Membujuk NU, Sekali Lagi Megawati mendekati Hasyim Muzadi. Gus Dur membalas dengan bertemu Wiranto. Politik rebut pengaruh di markas Nahdlatul Ulama. |
Dari sebuah pondok pesantren di Kota Malang, Jawa Timur, berita itu menghambur dan menghangatkan jagat politik Indonesia. Presiden Megawati Soekarnoputri bertemu Ketua Umum Nahdlatul Ulama, Hasyim Muzadi. Mega datang bersama beberapa menteri dan sejumlah petinggi PDI Perjuangan, partai yang dipimpinnya. Sang tuan rumah menyambut bersama 170 ulama. Meriah. Sabtu siang dua pekan lalu itu, selama 15 menit Mega berbicara empat mata dengan Hasyim.
Selain meriah, pertemuan Hasyim dengan Megawati juga penuh aksi saling puji dan gelak tawa. Di hadapan ratusan petinggi Nahdlatul Ulama (NU), Mega berkata, "Pertama kali bertemu Pak Hasyim, saya deg-degan karena mau bertemu Ketua Umum PBNU."
Hasyim tak mau kalah. Ia menyebut hubungan antara keluarga Bung Karno dan warga nahdliyin memang dekat secara personal. Dulu, semasa Orde Baru, Hasyim mengenang, tak banyak orang yang sudi bertahlilan di makam Bung Karno. Para kiai NU di Blitar-lah yang melakukan tahlilan. Hasyim menyebut pertemuan keduanya adalah persuaan dua teman lama.
Dua teman lama itulah yang bikin tensi politik sempat menjulang sepekan terakhir. Merebak kabar bahwa keduanya hendak menyambung pertemanan itu ke Pemilihan Umum 2004 nanti. Mega presiden, Hasyim wakilnya. Sejumlah ulama yang ikut dalam pertemuan di Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur, itu percaya bahwa bos "banteng bulat" memang datang meminang Hasyim.
Secara eksplisit, kata Kiai Haji Masdupi Mahfudh yang hadir dalam pertemuan itu, Mega tidak menyampaikan lamarannya secara terbuka. Tapi Rois Syuriah NU Jawa Timur ini bilang, "Secara implisit, yang saya tangkap, Ibu Mega datang melamar. Sebagai orang tua, kami menerima lamaran itu. Tapi soal keputusannya nanti dibicarakan lagi," tuturnya.
Memimpin lebih dari 40 juta umat, sejumlah calon presiden Pemilu 2004 memang tergiur untuk menarik Hasyim masuk barisan mereka. Maret 2003, misalnya, sejumlah petinggi Golkar Jawa Timur bertamu ke rumahnya. Mereka meminta kesediaan Hasyim untuk diusung ke arena konvensi partai beringin. Ketika itu Hasyim tak memberi lampu hijau, merah juga tidak. Walau belakangan jawabannya menjadi terang: Hasyim tak berminat.
November 2003, giliran Taufiq Kiemas—suami Presiden Megawati—yang bertamu ke rumahnya di Pesantren Al-Hikam, Malang. Dua-duanya menyebut pertemuan itu cuma silaturahmi, tapi sejumlah kalangan menyebut Taufiq tengah melobi. Tak berapa lama sesudahnya, sejumlah calon presiden seperti Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla ikut pula berbondong ke situ.
Walau samar, sinyal datang dari Roy B.B. Janis, salah seorang Ketua PDI Perjuangan. Katanya, PDIP merindukan majunya duet nasionalis-religius pada Pemilu 2004 nanti. Banteng yang nasionalis bisa berduet dengan NU, organisasi religius yang memiliki massa paling banyak. Roy amat yakin bahwa target 50 persen plus pada putaran pertama akan tercapai jika duo jumbo itu maju bersama. Tapi, partainya, tutur Roy, tidak akan menentukan nama. "Terserah NU untuk menentukan siapa figurnya," kata Roy.
Tak mudah mengatakan bahwa lamaran PDIP ini adalah pinangan yang final. Sudah jadi rahasia umum bahwa tak hanya ada satu kubu di partai banteng: sementara Roy menghendaki partainya bergabung dengan NU, kubu lain menghendaki PDIP bergabung dengan Golkar. Dengan proyeksi Pemilu 1999—PDIP dan Golkar menjadi dua besar pemenang pemilu—diharapkan Mega terpilih menjadi presiden di pemilu putaran pertama.
Tapi, sulit mengatakan bahwa pertemuan di Malang itu tak penting dan tanpa akibat. Lihatlah bagaimana, kurang dari 48 jam setelah Mega dan Hasyim bertemu, Gus Dur secara demonstratif bertemu dengan Wiranto, peserta konvensi Golkar dan bekas menteri yang "dipecat" Gus Dur ketika ia berkuasa. Mereka bersendau-gurau hingga malam, bahkan semobil berdua ketika mengunjungi resepsi pernikahan putra K.H. Abdullah Faqih di Langitan, Jawa Timur (lihat Politik 'Ngakak' Dua Seteru). Banyak yang menduga pertemuan itu untuk mengimbangi silaturahmi Mega-Hasyim.
