Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 50/XXXII/09 - 15 Februari 2004
   
Kesehatan

Yang Datang tanpa Bintik Merah

Penyakit demam berdarah kembali unjuk gigi. Sebagian di antaranya tanpa disertai gejala klasik bintik merah di bawah kulit.

Darrel Achmad Fauzi tak sempat menjalani umur panjang. Tulang dan segenap sel tubuhnya belum sempat tumbuh sempurna. Hidupnya berhenti saat dia belum lagi genap delapan tahun. "Tuhan terlalu menyayangi dia," kata Aris Ekasari, ayah yang berduka.

Sabtu pagi, 10 Januari lalu, Darrel menikmati hari terakhir bersekolah di kelas II SD Pondok Aren 08, Tangerang, Banten. Saat itu si bocah periang masih tampak ceria. Sepulang sekolah, dia masih bermain-main dengan adik satu-satunya, Gewa Achmad Farez. Sore harinya, Darrel mulai mengeluh demam dan selera makannya melayang. Bergegas Aris membawa putra sulungnya ke klinik terdekat. Apa daya, obat dari dokter di klinik itu tak sanggup mengusir demam Darrel. Sepanjang malam, tubuh kecil itu didera panas tinggi.

Senin pagi, Darrel kembali dibawa ke dokter. Kali ini tes darah di laboratorium dilakukan. Aris sempat tenang karena kadar trombosit Darrel cukup bagus, masih di atas 100 ribu per mililiter darah, yang menepis dugaan adanya demam berdarah. Lagi pula tak ada bintik-bintik merah di kulit sang anak. Aris pun dengan langkah mantap berangkat menuju kantornya, PT Air Transport Indonesia, Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Rabu, keadaan Darrel memburuk. Tubuhnya seperti bara dan berkali-kali dia mengeluh pusing bukan kepalang. Begitu dia dilarikan ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Pertamina, tabung pemasok oksigen segera disalurkan ke hidungnya. Dokter memvonis Darrel positif menderita demam berdarah tahap kritis meskipun tetap tidak tampak bintik merah di bawah kulitnya.

Kamis dini hari, sekitar pukul 2, tubuh bocah malang ini kejang-kejang hebat hingga hilang kesadaran. Darah mengalir dari mulutnya. Pagi harinya, pukul 10.45, Darrel kecil pergi menghadap Sang Pencipta. "Saat jenazahnya dimandikan, baru kelihatan bintik merah bertebaran di punggung," Aris bertutur perlahan.

Demam berdarah (DB) atau (DHF) memang kalah gaungnya ketimbang flu burung, yang kini tengah gencar disorot media massa. Tapi penyakit khas daerah tropis ini—juga dijuluki peremuk tulang (bone breaker) karena antara lain ditandai nyeri tulang luar biasa—tak bisa dipandang sebelah mata. Setiap tahun, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, penyakit ini menginfeksi 50 juta orang di negara berkembang.

Keganasan DB juga tampak di Indonesia. Pada Januari 2004 saja, telah ada 200 lebih kasus DB di lima wilayah Jakarta. Catatan sepanjang tahun 2003 juga menunjukkan adanya 59 kasus DB yang berujung kematian di Jakarta—rekor tertinggi selama lima tahun terakhir. Artinya, alarm telah menyala. "Kewaspadaan tinggi segera harus dipasang," kata Evy Zelfino, Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

Kabar dari daerah pun tak kalah mencemaskan. Sepanjang tahun lalu, dari 12 kabupaten di Jawa Tengah, tercatat 8.515 penduduk tersambar demam berdarah dan 186 di antaranya telah menjemput maut. Angka ini diperkirakan terus melonjak dan, sesuai dengan siklus tahunan, jumlah penderita bakal mencapai puncaknya pada April-Mei.

Dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, muncul berita senada. Rumah Sakit Umum Kupang, yang cuma punya 69 fasilitas tempat tidur, kewalahan menghadapi ratusan pasien DB. Sebagian dari mereka terpaksa dirawat sembari berbaring di tikar tipis yang digelar di koridor rumah sakit. "Tidak sedikit yang terpaksa diminta pulang karena rumah sakit sudah benar-benar penuh," kata Prof. Dr. W.Z. Johannes, Kepala Instalasi Rawat Darurat Rumah Sakit Umum Kupang.

