Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXXIII/12 - 18 April 2004
   
Laporan Utama

Tiga Menguak Takdir

Meski tak menang pemilu, fenomena munculnya Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Damai Sejahtera cukup mengejutkan. Ada yang unggul karena tokohnya, ada pula yang merasa dianiaya sebagai minoritas.

Wajah Presiden Megawati Soekarnoputri tampak gundah saat meninjau Pusat Tabulasi Nasional Pemilu 2004 di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu siang, 7 April lalu. Sorot matanya nanar, mulutnya terkatup rapat. Tak sepatah kata pun terlontar dari mulut Mega meski puluhan wartawan terus membuntutinya. Ia langsung menuju ruang VIP dan selama 15 menit menyaksikan proses tabulasi melalui pesawat televisi yang tersedia.

Di ruang VIP, Mega hanya menanyakan perkembangan pemilu di Aceh dan perolehan suara di Jawa Tengah. Ia tak menanyakan perkembangan perolehan suara partai yang dipimpinnya, PDI Perjuangan.

Mega sedang galau. Sehari sebelumnya, di Kantor Pusat PDI Perjuangan di Lenteng Agung, ia murka gara-gara perolehan suara si Moncong Putih merosot drastis. "Struktur partai tidak berjalan hingga hasilnya begini," kata Mega (lihat Ketar-ketir Dipeloroti Suara).

Sampai akhir pekan lalu, PDIP memang masih bertengger di tempat pertama hasil Pemilu 2004 dengan meraup 20,5 persen suara. Di bawahnya ada Golkar, yang mendapat suara kurang-lebih sama. Tapi, dibandingkan dengan Pemilu 1999, saat PDIP mengeruk hingga 35 persen, perolehan suara 2004 dirasa mengecewakan. Hal yang sama terjadi pada Golkar. Target 30 persen suara yang dicanangkan Beringin jauh panggang dari api.

Yang melonjak adalah Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang untuk sementara berada di posisi kelima dan keenam dengan perolehan sekitar 7,5 persen suara. Jauh di bawah mereka ada Partai Damai Sejahtera (PDS), yang?meski baru mendapat hampir 2 persen suara?bikin orang geleng-geleng kepala. Ini partai yang sama sekali baru, disokong oleh minoritas Kristen, tapi menguasai tempat-tempat pemungutan suara (TPS) terutama di kota besar berpenduduk Kristen. "Selama ini, kami tak didengar. Sekaranglah saatnya kami masuk Istana," kata Ruyandi Hutasoit, Ketua PDS (lihat "Yusuf-Yusuf Harus Masuk Istana").

Ketiga partai itu tersebar di kawasan yang dulu dikangkangi partai-partai lama. PKS, misalnya, mendominasi perolehan suara di wilayah yang dulu menjadi pengikut setia Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Di Semarang, Partai Demokrat untuk sementara unggul. Di Kota Surabaya, Partai Demokrat tak bergeser dari urutan ketiga setelah PDIP dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sejak penghitungan hari pertama. Di Kupang dan Manado, PDS berada di urutan ketiga setelah Partai Golkar dan PDIP. "Saya tidak mau over-estimate, tapi insya Allah," kata mantan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Susilo Bambang Yudhoyono, menanggapi kemungkinan Partai Demokrat menang.

Di Yogyakarta, suara PKS mengancam perolehan Partai Amanat Nasional (PAN). Perolehan suara partai ini pun melonjak di Sumatera Utara. Hampir di seluruh wilayah Kota Medan, yang terbagi dalam empat daerah pemilihan, PKS unggul. Partai berlambang dua bulan sabit kembar, padi, dan Ka'bah ini bersaing ketat dengan Golkar dan PDIP. Bahkan sebagian kantong suara Golkar, PDIP, dan PPP pun digaet PKS.

Tak urung Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung mengaku terkejut dengan perolehan Partai Demokrat dan PKS. Apalagi mereka bisa menyodok ke posisi enam besar. "Perolehan kedua partai baru ini patut dianalisis dan dikaji," ujarnya.

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Pramono Anung, melonjaknya suara Partai Demokrat dan PKS adalah fenomena masyarakat perkotaan yang semakin rasional. Walaupun PDIP mengalami penurunan suara, Pramono tetap yakin masih banyak warga yang menaruh kepercayaan pada partainya. "Ini terbukti dari perolehan suara yang masih tertinggi," ujarnya.

Lonjakan suara ketiga partai itu memang tak datang dari alasan yang sa-ma. Demokrat, misalnya, diduga sangat diuntungkan oleh figur Yudhoyono, yang di media selalu tampak tenang dan bijaksana. "Dari wajahnya kelihatan kalau Pak SBY bersih," kata Sri Unu, ibu 62 tahun, warga Kulon Progo, Yogyakarta, kepada L.N. Idayanie dari TEMPO.