Hubungan Hasyim dan Gus Dur memang seperti api dalam sekam. Gus Dur menghendaki NU yang dipimpin Hasyim mencurahkan suara kepada PKB, partai yang kelahirannya memang dibidani NU. Tapi Hasyim tak secara tegas mengiyakan. "Sekarang ini warga NU tidak lagi nurut terhadap Pengurus Besar (PB) NU karena PBNU tidak bijaksana. Tidak bijaksana, wong orang mau nyoblos PKB kok dilarang," kata Gus Dur.
Puncaknya adalah Sabtu pekan lalu. Dalam Rapat Kerja Nasional PKB, nama Hasyim hilang dari calon presiden alternatif PKB. Padahal, dalam Musyawarah Kerja Nasional PKB Mei 2003, Hasyim bersama Menteri Koordinator Polkam Susilo Bambang Yudhoyono disebut sebagai calon presiden PKB selain Gus Dur. "Hari ini Partai Kebangkitan Bangsa sudah mengukuhkan Gus Dur sebagai calon presiden," kata Alwi Shihab, ketua umum partai itu, dalam siaran pers Sabtu lalu.
Soal dukungan NU kepada PKB itu mungkin yang menjadi salah satu alasan pencoretan nama Hasyim. Sebelumnya, ketika Pengurus Wilayah NU Jawa Timur mengeluarkan tausyiah (pengingatan) kepada warga NU Jawa Timur agar memilih PKB, dengan cekatan Hasyim mengirim surat yang membatalkan tausyiah itu. "Tausyiah itu tak perlu dilakukan, karena pengurus NU telah memutuskan hak pemilihan partai politik telah dialihkan dari institusi NU kepada warga NU. Jadi, ke mana arahnya terserah masing-masing warga NU saja," katanya (lihat "Koalisi Nasionalis-Agama Akan Menyelamatkan Bangsa").
Buat PKB, perseteruan antara Gus Dur dan Hasyim ini tentu saja menyulitkan. "Membuat kami jadi enggak bisa kerja," kata Mahfud Md. Bekas Menteri Pertahanan di era Gus Dur ini bukan tak pernah mencoba mendamaikan keduanya. "Sejak pertengahan tahun lalu kami sudah berusaha mencairkan hubungan itu, tapi tak berhasil," kata Mahfud lagi.
Bibit perseteruan Hasyim sebetulnya sudah dimulai ketika Gus Dur masih menjadi presiden. Juli 2001, ketika Presiden Abdurrahman Wahid digoyang kanan-kiri dan Gus Dur mengancam akan mengeluarkan dekrit presiden yang membubarkan parlemen, Hasyim wara-wiri ke sejumlah kalangan menawarkan islah. Ia juga mengusung tawaran itu ke istana. Gagal. Sebab, "Beliau masih ngotot untuk dekrit," begitu kata Hasyim dalam acara pertemuan Dewan Pertimbangan Agung dengan beberapa tokoh partai dan pengamat, Senin 2 Juli 2001.
Ketika Partai Kebangkitan Bangsa terbelah antara barisan Matori Abdul Djalil dan kelompok Alwi Shihab, Hasyim juga sekuat tenaga berusaha menganyam dua kekuatan itu. Juga gagal. "Mereka tampaknya tidak mau. Ya sudah," kata Hasyim lagi.
Kini, Hasyim-Gus Dur seperti tak bisa disatukan lagi. Perseteruan itu sedikit-banyak juga merambat ke bawah. Lihatlah apa yang terjadi dalam resepsi pesta pernikahan putra K.H. Abdullah Faqih di Langitan, Jawa Timur, Selasa lalu. Sementara Gus Dur dan petinggi PKB lainnya duduk di barisan VIP di kursi deretan depan, Hasyim malah duduk di kursi pinggir kiri. Hasyim, yang datang terlambat, tak disambut dengan bacaan selawat seperti ketika Gus Dur datang.
Bahkan, ketika sejumlah tamu penting diminta memberikan nasihat perkawinan, nama Hasyim tak disebut. Dua yang memberikan pidato adalah Ketua PKB Alwi Shihab dan Abdurrahman Wahid. Adalah Alwi Shihab yang menggunakan kesempatan pidato itu untuk mengkampanyekan PKB. "Alhamdulillah, pernikahan ini memenuhi syarat kafa'ah (satu golongan). Kedua (mempelai) sama-sama keluarga pondok pesantren, sama-sama berasal dari NU, sama-sama berasal dari PKB," kata Alwi. Para undangan bersorak.
Lalu, adakah perseteruan ini memecah NU: faksi Hasyim ke PDIP dan faksi Gus Dur ke tempat lain? Terlalu pagi untuk menyimpulkan. Hasyim sendiri membantah soal kerenggangan dirinya dengan Gus Dur. "Secara pribadi, tak ada masalah antara saya dan Gus Dur," ujarnya.
Soal dirinya yang merapat ke Megawati juga ia sangkal. Katanya, pertemanan dengan Megawati sudah teranyam jauh sebelum putri Sukarno itu duduk di kursi wakil presiden. Tapi ia tak membantah jika dikatakan koalisi kaum nasionalis dan agama akan menyelamatkan bangsa (lihat"Koalisi Nasionalis-Agama Akan Menyelamatkan Bangsa").
Akan ke mana NU berpaling, memang bukan pertanyaan yang mudah dijawab. Hingga pemilu nanti, warga nahdliyin tampaknya akan tetap kedatangan banyak tamu untuk mencari dukungan.
AZ/Wenseslaus Manggut, Sudrajat, Sunuyanto (Surabaya), Abdi Purnomo (Malang)
|