Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 07/XXXIII/12 - 18 April 2004
   
Arsip

TEMPO, 13 Juni 1992

Pada Pemilihan Umum 1992, perolehan suara Golongan Karya melejit jauh meninggalkan Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia. Kedua partai yang disebut terakhir itu seolah-olah hanya pelengkap penderita. Dalam lima kali pemilu selama Orde Baru yang selalu dimenangi Golkar itu, hanya Partai Persatuan Pembangunan yang bisa membuat kejutan dengan beberapa kali mengalahkan Golkar di tingkat provinsi, seperti di DKI Jakarta (1977) dan Aceh (1977 dan 1982).

Setelah itu, tak ada lagi cerita Golkar kalah. Bahkan kemenangan Golkar makin tinggi. Pada 1992 itu, dalam penghitungan sementara beberapa hari setelah pencoblosan, Golkar meraih hampir 78 persen suara atau lima persen di atas target. Perolehan angka itu juga lima persen di atas Pemilu 1987. Dan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia hanya bisa melontarkan soal kecurangan yang dilakukan sang pemenang. Tak ada hal lain yang bisa dilakukan kedua partai ini. Tapi, seperti tahun-tahun sebelumnya, isu itu menguap saja.

Hari-hari ini, Komisi Pemilihan Umum juga tengah melakukan penghitungan suara pemilu untuk anggota legislatif. Tapi, tak seperti Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tampaknya sulit mempertahankan kemenangan yang diraihnya pada Pemilu 1999. Pada pemilu itu, PDI Perjuangan berhasil meraih suara 33,7 persen. Namun, pada pemilihan tahun ini, partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu agaknya sulit meraih suara seperti tahun 1999. Sampai Jumat pekan lalu, suara PDI Perjuangan tak beranjak dari angka 20 persen.

Dan seperti pada zaman Orde Baru, sejumlah partai mulai melayangkan protes perihal kecurangan yang dilakukan partai yang mendapatkan suara besar seperti Golkar dan PDI Perjuangan. Lembaga-lembaga pemantau pemilu melontarkan hal yang sama. Sejauh ini, belum ada tindakan nyata yang dilakukan Panitia Pengawas Pemilu untuk memeriksa berbagai laporan dan menindak para pelakunya jika mereka memang terbukti melanggar.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data