|
Ini kisah tentang Sultan Khan, lelaki Afganistan yang menolak tunduk pada rezim Taliban. Secara sembunyi-sembunyi Khan memperjualbelikan buku demi membuka cakrawala masyarakat Kabul. Tak jarang aktivitas ini menyeret Khan ke penjara Taliban.
Adalah Asne Seierstad, jurnalis dari Norwegia, yang kemudian menyuguhkan kehidupan Sultan Khan dalam buku bertajuk The Bookseller of Kabul. Buku setebal 288 halaman iniedisi paperback terbit dua pekan laluditulis berdasarkan pengalaman nyata Seierstad saat ia diperbolehkan tinggal beberapa bulan di rumah Sultan Khan di Kabul.
Buku Seierstad menjadi istimewa karena sosok unik Sultan yang mencoba bertahan dalam situasi yang amat brutal. Selama 30 tahun dia jatuh-bangun. Sering buku dagangannya dibakar oleh tentara Rusia ataupun Taliban. Tak jarang pula dia harus menempuh perjalanan panjang ke Pakistan demi mendapatkan buku-buku pelajaran untuk anak sekolah.
Melalui keluarga Sultan Khan, Seierstad juga menggali berbagai segi kehidupan muslim di Kabul, antara lain tentang perempuan yang dibunuh dan diperjualbelikan atas nama kehormatan keluarga, poligami, dan tentang burka yang mengungkung.
You've Got Gmail
Situs pencari Google segera meluncurkan layanan surat elektronik bernama Gmail. Tidak tanggung-tanggung, kapasitas penyimpanan e-mail yang ditawarkan mencapai 1 gigabyte untuk tiap pemakai. Ini berarti 100 kali lipat lebih banyak ketimbang kapasitas yang ditawarkan Yahoo Mail dan Microsoft MSN Hotmail.
Tapi hati-hati. Kerahasiaan Anda berisiko terbongkar bila menggunakan fasilitas e-mail Google. "Salinan e-mail, meskipun sudah dihapus, akan tetap tersimpan dalam sistem kami," demikian keterangan pihak Google. Para pemasang iklan juga dibolehkan melakukan scanning untuk mengirim e-mail penawaran produk kepada pemakai Gmail.
Akibatnya, Google menuai banyak kritik. Tidak sedikit yang merisaukan adanya orang atau pihak tertentu yang sengaja membaca e-mail yang tersimpan di dalam kotak surat (mailbox) konsumen Gmail. "Privasi pemakai terancam," kata Simon Davies, Direktur Privacy International.
Alat Bantu Baca
Selain kulit, mata adalah penanda bagi usia yang mulai menanjak ke puncak ketuaan. Jika huruf-huruf terlihat begitu kecil seperti semut berbaris, ada Quicklook, sebuah alat produksi Ash Technologies, Irlandia, yang harganya US$ 795 atau sekitar Rp 6,7 juta per buah. Tapi kemampuan Quicklook sepadan dengan harganya. "Dia membawa kembali apa yang selama ini saya nikmati," kata Julius Mandalis, 84 tahun. Lelaki yang punya hobi baca buku ini telah beberapa tahun mengurangi kegiatan membaca lantaran matanya tergerus usia.
Sepintas, Quicklook serupa dengan alat asisten digital pribadi (PDA) tapi sedikit lebih besar dan lebih tipis. Alat ini dilengkapi dengan kamera video digital dan layar kristal likuid (LCD) berukuran 10 sentimeter. Teknologi optik Quicklook memungkinkan pembesaran huruf, angka, dan gambar kecil 6-12 kali lipat.
JEJAK MAYA
http://www.pimademocrats.org/votingreport /votingintegrity.htm Situs Suara Pemilu
Hari-hari ini penghitungan suara hasil Pemilu 2004 menjadi bacaan wajib warga Indonesia. Banyak pihak mengeluhkan sistem komputer penghitung milik Komisi Pemilihan Umum yang lamban. Bahkan sempat sistem komputer mengalami kemacetan total hingga seluruh data harus ditata ulang.
Sebetulnya, persoalan tersebut tidak cuma terjadi di negeri kita. Pada tahun 2000, Amerika Serikat mengalami hal serupa. Sebuah situs, menyuguhkan analisis tentang pemilu 2000 di Amerika.
Titik-titik yang menjadi celah kelemahan sistem penghitungan suara disajikan dengan lengkap oleh pengelola situs ini.
|