajukan. Dari 2.000 orang yang pernah ditangani lembaga ini, katanya, sekitar 60 persen berasal dari mahasiswa S2 perguruan tinggi negeri di Jakarta.
Ada pula jalur lebih kilat seperti yang ditawarkan lapak fotokopi di persimpangan Jalan Pramuka, Jakarta. Dengan berkedok pengetikan, penjilidan, dan fotokopi, para pengelola menawarkan pembuatan skripsi secara instan. Seorang calon sarjana bisa langsung datang dan meminta skripsi dengan judul tertentu. Setengah dari harga yang Rp 1 juta hingga Rp 2 juta harus dibayar di depan. Satu atau dua bulan kemudian seluruh bagian skripsi bisa dibawa pulang setelah sisa pembayaran dilunasi.
Menurut salah seorang pengelolanya, mereka menyimpan ratusan file skripsi dalam memori komputernya. Saat konsumen datang dan meminta dibuatkan skripsi, mereka tinggal membuka bank datanya. Data tersebut tinggal dicomot kanan-kiri dan hasilnya dijilid.
Di Yogyakarta, biro pembimbing skripsi maupun praktek jual-beli skripsi juga banyak ditemukan. Sebuah biro konsultan di kota tersebut mematok harga sekitar Rp 2 juta. Himawan, lulusan Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada, yang membuka jasa ini, memandang biro jasa yang dibukanya sebagai usaha legal. Dia mengaku sama sekali tidak pernah menjiplak karya orang lain. Klien harus menjalani proses awal hingga akhir skripsi. Soal etika, Himawan menyerahkan pada penilaian masyarakat. "Saya sekadar menolong, daripada mahasiswa itu kena DO (drop out)," katanya.
Dengan alasan "menolong" juga, di pusat penjualan buku bekas di Yogyakarta yang biasa disebut Shopping Center, para penjual buku menyediakan skripsi dari berbagai cabang ilmu. Meski tidak ada dalam pajangan, jika disebutkan skripsi bidang studi tertentu, penjual akan mengambilkan dari kolong lapaknya. Setelah itu, terserah pembeli, mau menjiplak utuh atau memermak di sana-sini.
Sri, salah seorang penjual di kawasan tersebut, mematok harga skripsi ilmu sosial Rp 60.000. Adapun ilmu-ilmu pasti bisa laku Rp 70.000 untuk satu skripsi. "Boleh ditawar," kata Sri tersenyum. Dia mengaku mendapat pasokan dari orang yang datang ke lapaknya. Selain menyediakan skripsi, Sri juga menjual makalah seharga Rp 5.000, dan proposal skripsi seharga Rp 10.000 hingga Rp 25.000.
Satu lagi cara membuat skripsi: dengan meminta bantuan teman. Mahasiswa yang kemampuan otaknya sudah mentok sering merengek kepada kawannya sesama mahasiswa. Sudarman, alumni Universitas Gadjah Mada, salah satunya. Saat kuliah lima tahun lalu, ia membantu penulisan skripsi beberapa kawannya. Dalam proses pembuatan, ia mengaku hanya memberikan masukan dan menuntun kawannya dalam setiap tahap penyusunan skripsi.
Keuntungan yang didapatnya, selama membantu teman itu, dia tidak perlu membeli rokok. "Setiap hari saya dijatah sebungkus rokok," kata Sudarman. Bayaran tertinggi yang pernah diterimanya adalah selembar celana jeans yang saat itu hampir tak mungkin bisa dibelinya dengan uang saku sendiri. Sudarman mengaku bangga karena empat mahasiswa yang dibuatkan skripsinya semuanya mendapat nilai B. "Celakanya, skripsi saya sendiri malah dapat nilai C," katanya sembari tertawa ngakak.
Jual-beli skripsi ini sebenarnya sudah menjadi perbincangan sejak sepuluh tahun lalu. Masalah utama tentu kejujuran para sarjana yang mengaku karya ilmiah itu sebagai karyanya. Padahal mereka menggunakan data palsu dan mencomot karya orang lain.
Satya Arinanto, doktor Fakultas Hukum Universitas Indonesia, juga mengamati maraknya "bisnis skripsi" di Jakarta, Yogyakarta, dan kota-kota lainnya. Hanya, pihak perguruan tinggi tidak bisa berbuat banyak karena hal itu menyangkut hak orang untuk berbisnis. "Yang bisa kita lakukan, menguji dengan serius mahasiswa yang mengikuti skripsi," ujarnya. Untuk menghadang penjiplakan, Satya kerap mengetes mahasiswa yang ujian skripsi, apakah mereka betul-betul membaca buku yang dijadikan acuan dalam skripsinya.
Pihak Departemen Pendidikan Nasional pun pasrah. Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Satryo Soemantri Brodjonegoro, pihaknya hanya bisa mengimbau agar perguruan tinggi mengawasi mahasiswanya supaya tidak melakukan jual-beli skripsi. "Perguruan tinggi harus memikirkan reputasi dan kualitas lulusan mereka," kata Satryo.
Kalau tidak, "sarjana-sarjana sampah"-lah yang akan lahir. Seperti kata Iwan Fals, "Sarjana begini banyaklah di negeri ini. Tiada bedanya dengan roti...."
Agung Rulianto, Heru C.N. (Yogyakarta), Sita Planasari
|