Kampanye Yudhoyono di televisi yang dikemas sederhana dianggap menarik karena menjanjikan perubahan. "Sebagai partai baru, jaringan kami sangat terbatas dan waktu memperkenalkan diri ke publik relatif pendek," kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat Bali, Dewa Gede Bagus Badra, kepada wartawan TEMPO Rofiqi Hasan.

Kesan SBY?begitu Yudhoyono biasa disapa?sebagai korban juga digenapkan ketika ia akhirnya mundur dari kabinet Megawati, Maret lalu, karena tak lagi dilibatkan dalam tugas-tugas kenegaraan. Publik yang mudah bersimpati melirik SBY. "Langkah strategis Yudhoyono sebelum keluar dari kabinet pelangi Mega telah tertata rapi," kata pengamat politik dari Centre for Strategic and International Studies, Kusnanto Anggoro. Hasilnya, survei yang dilakukan International Foundation for Election Systems bersama United Nations Development Programme dan US Agency for International Development pada 21-28 Maret lalu menunjukkan, sebagai calon presiden, Yudhoyono lebih populer daripada Megawati.

Repotnya, akibat karisma Yudhoyono, para pemilih tak lagi melirik visi partai. Siapa calon anggota legislatif Demokrat juga tak digubris publik. Di Yogyakarta, calon anggota legislatif nomor satu partai itu, misalnya, adalah Mohammad B.S., bekas anggota parlemen dari PDI pimpinan Soerjadi. Ketua Umum Partai Demokrat, Subur Budhisantoso, adalah pengurus pusat Golkar pada zaman Harmoko. Kenyataan bahwa Partai Demokrat menampung "politisi lama" diakui oleh Budhisantoso. "Partai ini seperti keranjang sampah. Tapi kami kan tetap punya prinsip," kata Budhisantoso, yang juga profesor antropologi dari Universitas Indonesia.

Menurut pengamat militer M.T. Arifin, keunggulan SBY lainnya adalah ia bekas tentara. Meski tak diperintahkan, dukungan tentara di luar jalur komando sangat mungkin terjadi karena kalangan prajurit tetap menganggap Yudhoyono sebagai tokoh panutan. Tengoklah pengakuan anggota Batalion 412 Kostrad Purworejo, Jawa Tengah. "SBY memiliki pengaruh kuat di militer," ujar prajurit yang tak mau disebut namanya itu. Tapi soal dukungan tentara itu dibantah Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin. "TNI tidak mendukung siapa pun, baik individu maupun partai, dalam pemilu legislatif ataupun presiden," ujarnya.

Meski dibantah, tak urung Sekretaris Jenderal PDIP Sutjipto menuding Partai Demokrat telah melakukan praktek mobilisasi gaya Orde Baru. Salah satu indikasinya, kata Tjipto, di setiap tangsi militer, Partai Demokrat menang mutlak. Misalnya TPS di sekitar Batalion Infanteri 406/CK Bojong, Purbalingga. "Kami khawatir ada kecurangan melalui operasi militer," ujarnya. Belum lama ini, Budhisantoso sempat pula berterima kasih kepada keluarga TNI yang telah mendukung partainya.

Lain Demokrat, lain pula PKS. Partai ini diduga melejit karena kebosanan masyarakat terhadap kinerja para politisi. Kampanye PKS yang menampilkan diri sebagai partai yang bersih dan anti-korupsi-kolusi-nepotisme cukup menarik.

Cara kader PKS menyosialisasi program partai juga menarik dan beragam. Mereka, misalnya, memberikan pendidikan kepada petani dan aktif terjun membantu daerah yang sedang tertimpa bencana. Langkah riil ini diduga mampu mendongkrak simpati massa.

Adapun PDS mendapat perhatian pemilih karena sentimen agama Kristen. Seperti diakui Ruyandi, konflik di Ambon dan Poso serta pengeboman gereja pada tahun 2000 membuat mereka harus memperjuangkan diri dengan membentuk partai. "Kami banyak dianiaya dan suara kami tak tersalurkan," kata Ruyandi.

Perolehan suara ketiga partai ini akhirnya menunjukkan bahwa konstelasi pemilih tahun 2004 sedikit-banyak telah berubah dibandingkan dengan Pemilu 1999. Lima tahun lalu, lonjakan suara PDIP disebabkan oleh karisma Mega. Kini, di tengah jatuhnya pamor Mega, diduga 8 persen pemilih PDIP menyeberang ke Partai Demokrat. Kalangan Kristen yang merasa tak terakomodasi di PDIP juga hijrah ke PDS.

