|
Pada Pemilihan Umum 1992, perolehan suara Golongan Karya melejit jauh meninggalkan Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia. Kedua partai yang disebut terakhir itu seolah-olah hanya pelengkap penderita. Dalam lima kali pemilu selama Orde Baru yang selalu dimenangi Golkar itu, hanya Partai Persatuan Pembangunan yang bisa membuat kejutan dengan beberapa kali mengalahkan Golkar di tingkat provinsi, seperti di DKI Jakarta (1977) dan Aceh (1977 dan 1982).
Setelah itu, tak ada lagi cerita Golkar kalah. Bahkan kemenangan Golkar makin tinggi. Pada 1992 itu, dalam penghitungan sementara beberapa hari setelah pencoblosan, Golkar meraih hampir 78 persen suara atau lima persen di atas target. Perolehan angka itu juga lima persen di atas Pemilu 1987. Dan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia hanya bisa melontarkan soal kecurangan yang dilakukan sang pemenang. Tak ada hal lain yang bisa dilakukan kedua partai ini. Tapi, seperti tahun-tahun sebelumnya, isu itu menguap saja.
Hari-hari ini, Komisi Pemilihan Umum juga tengah melakukan penghitungan suara pemilu untuk anggota legislatif. Tapi, tak seperti Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tampaknya sulit mempertahankan kemenangan yang diraihnya pada Pemilu 1999. Pada pemilu itu, PDI Perjuangan berhasil meraih suara 33,7 persen. Namun, pada pemilihan tahun ini, partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu agaknya sulit meraih suara seperti tahun 1999. Sampai Jumat pekan lalu, suara PDI Perjuangan tak beranjak dari angka 20 persen.
Dan seperti pada zaman Orde Baru, sejumlah partai mulai melayangkan protes perihal kecurangan yang dilakukan partai yang mendapatkan suara besar seperti Golkar dan PDI Perjuangan. Lembaga-lembaga pemantau pemilu melontarkan hal yang sama. Sejauh ini, belum ada tindakan nyata yang dilakukan Panitia Pengawas Pemilu untuk memeriksa berbagai laporan dan menindak para pelakunya jika mereka memang terbukti melanggar.
|