Pabrik Indonesianis di Batas Senja
Cornell Modern Indonesia Project, yang berdiri tahun 1954, sempat menjadi gudang indonesianis terkemuka. Sayang, belakangan perannya meredup.
|
Deliar Noer, 78 tahun, punya kenangan indah soal Cornell Modern Indonesia Project. Pusat studi Indonesia milik Universitas Cornell, di Ithaca, Amerika Serikat, itu menurut Deliar seperti rumah bagi para mahasiswa asal Indonesia. Ia, yang menempuh program master dan doktor di Universitas Cornell pada 1958-1962, merasa sangat at home saat kuliah di Cornell. Setiap mahasiswa punya sebuah kantor dan kamar di lingkungan Cornell. Tak ada aturan ketat. Juga tak ada pengarahan khusus dari para dosen. "Seperti sebuah lembaga yang lepas," ujar Deliar Noer, mengenang.
Bebas, tapi punya tuntutan tinggi. Seorang Deliar, misalnya, setiap minggu harus membaca dan memahami tak kurang dari 5.000 halaman buku (Itu setara dengan 10 kali lipat beban pada program serupa di universitas terkemuka di Indonesia). Tak aneh, Deliar lebih sering menghabiskan hari-harinya di antara tumpukan buku-buku di perpustakaan. Tak ada jalan lain kecuali "kita harus pandai membaca cepat".
Deliar sangat beruntung. Cendekiawan muslim yang sempat menjadi Rektor IKIP Jakarta (1967-1974) ini mendapat bimbingan langsung dari George McT. Kahin, sang pendiri Cornell Modern Indonesia Project (CMIP). Selain Kahin, Deliar juga dibimbing oleh John M. Echols (pakar lingustik terkemuka, penyusun kamus bahasa Inggris-bahasa Indonesia yang fenomenal) dan Steven Miller (ahli ilmu politik). Di CMIP, lelaki berdarah Minang ini pada 1962 berhasil meraih gelar doktor setelah mempertahankan disertasi berjudul The Rise and Development of the Modernist Moslem Movement in Indonesia 1900-1942.
Tak semua mahasiswa asal Indonesia di CMIP bisa merasakan bimbingan langsung dari Kahin, sang pendiri CMIP. Dede Oetomo, misalnya, tak mendapat kesempatan berinteraksi secara intensif dengan Kahin. Bahkan Dede, yang menyabet gelar doktor di Universitas Cornell pada 1984 dengan disertasi The Chinese of Pasuruan, tak pernah langsung mendapat kuliah dari Kahin. "Saya melihat dan bertemu sosok Kahin pada acara-acara sosial," ujar Dede Oetomo.
"Nasib" mereka berbeda, tapi Deliar Noer dan Dede Oetomo sependapat dalam soal Cornell Modern Indonesia Project. Bagi mereka, lembaga yang berdiri tahun 1954 ini merupakan pusat kajian Indonesia yang sangat prestisius. Bahkan, pada awalnya, CMIP merupakan satu-satunya pusat kajian tentang Indonesia di luar negeri.
Sebenarnya pembentukan CMIP, seperti pusat studi kewilayahan lainnya (disadari atau tidak oleh George McT. Kahin), tak terlepas dari konteks era Perang Dingin yang melanda dunia. Amerika Serikat, yang ketika itu menjadi pemimpin blok Barat, merasa harus menang dalam pertarungan perebutan kekuasaan geopolitk. Untuk itulah pemerintah Amerika, dengan menggunakan tangan lembaga seperti Ford Foundation dan Rockefeller Foundation, telah membuat Center for International Studies di MIT dan Russian Research Center di Universitas Harvard. Dengan bendera lembaga akademik, pusat kajian wilayah tersebut bebas melakukan penelitian di pelbagai negeri di dunia.
Tahun 1950, dengan dana dari Rockefeller Foundation, Universitas Cornell juga mendirikan program Asia Tenggara. Di sini, pelbagai aspek sosial, politik, ekonomi, dan budaya negara-negara Asia Tenggara mulai diteliti secara serius.
Hasilnya, "Dapat dimanfaatkan CIA untuk kepentingan intelijen," ujar Bruce Cumings, guru besar sejarah dan ilmu politik di Northwestern University, Illinois, Amerika Serikat.
Toh, meski ada perdebatan soal pemanfaatan CMIP untuk kepentingan intelijen, peran CMIP tetaplah penting. Indonesianis dari Universitas Washington, Daniel S. Lev, mengakui peran CMIP sebagai pionir kajian tentang Indonesia. Untuk itu, ujar Lev, peran George McT. Kahin dalam pembentukan Indonesia Project di Cornell sangat besar. "Tanpa Kahin, kemungkinan besar Cornell Modern Indonesia Project tidak akan ada," kata Daniel S. Lev lewat e-mail yang dikirimkan kepada Wahyudi Marhaen dari Tempo News Room.
