Horor dalam Cerita Panji Film yang mengulas intrik di dalam istana. Perkembangan ceritanya lemah, meski dibantu editing Francis Coppola. |
The Legend of Suriyothai Sutradara: Chatrichalerm Yukol Pemain: M.L. Piyapas Bhirombhakdi, Sarunyoo Wongkrchang, Sorapong Chatri Produksi: Sony Pictures
Di luar istana, angin bertiup kencang, daun-daun terbang. Di layar, seorang bocah berpakaian bangsawan merengek. Ia mengantuk, tapi bukan cuma itu. Pangeran Radha yang masih balita itu hanya sanggup menangkap "sesuatu" di balik wajah-wajah orang dewasa yang tawar dan beku di sekelilingnya. Sesuatu yang menakutkan, tapi tidak diketahuinya secara persis. Ia celingukan, mencari-cari ibunya.
Ia ingin pulang, tapi politik menampik permintaannya. Perlahan-lahan, bak menjalani ritual suci, dua orang lelaki menyelimuti bocah itu dengan kain merah, dan musik kematian dibunyikan. Ya, sebuah kudeta telah terjadi, si penguasa telah menjadi pecundang, dan sekarang—tanpa memandang usia—seorang algojo menebas lehernya yang kurus dalam sebuah eksekusi di muka umum. The Legend of Suriyothai, sebuah film produksi Thailand, bercerita tentang politik istana abad ke-16 dengan lukisan konflik mencorong: sembilan puluh sembilan persen kebiadaban, satu persen kebijaksanaan.
Istana Kerajaan Ayothya penuh intrik, persaingan, pengkhianatan, perselingkuhan, bermacam pembunuhan, fitnah, dan berbagai taktik menghabisi lawan. Tapi satu persen The Legend of Suriyothai berisi perjalanan Suriyothai. Ia perempuan wangsa Pharauang, aristokrat papan bawah, yang "naik kelas" setelah dinikahi seorang pangeran papan atas, Pangeran Tien. Suriyothai wanita pemberontak. Mulanya, atas nama cinta, ia menolak Pangeran Tien. Tapi hatinya berubah. Ia memang mencintai Lord Prien, pemuda tampan sahabatnya sejak kecil. Tapi, atas nama kepentingan orang banyak, ia menerima pinangan Pangeran Tien.
The Legend epos yang diawali dan ditutup oleh sosok Suriyothai. Tapi film garapan sutradara Chatrichalerm Yukol ini—anggota keluarga Kerajaan Thailand sendiri—menghampiri episode sejarah abad ke-16 itu dengan sejumlah pendekatan. Ada pertempuran-pertempuran seperti Seven Samurai-nya Kurosawa, banjir darah seperti Braveheart-nya Gibson, atau kepahlawanan mirip Lawrence of Arabia-nya Lean. Dan di luar itu, ada "Lady Macbeth" dalam karakter Srisudachan (Mai Charoenpura), seorang perempuan wangsa U-Thong yang berambisi mengembalikan dinasti nenek moyangnya ke Ayothya.
Rangkaian pertumpahan darah itu diawali dengan pemandangan menyentuh: seorang raja tua yang meninggalkan dunia dengan hati waswas. Di atas ranjang kematiannya, Ramathibodi II, raja itu, memang berhasil memaksa Chai Raj—salah satu kemenakannya yang tegas dan juga bernafsu menjadi raja—bersumpah. Sang Raja mengalihkan takhta ke tangan putranya, seorang bocah ingusan, lalu Chai Raj menyatakan kesetiaannya terhadap si bocah. Tapi, tak lama kemudian, godaan kudeta terkuak lebar: negara kacau, rakyat menderita, dan keluarga si bocah menggunakan peristiwa ini bagai kesempatan emas buat memperkaya diri.
Dari kudeta bermandi darah itu, muncullah Srisudachan, pendamping utama Chai Raj yang telah menjadi raja. Srisudachan cantik bukan kepalang, tapi cintanya kepada Chai Raj kalah pekat dibandingkan dengan ambisinya. Ia berselingkuh, mengatur plot buat menghabisi tiap-tiap lawan politik, menghabisi saksi-saksi, dan membersihkan setiap rintangan yang menghalangi kembalinya Dinasti U-Thong. Itulah perjalanan panjang yang berakhir pada kematian sendiri, serta mengantarkan Pangeran Tien, suami Suriyothai, ke takhta tertinggi Ayothya.
The Legend of Suriyothai menampilkan latar memukau: ratusan gajah, ribuan tentara di medan tempur, dokter dari Cina dan Barat, tentara Portugis bayaran, penggunaan meriam di medan tempur. Tapi kerja keras itu ironisnya tak menolong menjelaskan perkembangan plot. Cerita bergulir tanpa kepedulian terhadap penonton: nama-nama baru muncul silih-berganti, tokoh-tokoh nongol tanpa pengembangan karakter, dialog tak cukup kuat buat menjelaskan peristiwa sejarah yang besar. Alhasil, sutradara memperlakukan adegan demi adegan seperti orang membuka buku sejarah tanpa interes khusus, kecuali menuntaskan bab yang dibacanya.
Chatrichalerm Yukol sutradara hebat, tapi memikul beban mental. Sutradara Francis F. Coppola—kawannya sendiri—ikut mengedit dan menambah beberapa adegan baru; keluarga kerajaan menanggung ongkos besar: US$ 20 juta. Satu-satunya kesan cemerlang adalah penampilan perempuan selaku sutradara aneka peristiwa politik. Kita tahu, lelaki bernama Ken Arok berkomplot dan berkhianat terhadap Mpu Gandring, aset kekuatan militer paling sakti saat itu. Setelah Tunggul Ametung habis, jatuhlah Tumapel ke tangannya dan Ken Dedes ke pelukannya. Tapi The Legend of Suriyothai punya Srisudachan yang jelita, tak kalah licin.
Idrus F. Shahab
|