Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXXIII/12 - 18 April 2004
   
Laporan Utama

Koalisi Sembilan Segi

Setelah masuk peringkat lima besar, Partai Demokrat menyorongkan Susilo Bambang Yudhoyono menuju kursi RI-1. Tapi semua partai tak ingin calonnya jadi wakil presiden.

RUPANYA bukan kebetulan Partai Demokrat sangat menggemari angka sembilan. Partai itu didirikan pada 9 September tiga tahun silam. Angka itu persis sama dengan tanggal dan bulan lahir Susilo Bambang Yudhoyono, sang pendiri sekaligus jago kuat Demokrat untuk kursi RI-1. Saat muncul ke publik, deklarasi partai diteken oleh 99 orang. Lalu, ini yang mencengangkan: sewaktu undian peserta pemilu, partai itu mendapat nomor urut 9 pula.

"Itu angka mujur," ujar Subur Budhisantoso, 67 tahun, Ketua Umum Partai Demokrat, Kamis pekan silam. Nasib baik memang lagi bersinar terang pada partai pendatang baru itu. Sampai Jumat pekan silam, Partai Demokrat bertahan masuk peringkat lima besar dengan meraup 7,5 persen suara dari 63 juta pemilih hasil tabulasi suara sementara di KPU. Menampik kesan mistik, Budhi mengatakan keberhasilan itu adalah buah kerja keras mereka.

Sejak awal kemunculannya, Demokrat sebenarnya bukan partai populer. Namanya justru melejit setelah SBY memutuskan mundur dari kabinet Presiden Megawati Soekarnoputri, 9 Maret silam (ah, sembilan lagi). Sejak itulah, langkahnya menjadi pesaing Megawati dalam Pemilu kali ini kian kuat. "SBY mampu menjadi magnet di tengah orang bingung cari pemimpin," ujar Budhi, guru besar antropologi di Universitas Indonesia itu. Sebelumnya, di bursa politik, SBY lebih dikenal sebagai kandidat kuat RI-2. Dia sering dianggap cocok sebagai pasangan calon presiden dari partai besar.

Belum jelas partai besar mana sekarang yang bakal dilirik Demokrat. Saat ini, berdasarkan hasil sementara, ada empat partai besar, yaitu PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Senin pekan lalu, saat hari pertama pemungutan suara, Yudhoyono sudah menerima kunjungan politik. Yang datang adalah deklarator PKB Abdurrahman Wahid. Gus Dur memang terkenal dekat dengan Yudhoyono. "Dari dulu, hubungan keduanya cukup baik," ujar Mahfud Md., Sekretaris Jenderal PKB. Sehari kemudian, giliran Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi bertamu ke rumah SBY di kawasan Gunung Putri, Bogor. Secara resmi, kepada pers, SBY mengatakan belum ada pembicaraan resmi ke arah terbentuknya koalisi. Tapi bisik-bisik menyebutkan semua pihak masih bertahan tak ingin jadi RI-2.

Demokrat memang pantas menggelembungkan dada. Budhi yakin, pada pemilu kali ini mereka mampu menyabet minimal 5 persen suara di tingkat nasional. Artinya, dengan modal itu, Demokrat boleh menyodorkan calon presidennya sendiri. "Kami tak ingin SBY jadi wakil presiden," kata Budhi.

Tapi semangat tak ingin jadi nomor dua itulah yang membuat jagat politik Indonesia pascapemilu jadi menarik. Gus Dur, misalnya, pagi-pagi sudah melempar bola. Kamis pekan lalu ia tampil bersama Wiranto, calon presiden versi konvensi Partai Golkar, di Hotel Nikko, Jakarta Pusat. Selain kedua tokoh itu, hadir juga Samuel Koto dari PAN dan Muchtar Pakpahan dari Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD). Si penggagas pertemuan, Hariman Siregar, muncul bersama pengacara kawakan Adnan Buyung Nasution.

Isi pertemuan sebenarnya biasa saja. Tadinya, aliansi sejumlah partai itu bertemu untuk mengkritik kelemahan KPU dalam penghitungan suara. Tapi, "Aliansi bisa juga membahas perubahan kepemimpinan di negeri ini," kata Hariman, aktivis mahasiswa 1974 yang dikenal dekat dengan Wiranto. Maksud Hariman, aliansi harus ambil langkah tepat mencegah kekuatan lama berkuasa kembali.

Di mana posisi SBY dalam aliansi Hotel Nikko itu? Tak ada pembicaraan khusus tentang itu. Yang pasti, entah mengapa, SBY tak hadir dalam pertemuan tersebut.