Daniel S. Lev menuturkan, posisi CMIP dalam percaturan pusat kajian Indonesia sangat penting. Lembaga yang awalnya langsung dipimpin oleh Kahin sendiri ini berhasil mencetak pendekar indonesianis (ahli tentang Indonesia) kelas dunia. Beberapa nama ngetop—sebut saja Harry J. Benda, Ruth McVey, Herbert Feith, Daniel S. Lev, dan Benedict Anderson—adalah indonesianis alumni CMIP. Selama bertahun-tahun, para mahasiswa "George" (demikian sebutan para mahasiswa terhadap George McT. Kahin) menempuh studi di 102 West Avenue di Ithaca, Amerika Serikat. Di gedung tua itulah, ujar Daniel S. Lev, para mahasiswa menghabiskan waktu kuliah dengan penuh kekeluargaan. Untuk memperkuat pengetahuan para mahasiswa, Kahin kerap mengundang dosen tamu dari kalangan intelektual Indonesia. "Haji Agus Salim dan Soedjatmoko pernah diminta memberi kuliah kepada mahasiswa," ujar Daniel S. Lev.
Selain menghasilkan pendekar-pendekar indonesianis, CMIP juga menghasilkan karya-karya ilmiah. Sejak tahun 1966, CMIP mulai menerbitkan Jurnal Indonesia, sebuah jurnal yang berisi kumpulan karya ilmiah tentang Indonesia yang sangat bergengsi. Jurnal yang diterbitkan enam bulanan ini (terbit tiap April dan Oktober) hingga kini masih bertahan. Karya-karyanya sangat mendalam. Lihat saja tulisan Benedict Anderson berjudul In Memoriam: Soe Hok Gie pada edisi Oktober 1970 dan tulisan P.J. Zoetmulder, S.J. berjudul The Wayang as Philosophical Theme pada edisi Oktober 1971. Kedua karya tersebut dibuat dengan riset yang sangat kuat dan mengagumkan. Kini, tulisan di Jurnal Indonesia tetap memberikan informasi yang mendalam dan penuh kejutan. Pada edisi Oktober 2001, misalnya, ahli sejarah Asia Tenggara asal Amerika, Samuel Moore, mengungkap kejahatan militer Indonesia di Timor Timur. Karya ilmiah berjudul The Indonesia Military Last Years in East Timor: An analysis of Its Secret Document bercerita dengan detail tentang pelanggaran hak asasi manusia saat jajak pendapat di Timor Timur tahun 1999. Moore bahkan berhasil merinci jumlah pasukan dan komandan milisi pro-Jakarta di 13 kabupaten di Timor Timur.
Belakangan, Cornell Modern Indonesia Project mengalami kemunduran. Dede Oetomo, alumni Universitas Cornell, menyatakan pada era 90-an bintang Indonesia Project mulai meredup. Dede menyebut beberapa penyebab. Setelah era Kahin dan Ben Anderson, ujar Dede, CMIP tak memiliki nama besar seperti para pendahulunya. Ruth McVey, yang menggantikan Ben Anderson pada 1994, misalnya, memiliki kemampuan yang tak terlalu moncer. "Ia peneliti yang biasa-biasa saja," ujar Dede Oetomo.
Selain itu, alumni terbaik dari CMIP justru tak mengajar di almamaternya. Mereka berdiaspora ke seluruh dunia. Daniel S. Lev mengajar di Universitas Washington, Amerika Serikat. Herbert Feith, salah satu murid kesayangan Kahin, malah hengkang ke Universitas Monash, Australia. Takashi Sirashi, indonesianis cerdas asal Jepang, kembali ke negerinya. Tak mengherankan, saat ini monopoli Cornell atas studi tentang Indonesia mulai bergeser. Beberapa universitas terkemuka, seperti Universitas Monash di Australia, telah menjadi kiblat baru. Sedangkan CMIP, induk dari segala pusat kajian Indonesia, kini seperti berada di batas senja.
Untunglah, hingga kini masih tersisa kejayaan CMIP yang membuatnya tetap penting. Soal kepustakaan tentang Indonesia, misalnya, Universitas Cornell tetap menjadi rujukan penting. Lihat saja dokumentasi pelbagai karya Kahin. Perpustakaan Cornell menyimpan semua hasil karya Kahin periode 1951-1999 (Kahin meninggal dunia akibat sakit jantung pada 29 Januari 2000). Dokumentasi yang bernomor 14-27-3146 tersebut mencakup lima kelompok: manuskrip, korespondensi, naskah lepas, materi mengajar, pidato, dan notulensi di pelbagai pertemuan. Secara fisik, semua materi tersebut memakan ruang perpustakaan seluas 24 kaki kubik.
Bila digali lebih jauh, perpustakaan tersebut memiliki pelbagai korespondensi Kahin dengan tokoh-tokoh dunia yang menarik. Khusus dengan tokoh Indonesia, ada beberapa korespondensi yang fenomenal. Ada korespondensi dengan ekonom Widjojo Nitisastro periode 1956-1965 (tersimpan dalam boks 18 folder 23), korespondensi dengan Sultan Hamengku Buwono IX periode 1958-1966 (tersimpan dalam boks 20 folder 33), dan korespondensi dengan Jenderal A.H. Nasution (tersimpan dalam boks 18 folder 48).
Tak aneh, meski sempat tak disukai rezim Soeharto, pada tahun 1991 pemerintah Indonesia memberi penghargaan kepada Kahin. Menteri Luar Negeri Ali Alatas, mewakili pemerintah Indonesia, menyematkan Bintang Jasa Pratama di dada Kahin. Indonesianis kelahiran Baltimore, Amerika Serikat, tersebut dinilai berhasil merintis studi tentang Indonesia secara obyektif dan mendalam. Seperti kata pepatah lawas, bila sang gajah mati meninggalkan gading, Kahin pergi meninggalkan pendekar-pendekar indonesianis.
Setiyardi, Multazam dan Adi Mawardi
|