Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXXIII/12 - 18 April 2004
   
Ilmu dan Teknologi

Hipersonik, Si Pemangkas Jarak

Pesawat hipersonik kembali dikembangkan. Dengan pesawat itu, dua titik terjauh di bumi bisa ditempuh dalam dua jam.

Sepuluh detik adalah sepuluh kedipan mata. Tapi, dalam waktu yang singkat itu di Teluk California, Amerika Serikat, Sabtu tiga pekan lalu, terjadi rekor yang mengubah wajah dunia. Ketika matahari menyala terang di lazuardi, sebuah pesawat mungil membelah angkasa dengan kecepatan mencengangkan: tujuh kali kecepatan suara (Mach 7) atau sekitar 7.700 kilometer per jam! Si mungil itu hanya terbang 10 detik dalam kecepatan itu, namun rekor tercepat telah dipecahkan. Sebagai pembanding, pesawat supersonik Concorde pun cuma terbang dua kali kecepatan suara. Boeing 747 yang paling gres hanya bisa melesat maksimum pada kecepatan 900 kilometer per jam.

Dengan rekor itu, pesawat hipersonik eksperimental yang diberi nama X-43A itu bisa menjadi alat transportasi yang andal dalam beberapa tahun mendatang. Sekali terbang, sebuah titik di bumi, di mana pun, bisa dijangkau pesawat itu hanya dalam waktu dua jam?mimpi yang pernah diidam-idamkan oleh Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan pada 1986. "Bayangkan jika dari Washington ke Tokyo cuma dua jam," kata Reagan ketika meluncurkan program riset pesawat hipersonik milik Amerika. Prototipe pesawat yang diuji di depan Reagan itu melaju dengan kecepatan minimum lima kali kecepatan suara atau Mach 5.

Pesawat X-43A lebih cepat. Jika kelak menjelma menjadi pesawat komersial sungguhan, X-43A akan menunjukkan betapa kecilnya dunia. Jakarta-New York bisa ditempuh kurang dari dua jam.

Itu kalau digunakan untuk pesawat komersial. Bila dipakai untuk pesawat tempur, bisa dibayangkan betapa digdayanya Amerika Serikat. Pesawat itu bisa menjadi mesin pembunuh yang bergerak secepat kilat. Sasaran-sasaran pengeboman akan cepat dicapai dan dihancurkan oleh pesawat yang bentuknya seperti pesawat siluman itu.

Rahasia kecepatan pesawat yang ukurannya kurang dari seperseratus Concorde itu terletak pada roket yang menggendong pesawat itu dan mesin jetnya. Sebelum mengangkasa, pesawat tak berawak ini memang diletakkan di moncong roket Pegasus. Selanjutnya, roket ini dibawa terbang oleh pesawat pengebom B-52 yang telah dimodifikasi.

Pada 27 Maret lalu pesawat pengebom jarak jauh itu terbang di atas Teluk California dengan membawa Pegasus dan X-43A hingga ketinggian 12 ribu meter. Pada ketinggian itulah Pegasus dilepaskan. Ketika roket dilepaskan, ia langsung melejit ke langit hingga ketinggian 31 ribu meter. Di langit yang tak ada gangguan turbulensi awan itulah Pegasus "berpisah" dengan X-43A. Pada saat bersamaan, mesin jet pesawat kecil itu, yang harganya US$ 230 juta atau Rp 197,8 miliar, mulai menderu, udara panas menyembur dan mendorong pesawat hingga terbang mencapai tujuh kali kecepatan suara. Selama 10 detik, pesawat itu menjajal berbagai manuver di udara, sebelum akhirnya jatuh ke laut.

"Ini awal dari revolusi dunia penerbangan," kata Vincent L. Rausch, Kepala Pusat Riset Langley milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), di Hampton, Virginia, AS.

Kunci revolusi itu sebenarnya terletak pada mesin jet tipe baru yang disebut scramjet. Ini sebenarnya adalah kependekan dari supersonic combustions ramjets, suatu istilah yang menunjuk pada mesin jet termodern yang memanfaatkan aliran udara berkecepatan tinggi untuk pengapian bahan bakar. "Ini adalah mesin yang sangat efisien untuk terbang," tutur Joel Sitz, manajer proyek pesawat X-43A, di Pusat Riset Penerbang- an Dryden NASA, yang berkantor di Edwards, California.

Tak seperti mesin roket yang harus menggotong bahan bakar hidrogen dan oksigen cair, scramjet cuma membawa hidrogen. Mesinnya cukup pintar untuk mengambil oksigen di udara. Inilah yang membuat pesawat X-43A sangat efisien dan bisa melenggang tanpa beban berat.

