Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/XXXIII/29 Maret - 04 April 2004
   
Lingkungan

Racun Bebal di Babelan

Sumur minyak Babelan menelan korban. Amdalnya baru dibahas.

Pagi itu tak lagi dingin. Mentari sudah beranjak naik, tapi kehangatan sinarnya tak bisa membangunkan perkampungan yang ditinggalkan penghuninya itu. Kamis dua pekan lalu, di pekarangan, di sudut-sudut kampung, bangkai ayam dan kambing masih berserakan. Perkampungan di Desa Buni Bakti, Babelan, pun tersaput senyap yang mencekam.

Biang semua itu adalah kebocoran satu dari enam belas sumur minyak milik Pertamina, 20 kilometer dari Bekasi atau 40 kilometer dari jantung Jakarta. Selasa pagi, 16 Maret lalu, warga yang mengawali kegiatan rutinnya terkejut oleh ledakan yang terdengar hingga radius seribu meter. Kepanikan makin merebak ketika bau gas menyebar menusuk hidung. "Dada kami sesak. Mata perih. Kami berlarian mencari perlindungan," kata Yamin, warga yang rumahnya hanya beberapa puluh meter dari sumber ledakan.

Siang itu pula ribuan warga dari dua desa terdekat, Desa Buni dan Hurip Jaya, mengungsi. Mereka membanjiri gedung sekolah, kantor desa, dan madrasah di kampung yang tak terjangkau gas. Menurut data Departemen Kesehatan, 204 warga dirawat di pusat kesehatan masyarakat terdekat. Mereka mengeluh sulit bernapas atau merasa lemas. Dua orang di antaranya malah harus dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Bekasi.

Bambang Busono, Manajer Umum Pertamina Daerah Operasi Hulu Jawa Bagian Barat, membenarkan adanya semburan liar (blow-out) gas tanpa api di sumur minyak Pondok Tengah 01. Kebocoran terjadi pada silang sembur (X-three) di bagian kepala sumur. Menurut Bambang, pipa kepala sumur tak bisa menahan desakan gas perut bumi yang jauh melebihi daya tahannya.

Untuk menghentikan kebocoran, tim Keselamatan dan Kesehatan Kerja Wilayah Cirebon diturunkan. Mereka mencoba memasang tudung penutup (capping) pada kepala sumur. Mencegah terjadinya kebakaran, petugas pun menyemprot sumur dengan air dari berbagai arah. Minyak yang telanjur tumpah kemudian dialirkan ke kolam penampungan. Seminggu kemudian, semburan gas setinggi 20 meter itu baru bisa jinak. Tapi sempat terjadi kebakaran ketika petugas memasang pipa penutup semburan (blow-out preventer). Diduga, kebakaran dipicu percikan api akibat gesekan logam.

Semburan dan kebakaran akhirnya memang teratasi. Tapi masalah tak langsung pergi. Embun minyak dan gas yang telanjur muncrat ke udara terlalu bebal untuk bisa dibersihkan begitu saja. Maklum, berat jenis gas dan minyak lebih tinggi ketimbang udara. Saat udara mendingin, misalnya pagi hari, gas dan embun minyak turun ke permukaan bumi. Selain menempel di tumbuhan, gas dan minyak itu terisap hewan atau manusia.

Empat hari setelah ledakan, ketika gas masih menyembur, pihak Pertamina menjamin gas dari sumur Pondok Tengah 01 aman bagi lingkungan dan manusia. Mereka merujuk hasil penelitian tim dari Elnusa yang, menurut juru bicara Pertamina, Sri Kustini, tak menemukan zat berbahaya. Tapi siapa mau percaya begitu saja? Banyaknya penderita masalah pernapasan serta matinya ratusan ternak tetap mencemaskan warga. Lagi pula, sampai saat itu, bau gas masih tercium hingga radius satu kilometer.

Bahkan jajaran Departemen Kesehatan punya kekhawatiran senada. Departemen ini kemudian menurunkan tim dari Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Jakarta. Tujuh anggota tim itu ditugasi meneliti sampel air, tanah, dan udara di sekitar lokasi kejadian. Target utamanya memastikan ada atau tidaknya zat berbahaya.

Setelah lima hari bekerja, tim Departemen Kesehatan menghasilkan kesimpulan bernada peringatan. "Kami tak berani menyatakan udara di sana aman," kata Maaruf, Kepala BTKL Jakarta, yang sekaligus memimpin tim Departemen Kesehatan. Pada tahap awal, menurut Maaruf, pengujian laboratorium memang tak menemukan kandungan zat pencemar tanah, air, dan udara yang melampaui ambang batas. Kandungan nitrogen dioksida (NO2), sulfur dioksida (SO2), hidrogen sulfida (H2S), dan amonia pada udara di permukiman warga, misalnya, masih pada batas aman.