Tentu tak ada yang hendak mengulang kejadian buruk enam tahun lalu. Pada Januari-April 1998, demam berdarah menghajar 27 provinsi di Indonesia. Angka penderita mencapai 16.466 orang dan 429 di antaranya meninggal. Begitu dahsyatnya serangan sehingga pemerintah menyatakan wabah demam berdarah kala itu sebagai KLB atau kejadian luar biasa.

Di negeri ini, kasus demam berdarah pertama kali ditemukan di Surabaya dan Jakarta pada 1968. Selanjutnya, DB terus berkembang seiring dengan pertambahan penduduk, modernisasi, dan kian rapatnya permukiman yang tidak diimbangi kesadaran hidup bersih.

Selain bersiklus tahunan, hantu DB punya irama yang khas, yakni melonjak setiap lima tahun sekali. Saat ini, untunglah, bukan termasuk rentang lima tahunan sejak wabah terakhir pada 1998. Namun waspada DB tetap mutlak dipasang mengingat penyakit ini sanggup menyebar dengan amat cepat.

Kecepatan gerak demam berdarah terungkap dalam jurnal Nature edisi terbaru. Adalah Profesor Donald S. Burke, ahli epidemiologi dari John Hopkins University, Maryland, AS, yang menemukan model matematika penghitung pergerakan demam berdarah di Thailand pada 1983-1997. Seperti gelombang, menurut Prof. Burke, penyakit demam berdarah sanggup menyebar dan menyapu wilayah dengan radius 148 kilometer per bulan. Thailand, dalam hal ini, kata Burke, hanya perlu waktu 8 bulan untuk sepenuhnya dikuasai wabah demam berdarah.

Selain bergerak cepat bagai gelombang, demam berdarah relatif makin susah dikenali. Gejala klasik bintik merah, seperti pada kasus Darrel, kerap kali tersembunyi. Ketika akhirnya diketahui, gerombolan virus dengue sudah beraksi demikian jauh hingga menyebabkan mimisan, gusi berdarah, sakit ulu hati, muntah-muntah hebat, dan kejang-kejang. Kondisi ini menunjukkan kawanan virus dengue sudah menjalar ke selaput otak, yang mengancam kelangsungan jiwa pasien.

Rita Kusriatuti, dari Bagian Arbovirusasi, Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan, membenarkan bahwa diagnosis DB sering agak sulit lantaran tidak muncul bintik merah yang kasatmata. Sebab, "Perdarahan terjadi pada organ dalam yang ada jauh di bawah kulit," katanya.

Rita melanjutkan, kekeliruan diagnosis sebenarnya bisa dihindari bila dokter melakukan teknik tourniquet. Caranya, tali elastis—bisa juga tali pengukur tekanan darah—diikat kencang pada bagian lengan atas selama lima menit sampai bintik merah di bawah kulit lengan bermunculan. Hal ini menandakan adanya kebocoran dinding pembuluh darah lantaran ulah virus dengue. Tes sederhana ini kadang lebih jitu ketimbang hasil tes laboratorium. Soalnya, kadar trombosit bisa turun drastis dalam waktu singkat, yang mungkin tidak tergambar saat pengambilan sampel darah.

Adakah pertolongan pertama jika ada anggota keluarga dekat yang terkena DB? "Beri minum yang banyak," kata Rita. Boleh air putih atau jus jambu biji, yang secara tradisional diyakini ampuh mengusir virus dengue. Air minum berfungsi menggantikan cairan tubuh yang hilang karena kebocoran pembuluh darah. Sementara itu, segeralah bawa pasien ke dokter terdekat untuk pertolongan lebih lanjut.

Ada lagi resep kuno yang jitu: bersihkan lingkungan tempat tinggal. Jangan biarkan jentik nyamuk Aedes aegypti—inang pembawa virus dengue—punya kesempatan hidup sentosa. Caranya, bersihkan dan taburkan bubuk abate di semua tempat genangan air, vas bunga, talang air, bak mandi, atau kolam renang. "Kedengarannya remeh," kata Rita, "tapi memang harus begitu."

