Silakan Makan Daging Ayam Para pejabat mengkampanyekan makan daging ayam untuk memulihkan perdagangan unggas ini. Dibutuhkan penjelasan yang benar. |
Flu burung yang menyebar ternyata diikuti dengan wabah kepanikan di masyarakat dan ketakutan memakan daging ayam. Dampaknya luar biasa. Sementara peternak ayam yang terkena flu burung rugi jutaan rupiah, peternak yang ayamnya sehat terkena dampak "flu panik"—produksinya tak bisa dijual. Restoran yang berbasis menu ayam sudah mulai sepi. Pedagang keliling pun mengeluh karena ibu-ibu rumah tangga tak lagi membeli daging ayam. Jangankan masyarakat awam, pejabat sekelas Menteri Perhubungan Agum Gumelar pun sampai puasa mencicipi semur ayam kegemarannya.
Orang tahu, di Pulau Bali, misalnya, tidak semua sentra peternak ayam terkena wabah flu burung. Ada banyak peternak yang ayamnya sehat walafiat. Begitu pula di Pulau Jawa, yang jauh lebih luas ketimbang Bali. Peternak yang ayamnya sehat lebih banyak dari yang sakit. Tapi ke mana produksinya dijual? Ke pasar lokal tak laku, dikirim antarpulau pun ditolak oleh pemerintah setempat.
Gubernur Bali bersama komponen pariwisata menyelenggarakan "kampanye makan daging ayam". Mungkin karena kampanye itu dilakukan di hotel berbintang lima, masyarakat cuek saja. Soalnya, pejabat kesehatan menyebutkan tidak apa-apa makan daging ayam asalkan dimasak pada suhu di atas 80 derajat Celsius. Pemasakan ayam di hotel berbintang ketahuan suhu pembakarannya, tapi apakah di warung pinggir jalan bisa diperlihatkan suhu itu? Dalih inilah yang membuat kampanye makan ayam di Bali gagal.
Pekan lalu, selama dua hari, di Bandung digelar kampanye serupa. Belajar dari kasus Bali, kampanye makan ayam ini dilakukan di lapangan terbuka, dan yang memasaknya juru masak "bukan koki hotel". Kita belum tahu apa hasil kampanye ini, adakah peternak ayam (yang ayamnya sehat) bisa semringah.
Yang sesungguhnya dibutuhkan masyarakat adalah tindakan yang lebih nyata bahwa ayam yang diperjualbelikan sekarang ini adalah ayam yang sehat tak kurang suatu apa, ayam yang kandangnya jauh dari wabah flu burung. Apa misalnya langkah itu? Penghangusan ayam yang berada di sekitar wabah, termasuk yang tampaknya sehat sekalipun. Upacara pembakaran ayam di Tabanan, Bali, secara dramatis Jumat pekan lalu—sampai diiringi upacara keagamaan—lebih efektif ketimbang kampanye makan daging ayam.
Sepintas tampak tragis. Ayam itu mungkin belum kena flu, tapi karena berada di sekitar kandang temannya yang terkena flu, dia harus jadi korban. Lebih-lebih, pemerintah belum mampu memenuhi vaksin dalam jumlah yang dibutuhkan peternak. Dari kebutuhan 840 juta dosis vaksin, yang bisa dipenuhi hanyalah 540 juta. Apa artinya? Ya, peternak harus rela ayamnya dibakar hidup-hidup kalau lokasinya berada di sekitar kawasan wabah flu burung. Pemerintah sudah menyiapkan Rp 500 miliar untuk "ganti rugi".
Pemusnahan ayam ini akan terus dilakukan oleh Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian di berbagai lokasi. Jika langkah ini disambut secara legawa oleh peternak meskipun menanggung kerugian besar, itu artinya mereka sudah membantu peternak yang tidak ketiban flu burung. Dengan langkah itu, pemerintah meyakinkan masyarakat bahwa ayam yang diperjualbelikan betul-betul ayam yang jauh dari flu burung. Jadi, jangan lagi waswas menyantap daging ayam dan tak perlu lagi gembar-gembor daging ayam harus dimasak dalam suhu sekian derajat. Menteri Agum Gumelar (lihat rubrik Pokok & Tokoh) bisa kembali menyantap semur ayam setelah yakin tak ada ayam kena flu yang masuk ke pasar.
Di sisi lain, petugas kesehatan hendaknya juga memberikan penjelasan yang menyejukkan kepada masyarakat. Misalnya tentang virus flu burung subtipe H5N1 yang bisa menular ke manusia. Apa yang mesti dilakukan masyarakat? Disebutkan bahwa virus itu tak akan menular dari unggas ke manusia karena harus lewat hewan perantara, tapi masyarakat diminta hati-hati memakan daging ayam yang tidak dimasak dengan suhu tertentu karena dikhawatirkan ayam itu sudah kena flu. Lo, yang benar yang mana?
|