Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXXIII/12 - 18 April 2004
   
Musik

Kulo Nuwun, Butterfly Boxing…

Djaduk Ferianto bersama kelompok Kua-Etnika tampil di Gedung Kesenian Jakarta. Pentas sebelum keliling Eropa.

Entah apakah nanti di bar-bar dan kafé-kafé di Wina, "ibu kota musik klasik" itu, Djaduk juga bisa nyerocos soal Pasar Kembang (daerah "lampu merah" Yogya). Yang jelas, di Gedung Kesenian Jakarta minggu lalu, kepada penonton ia mengobral banyolan bengal. Ada pelesetan ala Yogya, ada musik. Itulah konser pamitan Kua-Etnika sebelum berkeliling Eropa: Wina, Amsterdam, Praha, Krakow, dan Budapest.

Humor sableng (kadang setengah norak) selalu menjadi porsi besar pertunjukan Kua-Etnika. Trade mark musik mbeling itu telah disandang Djaduk ketika pada tahun 1980-an ia jadi juara pertama lomba musik humor di Taman Ismail Marzuki (Iwan Fals saat itu juara harapan). Djaduk, dalam perjalanan kariernya, lalu terlihat berusaha membawa musik etnis ke wilayah populer. Percaya diri, ia memasuki dunia sinetron, film, atau jingle iklan. Ia mengkombinasi instrumen etnis dengan musik elektrik. Harus diakui, sangat besar sumbangan Djaduk dalam membuat musik etnis muncul di televisi.

Dibiayai sebuah pabrik kretek, ia dan sepuluh pemainnya kini mempromosikan kretek Indonesia. Bertema Everlasting Kretek Heritage, ia membawa mungkin satu truk penuh instrumen, mulai kendang, gender, sampai rebana, keyboard, biola, dan saksofon. Di Budapest, Hungaria, Djaduk dijadwalkan main di Fono Music Hall. Materi pementasannya diambil dari album-album yang pernah diproduksi Kua-Etnika.

Komposisi-komposisi Djaduk bukanlah komposisi dengan struktur yang pekat. Tulang utama komposisi adalah serangkai melodi utama yang dibunyikan keyboard atau biola, diperkuat dengan instrumen gamelan seperti saron, lalu ditingkahi dengan dinamika kendang dan pelbagai ricikan lainnya. Selanjutnya sederhana: permainan tensi, ritme. Melodi utama sering diambil Djaduk dari berbagai tembang dolanan anak.

Pada salah satu komposisinya, melodi utama misalnya berasal dari nada gesekan penjual gula-gula arum manis di Semarang, yang ke mana-mana berjalan kaki sambil menggesek semacam rebab. Pada Ritus Swara, komposisi dilandasi sampling orkestra. Suasananya setengah Bali, setengah jazz. Lalu ada solo saksofon, solo kendang. Singkatnya, bunga rampai alat-alat. Bagi Djaduk, kesenian kontemporer bukanlah jenis kesenian yang mengernyitkan dahi. Bahkan antar-para pemainnya di pentas bisa melakukan "drama-drama"-an. Bagi Djaduk, itu bagian dari komunikasi panggung.

Usaha mengangkat instrumen tradisi ke dunia pop bukan hanya pergulatan seniman etnis kita. Dari Cina, sekarang ada Twelve Yuefang Ensemble, 12 perempuan seksi lulusan China Academy of Music, Central Conservatory of Music, dan China National Chinese Opera. Mereka memainkan musik pop modern. Penampilan mereka langsung mengingatkan kita pada Bond. Namun, kelebihan mereka adalah instrumennya semua merupakan instrumen tradisi Cina: aneka suling bambu dan alat petik (string) seperti harpa, siter bernama zheng, qin, ruan, sanxian. Unsur melodinya mereka angkat sampai ke lagu-lagu Tibet. Meriah, orkestral, dan sangat modern seperti kita saksikan di klip-klip videonya, membuktikan bahwa ensambel instrumen tradisi, bila digarap serius, mampu menghasilkan pencapaian luar biasa segar.

Dalam pertunjukan Djaduk nanti, akan ditayangkan di belakang pemain sebuah film bertema rokok Indonesia karya sutradara Lasja Fauzia. Mengambil lokasi di sebuah desa petani tembakau di Parakan, Jawa Tengah, dan pabrik Djarum di Kudus, inilah gagasan film yang cerdas. Djaduk bersama semua pemusiknya mengeksplorasi bunyi yang berasal dari proses pembuatan rokok. Dari memetik daun, menyapu sisa-sisanya, melinting di pabrik, sampai mengepak di gudang, apa saja dijadikan sumber bunyi.

"Saat Djaduk memukul-mukul mesin untuk melinting rokok, para buruh stres," tutur Butet Kertarejasa sambil tertawa. Itu karena mereka takut presisi mesin yang sehari-hari mereka gunakan bisa meleset. Sampai Manajer Djarum Kudus turun tangan membelikan alat-alat baru khusus untuk ditabuh. Sayang, pendekatan film ini terlalu bersifat parodi. Gesturkulasi Djaduk and his gang saat bereksplorasi berusaha dilucu-lucukan. Bila saja pendekatannya dokumenter, tentu akan lain nuansanya. Tapi ini pilihan sadar Djaduk. Lagi-lagi karena iman humornya.

"Komposisi selanjutnya, Kupu-kupu Tarung, opo yo nanti bahasa Inggrisnya?" kata Djaduk. Seorang pemainnya berteriak: "Butterfly boxing…." Penonton geerrr….

Seno Joko Suyono


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data