Jurus pencegahan yang kuno tadi menjadi mutlak karena sampai saat ini belum tersedia vaksin penangkal demam berdarah. Maklumlah, "DB ini kan sepupu malaria, penyakit khas negara miskin," kata Duane Gubler, ahli dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), Colorado, Amerika. Karena kurang seksi itulah riset DB kurang didukung dana besar-besaran dari kalangan industri farmasi. Jadi, sekali lagi, jurus kuno mengusir nyamuk masih tetap berlaku.

Mardiyah Chamim, Ayu Cipta, Adek (TNR)



Perjalanan Sang Virus

Beginilah cara nyamuk Aedes aegypti, khususnya yang betina, menularkan virus dengue yang memicu demam berdarah.

  1. Nyamuk yang lapar bersiap mengisap darah manusia. Ia membuka selubung yang disebut labium dan menyiapkan jarum penusuk yang disebut stylets.

  2. Melalui alat yang disebut hipopharynx, nyamuk mengeluarkan lendir (saliva) dan mengoleskannya pada permukaan kulit manusia. Saliva ini berfungsi menjaga agar darah manusia tidak beku saat diisap. Pada saat inilah koloni virus dengue yang ada pada air liur nyamuk terbawa memasuki pembuluh darah manusia.

  3. Setelah saliva dioleskan, nyamuk siap mengisap darah. Nyamuk aedes betina perlu sedikitnya lima kali isapan darah manusia untuk mematangkan ratusan telur mereka. Pada saat mengisap, bagian seperti sedotan yang disebut labrum (berdiameter seukuran sel darah), mengeluarkan cairan yang membuat manusia terlena sehingga tidak merasakan gigitan nyamuk.



Awalnya Cuma Demam Lima Hari

Dahulu kala, demam berdarah termasuk penyakit remeh. Ia disebut demam lima hari, cukup dibiarkan nanti juga sembuh sendiri. Tapi, tahun 1954, virus dengue yang menyebabkan demam berdarah bermutasi hingga lebih ganas dan membuat nyawa sejumlah anak di Filipina melayang.

Penyebab demam berdarah adalah empat serotipe virus dengue: den-1, den-2, den-3 (konon ini yang paling ganas), serta den-4. Yang bisa diisolasi di Indonesia adalah jenis den-2 dan den-3, sementara di Thailand banyak dijumpai serotipe den-2. Berkaitan dengan adanya empat serotipe ini, tak ada jaminan bahwa seseorang yang pernah kena demam berdarah tidak akan terserang demam berdarah lagi. Dia masih bisa terinfeksi virus dengue dengan serotipe yang lain.

beberapa fakta penting mengenai demam berdarah:

  • Masa inkubasi (mulai digigit sampai timbul gejala) adalah 2 minggu.

  • Orang dewasa yang terkena DB biasanya mengeluh nyeri.

  • Gejala demam berdarah sering menyerupai flu berat, demam tinggi, kepala pusing hebat, dan ngilu di semua persendian. Bedanya, flu tidak disertai perdarahan—kebocoran dinding pembuluh darah—yang ditandai bintik-bintik merah di bawah kulit.

  • Pertolongan pertama: berikan air minum sebanyak mungkin untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat perdarahan. Kompres juga bisa dilakukan untuk meredakan demam.

  • Jika sudah lanjut, akan timbul bercak memar (ecchymosis) atau perdarahan dari hidung, gusi, muntah darah, dan buang air besar berwarna kehitaman. Pada tahap ini, penderita dikhawatirkan mengalami renjatan (dengue shock syndrome) atau nadi melemah dan tekanan darah tak terukur. Jika tak segera ditolong, akibatnya bisa mematikan.


  •  
    buatan Radja|endro
    Majalah Tempo
    30/XXXVII/15 - 21 September 2008

     

    Berita lainnya

    Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
    Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
    Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
    Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
    Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
    Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
    Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
    BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
    Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
    Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
    >

    index berita

    buatan danendro | Registrasi | Help | About us
      copyright TEMPO 2003

    Kembali ke atas
    Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
    Majalah | Koran Tempo | Pusat Data