Sedia Payung ala Bank Negara Kredit macet bank-bank pemerintah turun. Manajemen menaikkan provisi untuk berjaga-jaga. |
RAMALAN kalangan ekonom bahwa bank-bank pemerintah akan kembali terjerat kredit macet tampaknya tak sepenuhnya terbukti. Tengoklah rapor mereka yang baru terbit bulan lalu. Bank-bank pelat merah seperti PT Bank Negara Indonesia Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia Tbk., dan PT Bank Tabungan Negara justru mencatat penurunan kredit macet bersih. Hanya PT Bank Mandiri Tbk. yang mencatat kenaikan.
Adalah ekonom INDEF, Dradjad H. Wibowo, yang pernah mensinyalir pada semester pertama tahun lalu ada beberapa bank?terutama bank negara?yang kembali melakukan penyelewengan dengan modus lama. Bentuknya: penggelembungan plafon kredit, pelanggaran prinsip "know your customer", penyuapan yang melibatkan pegawai bank dan debitor, serta pelanggaran sistem manajemen risiko.
Jika dibiarkan, praktek-praktek tersebut akan menghancurkan perbankan, persis seperti yang terjadi pada 1997-1998. Pelan-pelan, kredit macet akan naik kembali menggerogoti keuntungan, modal, dan likuiditas bank. "Pada titik tertentu, modalnya menjadi negatif dan pemerintah harus menginjeksi lagi," kata Dradjad ketika itu.
Ramalan Dradjad memang hanya terlihat pada Bank Mandiri. Kredit macet bersihnya naik dari 4,92 persen menjadi 4,93 persen. Sedangkan bank yang lain justru mengalami penurunan (lihat tabel). Meskipun demikian, ada benang merah dalam rapor ketiga bank tersebut, yaitu naiknya provisi atau dana cadangan?yang biasa disebut penyisihan penghapusan atas aktiva produktif.
Bagi Bank Mandiri?yang menaikkan cadangan dari Rp 8,38 triliun menjadi Rp 11,82 triliun?memang tak aneh, karena kredit macetnya juga meningkat. Tapi terasa janggal buat BNI, BRI, ataupun BTN. Untuk apa mereka memompa dana cadangan jika kredit macetnya turun?
BRI menyediakan dana cadangan hingga Rp 4,47 triliun, padahal yang wajib dibentuk cuma Rp 2,13 triliun. BNI lebih dahsyat. Dana cadangan yang mesti disediakan sebetulnya cuma Rp 3,77 triliun, namun manajemen menyiapkan stok hingga Rp 6,39 triliun. Sedangkan BTN menyiapkan dana Rp 721, 3 miliar, padahal yang diwajibkan hanya Rp 559,1 miliar.
Analis perbankan Lin Che Wei menduga kenaikan stok cadangan itu terkait dengan buruknya pengelolaan aset. Setelah mendapat suntikan dana rekapitalisasi yang besar, manajemen bank terlena. "Mungkin injeksinya berlebihan," ujar Lin Che Wei. Sekarang, ia menambahkan, kelebihan injeksi itu mungkin sudah makin tipis, sementara pengelolaan aset tetap tak membaik.
Che Wei curiga ada kredit macet yang disembunyikan. "Kita tak tahu berapa jumlah kredit macet yang sesungguhnya," katanya. Karena itulah manajemen bank memompa dana cadangannya untuk berjaga-jaga. Tapi Direktur Utama BNI, Sigit Pramono, menepis kecurigaan itu. Tindakan meningkatkan dana cadangan, katanya, justru menunjukkan sikap bank yang prudent. "Itu berarti kami ingin aman dan memperlihatkan sikap kehati-hatian yang konservatif."
Pengelolaan kredit macet di BNI, menurut Sigit, sejauh ini cukup profesional. Belum ada rencana menghapusbukukan kredit macet baru. Namun, untuk kredit yang sudah dihapusbukukan senilai Rp 2 triliun, manajemen berencana menghapus-tagih. Kredit busuk itu ada yang berumur 20 tahun, bahkan warisan sejak BNI lahir. "Kami sudah tak mungkin lagi menagih," Sigit mengeluh.
Senada dengan Sigit, Sekretaris Perusahaan BRI, Yadi Supriatno, juga menampik besarnya penyediaan provisi lantaran adanya kredit busuk siluman. Kenaikan cadangan, menurut Yadi, lebih untuk mengantisipasi kerugian yang ditimbulkan oleh kasus pembobolan pada dua cabang tahun lalu senilai Rp 294 miliar.
Dalam mengelola aset kredit, manajemen BRI mengaku selalu berhati-hati. Aset yang baik dipelihara supaya tetap oke, sedangkan yang buruk dirawat agar membaik. Karena itu, sejauh ini tak ada rencana menghapusbukukan kredit macet. "Kami harus mempertimbangkan pengembalian yang masih mungkin diperoleh jika melakukan langkah itu," ujar Yadi. Jadi, ibaratnya tindakan tersebut sedia payung sebelum hujan.
Nugroho Dewanto, Y. Tomi Aryanto
|