Dibanding mesin jet konvensional yang biasa dipakai berbagai pesawat komersial seperti Boeing 747 atau Airbus, scramjet juga lebih sederhana. Mesin jet X-43A itu tak memiliki bilah-bilah kompresor yang berputar. Pada pesawat yang berkecepatan di bawah kecepatan suara (subsonik) seperti Boeing atau Airbus, kompresor itu diperlukan untuk memampatkan udara agar menghasilkan semburan yang dahsyat.

Untuk pesawat hipersonik seperti X-43A, jelas kompresor itu bisa digudangkan. Dengan membuat mulut ruang pengapian yang sempit, udara yang mengalir dengan kecepatan 1.645 meter per detik bisa mampat tanpa kompresor dan bisa menghasilkan semburan yang kencang. Semburan hebat dari mesin sederhana itulah yang membuat pesawat itu bisa membelah langit biru dengan dahsyat.

Dan kecepatan yang telah dapat dicapai oleh pesawat yang dikembangkan sejak lebih dari satu dekade silam itu memang berkat dorongan roket Pegasus. Namun, dorongan itu lebih hebat berkat semburan udara panas dari scramjet pada pesawat yang dibikin dari aluminium dan baja ini. Kecepatan itu diamati oleh sensor yang dipasang di badan pesawat?sedikitnya dipasang 500 sensor untuk mencatat data-data penerbangan. "Sungguh ini pesawat yang hebat," ujar Preston H. Carter, manajer program pesawat hipersonik Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA), lembaga riset di bawah NASA

Keberhasilan X-43A ini membuka pintu revolusi industri penerbangan. Sudah bertahun-tahun para insinyur penerbangan bermimpi membangun pesawat hipersonik, tapi selalu gagal. Pada 2 Juni 2001, NASA telah berusaha menerbangkan versi awal X-43A, tapi penerbangan perdana itu kandas. Mesin roket Pegasus ngadat di ketinggian 6,9 kilometer. Butuh tiga tahun untuk menyempurnakan pasangan Pegasus dan X-43A itu.

Keberhasilan itu membuat banyak ilmuwan kembali yakin terhadap masa depan pesawat-pesawat supersonik dan hipersonik. Tahun lalu, keyakinan mereka sempat goyah ketika maskapai penerbangan British Airways dari Inggris dan Air France dari Prancis memensiunkan Concorde karena merugi. Kini, semangat baru mengalir ke berbagai laboratorium riset pesawat hipersonik. Di pabrik Boeing Co., misalnya, para insinyur kini giat mempelajari rancangan pesawat hipersonik yang belum terwujud, yakni HyperSoar.

Carter, yang juga pakar pesawat dari University of Maryland, kini juga wira-wiri mencari sponsor untuk mendanai prototipe pesawat hipersoniknya sepanjang 16 meter, 4 kali panjang pesawat X-43A. Pesawat yang bisa terbang di ketinggian 60 ribu meter itu kabarnya lebih mudah dikembangkan menjadi pesawat hipersonik sebesar Boeing.

NASA juga tak berhenti pada X-43A. Sekitar September mendatang, NASA akan meluncurkan pesawat yang bisa melaju sampai enam kali kecepatan suara selama 30 detik. Saat ini memang ada sederet proyek pesawat hipersonik?yang oleh NASA disebut pesawat Hyper-X, dari pesawat X-15, X-43A, hingga X-50?yang tengah dikembangkan.

Salah satu proyek yang kini sedang dikebut pengerjaannya adalah menerbangkan X-43A pada kecepatan Mach 10, setara dengan 10 kali kecepatan suara. Bila tahun depan proyek itu tercapai, mereka yakin 20-25 tahun lagi pesawat hipersonik bisa terwujud. Dan militer AS saat ini sudah memesan dan menantikan pesawat yang bisa membuat dunia menjadi seperti selebar daun kelor itu.

Burhan Sholihin (berbagai sumber)



Kencangnya Jet Eksotis

Lebih dari tiga tahun NASA mengembangkan mesin jet modern yang sederhana tapi hebat. Mesin inilah yang mengantarkan pesawat X-43A melambung di angkasa dengan kecepatan tujuh kali kecepatan suara.

Udara mengalir dengan kecepatan supersonik, 1.645 meter per detik. Di mulut ruang bakar yang menyempit, udara tertekan dan menjadi lebih padat.

Hidrogen disuntikkan ke ruang pengapian. Hasilnya, semburan udara yang dahsyat. Pesawat ini membawa dua tangki hidrogen dengan kapasitas 14,5 liter, tapi cuma membawa 1,3 kg hidrogen yang dipadatkan.

Mesin Scramjet
Mesin ini dioperasikan dengan membakar hidrogen dalam aliran udara kecepatan tinggi. Tak seperti mesin jet konvensional, scramjet tak memiliki baling-baling kompresor yang bertugas memampatkan udara. Kompresor yang berputar itu hanya diperlukan oleh pesawat yang terbang di bawah kecepatan suara.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data