Panser dari Sadr City Muda, trengginas, radikal, berdarah biru, Muqtada al-Sadr menyatukan perlawanan Syiah dan Sunni terhadap pendudukan Amerika di Irak. |
Pada suatu Jumat siang di Sadr City, seorang pemuda bercambang dan berkacamata tebal tegak di atas podium masjid. Sorot matanya tajam, gaya bicaranya lugas. "Irak dan Palestina memiliki takdir yang sama, harus memerangi para penjajah," ujarnya dengan berapi-api. Dia juga mendeklarasikan perang melawan pasukan koalisi pimpinan Amerika. "Orang Irak yang bermartabat tidak akan menerima niat jahat Amerika menjajah Irak."
Si cambang itu bernama Muqtada al-Sadr, 31 tahun, seorang tokoh muda Syiah yang tengah naik daun. Di mata pengikutnya, ia pemimpin yang berwibawa dan menyimpan karisma. Di mata Kepala Pemerintahan Transisi, Paul Bremer, ia layak menjadi buron. Sejak 4 April silam, Al-Sadr telah masuk daftar kejaran pasukan koalisi yang dipimpin Amerika. Dosanya adalah menjadi dalang perlawanan bersenjata. Bahkan ia mencatat sebuah langkah fenomenal dalam gerakan perlawanan terhadap pendudukan Amerika, yakni menyatukan kaum Syiah dan Sunni dalam melawan pasukan koalisi.
Senjata Sadr dalam melawan tentara koalisi adalah pasukan paramiliter Imam Mahdi. Ia mengklaim bahwa eksponen Mahdi mencapai 10 ribu pemuda. Amerika menduga hanya berkisar 3.000 orang. Milisi yang amat loyal pada Sadr inilah yang sepanjang dua pekan kemarin terlibat baku tembak dengan pasukan koalisi.
Muqtada al-Sadr memiliki garis keturunan ulama pejuang. Ayahnya, Ayatullah Muhammad Sadiq al-Sadr, termasuk ulama terbesar Syiah pada dekade 1990. Sadiq al-Sadr terus berdakwah di Najaf sembari tak segan mengkritik betapa korupnya pemerintah Saddam Hussein. Pada Februari 1999, Sadiq al-Sadr bersama dua kakak Muqtada tewas dibunuh intelijen militer Saddam. Jauh sebelumnya, sekitar 1980, ia sudah kehilangan Muhammad Baqir Sadr, pamannya. Ulama yang dianggap sederajat dengan pemimpin revolusi Iran, Ayatullah Ali Khomeini, ini ikut mendirikan Partai Dakwah yang menjadi oposisi Saddam.
Kini Muqtada meneruskan perjuangan "dinasti" Al-Sadr. Ia mengantongi segala modal menjadi pemimpin Syiah di masa depan: muda, radikal, keturunan ulama pejuang, dan berdarah Arab tulen. Isu keturunan Arab atau non-Arab masih jadi fokus utama bagi warga Irak. Satu-satunya ganjalan bagi Al-Sadr muda ini dibanding tokoh Syiah sekaliber Ayatullah Ali Sistani, yang keturunan Persia, misalnya, dia belum mencapai tingkatan marja (ulama yang menguasai segala hukum Islam). Padahal faktor ini menjadi penentu bagi umat Syiah, apakah seseorang layak dipanut sebagai imam.
Muqtada al-Sadr mulai unjuk kekuatan setahun silam di Najaf. Ketika itu para pengikutnya mengepung rumah Ayatullah Sistani dan memintanya keluar Irak. Ulama senior itu dianggap keturunan Persia dan tidak layak menjadi pemimpin di Irak. Beruntung, sekitar 1.500 kepala suku turun tangan dan meminta mereka membubarkan diri.
Selain menteror Sistani, milisi Sadr juga diduga terlibat pembunuhan Ayatullah Abdul Majid al-Khu'i, anak ulama besar Najaf, Ayatullah al-Khu'i. Pasalnya, Abdul Majid dituding terlalu lunak dan telah bersekutu dengan Amerika. Pada 3 April lalu, Mustafa Yaqubi, orang dekat Sadr, ditangkap. Ini pula yang menjadi dasar Bremer menetapkan status "buron" atas Sadr.
Dibanding tokoh Syiah lain, Muqtada al-Sadr amat keras menentang pendudukan tentara koalisi. Kelompoknya membenci siapa pun warga Irak yang sudi bekerja sama dengan pasukan koalisi. Bahkan ia menolak eksistensi Pemerintahan Transisi Irak, dan mendeklarasikan kabinet bayangan. Targetnya jelas: Irak merdeka dan menerapkan hukum Islam sebagai dasar negara.
Profesor Yitzhak Nakash, penulis buku The Shi'is of Iraq dan pengajar bidang studi Islam dan Timur Tengah di Universitas Brandeis, tak menyangka dukungan terhadap Sadr begitu kuat. Mulanya, ketika Sadr menyuarakan kabinet bayangan pada 10 Oktober 2003, pendukungnya hanya berkisar ratusan. "Kini bisa mencapai ribuan," kata Yitzhak.
Dukungan pada Sadr bahkan datang dari pemimpin spiritual tertinggi Ayatullah Ali Khamenei dan bekas presiden Hashemi Rafsanjani. Mereka membandingkan sosoknya dengan Hassan Nasrallah, pemimpin Hizbullah yang berhasil mengusir tentara pendudukan Israel dari Libanon.
Sadr memang bukan Hassan. Tapi sejarah bisa saja berulang.
Rommy Fibri (Aljazeera, Asianews, CFR)
|