Perihal SBY hanya sedikit disinggung Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta. Kata Anis, sulit bagi Partai Demokrat mencalonkan SBY sebagai presiden tanpa berkoalisi. Alasannya, calon presiden kini diborong partai besar. Jika Demokrat berkongsi dengan partai di bawahnya, seperti Patriot Pancasila atau Partai Sarikat Indonesia, sudah pasti sulit menang dalam pertarungan pemilihan presiden kelak. "Kalau berkoalisi dengan Golkar dan PDI Perjuangan, lalu siapa calon presidennya?"

PKS sendiri, kata Anis, tak akan menjagokan calon presiden sendirian. "Kami akan mengajukan calon presiden melalui koalisi," ujarnya. Kriteria anggota koalisi itu pun sudah ada. Syaratnya, antara lain, partai itu harus berwatak reformis, demokratis, lalu religius. Soal calon presiden, Anis mengatakan belum diputuskan. Memang nama Wiranto, kata dia, sempat muncul sebagai usulan dari cabang PKS dari Gorontalo. "Tapi, ada banyak calon lain juga selain Wiranto," ujarnya. Sejauh ini posisi PKS memang signifikan. Partai ini boleh dibilang bintang terang dari kelompok Islam. Dalam pemilu kali ini, PKS jauh meninggalkan partai Islam lain seperti Partai Bintang Reformasi (PBR) dan Partai Bulan Bintang (PBB). Terakhir, suaranya terus melenting dan mengancam posisi PAN.

Dari kubu PDIP, fenomena melejitnya SBY dianggap tak terlalu merisaukan—setidaknya begitu pengakuan resmi pengurus Partai. Tjahjo Kumolo, pengurus Partai Moncong Putih yang dikenal dekat dengan suami Mega, Taufiq Kiemas, justru melihat koalisi PDIP dengan PPP jauh lebih efektif. Selain hubungan keduanya baik dan telah teruji kerja samanya, koalisi itu bakal diperkuat oleh PKB dan NU. "Kita juga berhubungan baik dengan keduanya," kata Tjahjo. Hanya, dia mengakui urusan partainya dengan Gus Dur belum sepenuhnya "beres".

Tjahjo menilai agak sulit bagi Yudhoyono untuk menjadi presiden. Problemnya, meski menjulang sebagai partai baru, Partai Demokrat toh tak memperoleh suara yang benar-benar bisa diperhitungkan. "Partai yang perolehan suaranya lebih tinggi emoh jadi calon wakil presiden buat SBY," ujar Tjahjo.

Semua partai memang baru sampai pada taraf mengukur kekuatan. Dan soal ukur-mengukur, PKB tampaknya ambil inisiatif lebih dulu. Mengantisipasi maraknya lobi seputar paket calon presiden dan wakilnya, partai berlogo bola dunia ini membentuk tim sembilan. Tugasnya memilih calon wakil presiden, karena Gus Dur tetap muncul sebagai jago dari PKB. Melihat kecenderungan suara, PKB juga mengajak empat partai di papan tengah untuk berkoalisi—salah satunya adalah Partai Demokrat. "Juga PKS, PPP, dan PAN," ujar Alwi Shihab, salah satu anggota tim sembilan.

Budhisantoso dari Partai Demokrat mengatakan sudah menentukan dengan siapa koalisi harus dilakukan. Menurut dia, platform sang pinangan harus sesuai dengan prinsip Demokrat yang nasionalis, pluralis, dan religius. Pada prinsipnya, kata dia, semua partai segaris tentu bisa bekerja sama. Segaris tak harus selalu sama. Mereka juga membuka diri untuk banyak segi perbedaan itu. Tapi Budhi memberikan catatan: partainya tak ingin bergandeng tangan dengan orang tertentu di PDI Perjuangan. Siapa? Sayang, dia tak mau menyebut nama.

Meski dicap partai kaum abangan, Partai Demokrat mengaku juga bisa bekerja sama dengan PKS. Tapi, kata Budhi, potensi terbesar koalisi Partai Demokrat memang ke PKB. Soalnya, selain punya hubungan baik dengan Gus Dur yang punya posisi kuat di akar rumput, keduanya juga cocok karena sama-sama nasionalis dan religius itu. "Kita senang dengan Gus Dur," ujar Budhi.

Mungkin, ada alasan lain Budhisantoso senang dengan PKB: di logo bola dunia partai itu, ada bintang yang jumlahnya sembilan.

Nezar Patria, Hanibal W.Y.W., Jobpie Sugiharto


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data