Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 02/XXXIII/08 - 14 Maret 2004
   
Lingkungan

Jalan Berliku Ladia Galaska

Proyek Jalan Ladia Galaska akan membelah Sumatera dari Lautan Hindia hingga Selat Malaka. Total panjang jalan ini 1.659 kilometer, menerabas wilayah Meulaboh - Simpang Puet - Jeuram - Lhok Seumot - Ceulala - Takengon - Blangkejeren - Pinding - Lokop, hingga Peureulak. Di sepanjang jalurnya, proyek ini memotong 1.087 sungai.

Pembangunan Jalan Ladia Galaska dirintis pada masa kepemimpinan Gubernur Aceh Prof. DR. Ibrahim Hasan (1985-1993). Sebelum ada istilah Ladia Galaska, proyek ini dipopulerkan dengan nama ”Pola Jaringan Sarang Laba-Laba”. Kemudian, karena ada tambahan beberapa ruas, namanya berganti menjadi ”Enam Belas Ruas Jalan Tembus”.

Pada masa Gubernur Prof. dr. Syamsudin Mahmud (1993-2000), pembangunan 16 ruas jalan tembus tersebut terus digalakkan. Pada tahun 1998, dari panjang total 1.583,5 kilometer, yang sudah tembus 1.177,29 kilometer alias 74,3 persen, meski belum semuanya beraspal. Pada periode 1998-2001, proyek ini terhenti.

Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, melalui rapat pimpinan daerah tanggal 6 Agustus 2001, menyepakati jalan koridor penghubung ke pedalaman dan penghubung lintas barat dengan lintas timur. Merupakan perpaduan ”Pola Jaringan Sarang Laba-Laba” dan ”Enam Belas Ruas Jalan Tembus”, proyek ini disebut Jalur Ladia Galaska (Lautan Hindia-Gayo-Alas-Selat Malaka).

Untuk pengerjaannya, pemerintah memecah Ladia Galaska dalam tujuh paket kontrak yang biayanya telah dialokasikan untuk dua tahun anggaran (tahun anggaran 2003 sebesar Rp 81,9 miliar, dan 2004 Rp 151,2 miliar).

Ketika kontroversi proyek ini merebak, pemerintah, melalui Keputusan Menteri Kehutanan No. 408/Kpts-VII/2003 tertanggal 9 Desember 2003, membentuk Tim Peninjauan Lapangan Ruas Jalan Ladia Galaska di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Anggotanya terdiri dari unsur peneliti (LIPI), pemerintah, dan LSM. Tim ini bertujuan mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan. Tujuan studi dan investigasi lapangan oleh tim itu antara lain untuk menghasilkan basis data mengenai aspek-aspek ekologi, sosial, dan ekonomi Ladia Galaska.

Berdasarkan penetapan pemerintah, prioritas peninjauan lapangan ada pada ruas Beutong Ateuh - Ceulala di sisi barat, dan ruas Pinding - Lokop di bagian timur. Tim ini dijadwalkan berangkat 11 Maret mendatang selama 10 hari.

Agus Hidayat, Danto (Tempo News Room)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data