Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 02/XXXIII/08 - 14 Maret 2004
   
Ekonomi dan Bisnis

Geliat di Jalur Sempit

Pengusaha angkutan darat tak mau menyerah, kendati kian terpuruk. Masih ada peluang bertahan.

Februari sering berarti derita bagi pengusaha angkutan darat. Sudah tiga tahun ini bulan kedua dalam kalender Masehi itu selalu menjadi musuh para pemilik bus antarkota ataupun PT Kereta Api Indonesia (KAI). Pada Februari itu, perang tarif angkutan udara biasanya makin menggila. Tahun ini, misalnya, harga tiket Jakarta-Surabaya cuma sekitar Rp 160 ribu. Harga ini yang terendah sepanjang sejarah. Bahkan, dibandingkan dengan moda angkutan eksekutif mana pun, harga tersebut tetap yang paling rendah. Rute yang lain, seperti Jakarta-Medan atau Surabaya-Balikpapan, setali tiga uang.

Para pengusaha angkutan darat memang tahu persis bahwa Februari merupakan masa paceklik bagi dunia penerbangan. Pada saat itulah jumlah penumpang mencapai titik terendah, yakni berkisar pada angka 700 ribu (2002). Tak aneh jika para pelaku bisnis angkutan udara ini saling sikut untuk mempertahankan konsumennya. Tak peduli apakah itu Garuda Indonesia, yang sudah karatan bermain di bisnis ini, atau si anak bawang Lion Air. Yang akhirnya terjepit tak lain adalah pengusaha angkutan darat.

Pemilik perusahaan otobus Grup Lorena, Gustin Terkelin Soerbakti, mengakui tak mudah menghadapi pertempuran dengan perusahaan penerbangan. Dia mengatakan, untuk rute-rute yang berimpitan langsung dengan jalur pesawat itu, pihaknya kewalahan dalam bersaing memperebutkan penumpang. ”Penjualan kita bisa turun sampai 50 persen,” kata Ketua Umum Organda (Organisasi Angkutan Darat) yang memulai bisnis sejak 1973 dengan modal awal dua unit bus jalur Jakarta-Bogor itu.

Kondisi serupa juga dirasakan Rajamin Sirait, pemilik perusahaan bus Persatuan Motor Horas (PMH), yang berpusat di Medan, Sumatera Utara. Rajamin menjelaskan, dalam tiga tahun terakhir perusahaannya tak bisa berbuat apa-apa karena hampir semua maskapai baru punya jalur Jakarta-Medan. Sudah begitu, harga pun dibanting sampai kisaran Rp 300 ribu. Pada saat normal, harga tiket itu bisa mencapai empat kali lipatnya. Kondisi itu, katanya, membuat banyak perusahaan bus di Sumatera rugi besar.

Pil pahit juga dirasakan KAI. Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia, Omar Berto, mengatakan perusahaannya paling terpukul untuk jalur Jakarta–Surabaya. Tingkat penjualan tiket pernah hanya 40 persen, turun dari sebelumnya 80 persen. Namun, KAI tak mau menyerah. Perusahaan ini memangkas harga tiket, jumlah perjalanan, membuka jalur baru di luar jalur gemuk selama ini.

Hasilnya lumayan. Tahun lalu, pendapatan KAI mencapai Rp 2,2 triliun, sedikit meleset dari target Rp 2,3 triliun. Namun, perusahaan ini berhasil mencatat laba Rp 73 juta. Kondisi ini jauh lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Pada 2002 itu, KAI mencatat penjualan Rp 1,9 triliun dan merugi Rp 48 miliar.

Pengusaha bus seperti Soerbakti, Rajamin, dan teman-temannya juga bukan tidak berusaha menghindari kebangkrutan itu. Melalui Organda, mereka beberapa kali menghadap Komisi Perhubungan dan Transportasi DPR RI untuk mengadukan nasib. Dalam beberapa kesempatan, Organda meminta pemerintah mencabut kebijakan yang dinilai sebagai biang kerok yang mendorong kehancuran bisnis anggota mereka. Kedua beleid itu adalah Surat Keputusan (SK) Menteri Perhubungan No. 8/2000 tentang Tarif Angkutan Udara dan SK No. 10/2000 tentang Izin Perusahaan Penerbangan.

Namun, semua usaha itu sia-sia. Menurut Soerbakti, pemerintah tak kunjung membuat patokan harga terendah tiket pesawat. Tidak adanya perubahan kebijakan memaksa pengusaha angkutan melakukan langkah inovasi. Lorena, misalnya, me-review kembali rute-rute yang berimpitan langsung dengan jalur penerbangan. Selain itu, mereka juga melakukan modifikasi dengan cara mengalihkan armadanya untuk dijadikan kendaraan carteran.

Sedangkan yang tidak siap, perlahan tapi pasti beberapa perusahaan bus ambruk dan terpaksa menutup usahanya. ”Banyak yang gulung tikar,” kata Soerbakti. Namun, keluhan saja terbukti tidak memadai. Bertarung adalah salah satu cara untuk bertahan hidup. Selain Februari, masih ada 11 bulan lain yang bisa dimanfaatkan untuk melawan perusahaan penerbangan.

Setri Yasra, Tomi Aryanto, Dara Meutia Uning, Bambang Soed (Medan)


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
26/XXXVII/18 - 24 Agustus 2008

 

Berita lainnya

Kontras Desak Semua Saksi Peradilan Muchdi Dihadirkan - 21 Ags 2008 | 21:43 WIB
Terlibat Pidana, 15 Polisi Terancam Dipecat - 21 Ags 2008 | 21:25 WIB
Kualitas Laporan Keuangan Daerah Makin Buruk - 21 Ags 2008 | 21:19 WIB
Rio Tinto Tunggu Persetujuan Pemda dan DPR - 21 Ags 2008 | 21:18 WIB
Partai Politik Segera Dapat Dana Bantuan Pemerintah - 21 Ags 2008 | 21:12 WIB
Polisi Cokok Dua Jaringan Narkoba Afrika - 21 Ags 2008 | 21:06 WIB
KPU Tak Punya Aturan Tentang Kepala Desa yang Jadi Calon Legislator - 21 Ags 2008 | 20:59 WIB
Berkas Ratusan Calon Legilator Tak Memenuhi Syarat - 21 Ags 2008 | 20:47 WIB
Partai Rangkul Perangkat Desa Menjadi Calon Legislator - 21 Ags 2008 | 20:43 WIB
Korupsi Rp 3,784 Miliar, Dua Pejabat di Kediri Divonis Bebas - 21 Ags 2008 | 20:41 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data