Cuma, kenyataan di lapangan membuat tim peneliti tetap penasaran. "Banyak orang sakit. Banyak hewan mati. Kami menghadapi pertanyaan besar," ujar Maaruf. Penelitian pun dilanjutkan dengan melibatkan parameter yang lebih banyak dan pengujian laboratorium yang lebih cermat. Hasilnya, di sekitar sumur bocor ditemukan jenis-jenis gas beracun, antara lain styrene, xylene, toluen, benzene, dan n-hexane. "Secara kualitatif kita menemukan gas-gas beracun. Kuantitasnya masih kita teliti," kata Maaruf.

Gas beracun ini, menurut Maaruf, bisa menyerang organ tubuh dengan gejala hampir serupa. Organ paling rentan antara lain mata, kulit, pernapasan, sistem saraf pusat, hati, ginjal, dan alat reproduksi. Gejalanya bisa iritasi pada mata, hidung, atau tenggorokan. Gejala lainnya rasa mual, pusing, sakit kepala, sakit perut, atau kecapekan. Dari temuan inilah, tim Depertemen Kesehatan merekomendasikan agar lahan di sekeliling sumur minyak dibebaskan dari permukiman warga. "Paling tidak, untuk radius seribu meter, jangan ada perumahan," ujar Maaruf.

Toh, Pertamina tetap yakin kawasan itu aman. Unsur-unsur yang ditemukan tim Departemen Kesehatan, kata Bambang Busono, sangat rendah kadarnya dan segera netral saat bercampur dengan udara. "Bahwa warga sekitar sumur pernah diungsikan, itu bukan karena ada gas beracun. Itu untuk mencegah kebakaran," ujarnya.

Benarkah aman? Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jakarta menilai, tanpa kebocoran pun, sumur-sumur minyak di Babelan tetap sumber pencemaran. Bocornya sumur minyak Pondok Tengah 01, menurut Walhi, hanya penegasan atas proses eksploitasi alam yang mengabaikan keselamatan lingkungan.

Direktur Walhi Jakarta, Slamet Daroyni, mengungkapkan sejumlah fakta. Saat Pertamina melakukan uji seismik untuk memastikan kandungan minyak, lingkungan dan warga Babelan sudah terganggu. Peledakan dinamit berkekuatan besar, misalnya, telah membuat rumah warga retak-retak.

Saat sumur bocor, kata Slamet, pencemaran lingkungan bisa dilihat dengan mata telanjang. Gas bercampur minyak yang turun lagi ke permukaan tanah telah mencemari lahan pertanian warga. Akibatnya, belasan hektare padi warga musnah. "Daun dan buah padi yang terbungkus minyak menguning sebelum waktunya. Apa itu bukan pencemaran?" kata dia gemas.

Yang makin membuat runyam masalah, menurut Slamet, sumur-sumur minyak Pertamina dibangun terlalu dekat dengan permukiman. Padahal, untuk kegiatan serupa, jarak minimal dengan rumah warga tak boleh kurang dari dua kilometer. "Temuan kami di lapangan, ada rumah warga yang jaraknya hanya 20 meter," tutur Slamet.

Dari sinilah Walhi Jakarta mencium adanya ketidakberesan dalam proses perizinan. Mereka mencurigai dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) sumur-sumur minyak itu. "Kami curiga tak ada amdalnya." Kalaupun dokumen amdalnya ada, menurut Slamet, warga masih berhak mempersoalkan materinya. Pasalnya, selama ini, warga tak pernah diberi penjelasan lengkap tentang segala risiko akibat proyek eksplorasi itu.

Kecurigaan Slamet tak berlebihan. Setidaknya untuk sumur minyak yang bocor itu. Kepala Seksi Teknis Amdal Kabupaten Bekasi, Dian Kusmayadi, mengungkapkan bahwa proyek Pondok Tengah 01 memang belum memiliki amdal. Pada 2003, Pertamina baru mengajukan kerangka acuan amdal. Tapi dokumen awal itu baru dibahas Kementerian Lingkungan Hidup pekan ini. "Harusnya ada amdal dulu, baru ada kegiatan," ujar Dian.

Pihak Pertamina sendiri mengakui pembahasan amdal sumur Pondok Tengah 01 baru dilakukan pekan ini. Namun Pertamina membantah telah melanggar prosedur. Menurut Bambang, kegiatan eksplorasi dan pembahasan amdal bisa jalan berbarengan. Alasannya, rencana penanggulangan lingkungan dalam dokumen amdal harus menyeluruh, dari tahap perencanaan hingga tahap eksploitasi. "Nah, sumur Pondok Tengah 01 itu masih tahap eksplorasi, belum tentu berlanjut ke eksploitasi."

Mestikah amdal menunggu dulu jatuhnya korban?

Jajang Jamaludin, Siswanto, Retno Sulistyowati (TNR)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data