Sebagian pemilih yang diharapkan memilih Partai Golkar pun diduga berpindah ke Partai Demokrat. Tokoh Golkar seperti adik mantan presiden B.J. Habibie, Fanny Habibie, juga menyeberang ke partai tiga berlian itu. Menurut Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Rully Chairul Azwar, dari perkiraan bakal memperoleh 38 persen suara dari pemilih muda dan swing voters, ternyata hanya 10 persen suara yang diperoleh Partai Beringin itu.

Konstituen PAN pun cukup banyak tersedot ke kubu PKS. Padahal, sebelumnya, PAN optimistis akan bertengger di peringkat tiga besar dengan perolehan 16 hingga 17,5 persen suara. "Kita masih menunggu hasil penghitungan seluruhnya," kata Amien di Yogyakarta, Jumat pekan lalu.

Sementara itu, dua partai lain yang tetap di lima besar, PPP dan PKB, merasa tidak terusik dengan kemunculan ketiga partai tersebut. "Konstituen kami lebih setia daripada PAN dan PBB (Partai Bulan Bintang)," kata Ketua Lajnah Pemenangan Pemilu PPP, Endin A.J. Soefihara. "Kami senang karena target suara PDIP dan Golkar merosot," kata Ketua PKB Moh. Mahfud Md.

Sejauh ini, perolehan suara hasil penghitungan KPU memang masih bisa berubah. Tapi diduga perubahan itu tak akan drastis?mengingat hingga akhir pekan lalu sudah separuh suara yang dihitung. Ketiga partai pendatang baru itu mungkin juga akan tetap berada pada posisinya yang sekarang.

Tiga menguak takdir, kata trio penyair Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin. Ketiga partai itu menguak meski tak muncul sebagai pemenang. Publik ingin perubahan, barangkali. Tapi perubahan yang sesungguhnya baru akan ditentukan setelah pemilu presiden Juli nanti.

Hanibal W.Y. Wijayanta, Jobpie Sugiharto, Ari Aji H.S. (Purwokerto)



Tamu Baru yang Mengejutkan

Ketiganya datang mengejutkan, meski bukan yang terbesar. Partai Demokrat, yang baru seumur jagung, tiba-tiba masuk lima besar penghasil suara terbanyak dalam penghitungan sementara Pemilu 2004. Suara sementara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berlipat lebih dari tiga kali dibandingkan dengan perolehan pada Pemilu 1999?sesuatu yang tak dibayangkan pengurusnya sendiri. Di beberapa daerah, perolehan suara sementara partai ini bahkan lebih tinggi dari angka akhir Pemilu 1999. Partai Damai Sejahtera (PDS) tiba-tiba dilirik pemilih nonmuslim yang sebelumnya diperkirakan penyokong PDIP dan sejumlah partai Kristen yang tak lolos electoral threshold. Pemilu?seperti juga perubahan politik di Indonesia?selalu menyimpan tikungan tajam yang mengejutkan dan tak terduga. Fenomena ketiganya hanya sebagian contoh.

AZ/Sudrajat



Perolehan Suara PKS
 19992004*
Nanggroe Aceh Darussalam16.25125.691
Sumatera Utara39.17842.475
Sumatera Barat5.352112.015
DKI Jakarta75.252872.121
Jawa Barat537.8971.039.314
Jawa Tengah133.886580.627
DI Yogyakarta27.80878.956
Jawa Timur84.517419.040
Sulawesi Selatan24.539 135.015
* Data Pusat Tabulasi Nasional Pemilu: Jumat (9 April, Pukul 21.00).

Perolehan Suara Partai Demokrat
Nanggroe Aceh Darussalam21.2626,73%
Sumatera Utara39.1785,86%
Sumatera Barat5.3525,10%
DKI Jakarta75.25220,99%
Jawa Barat537.8976,92%
Jawa Tengah133.8866,52%
DI Yogyakarta27.8085,0%
Jawa Timur84.5177,35%
* Data Pusat Tabulasi Nasional Pemilu: Jumat (9 April, pukul 21.00). Provinsi yang dipilih adalah yang perolehan suaranya telah mencapai puluhan ribu.

Mengapa Mereka Dipilih? (tiga besar alasan
Partai Demokrat
Suka dengan tokoh/pemimpinnya50%
Suka dengan program22%
Karena merupakan partai nasionalis6,5%
Partai Keadilan Sejahtera
Suka dengan program3,3
Suka dengan pemimpin17,5%
Karena partai Islam17,5%
* Sumber: Lembaga Survei Indonesia, Maret 2004. Data PDS tidak tersedia karena sampel terlalu kecil.

Perbandingan Perolehan Suara PDS (2004) dengan Dua Partai Kristen 1999
 PDS*KrisnaPDKB
Sumatera Utara37.60455.174133.370
DKI Jakarta208.7372.4091.286
Jawa Tengah134.07725.90130.341
Jawa Timur150.78230.98926.718
NTT8.86619.58967.609
Sulawesi Selatan34.74916.82034.130
* Hasil sementara


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data