Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 49/XXXII/02 - 8 Februari 2004
   
Album

Album

Penghargaan Lewat Meditasi

Haji Agus Bambang, 44 tahun

Tak ada yang bisa melupakan Haji Agus Bambang Prianto. Nama pria 44 tahun kelahiran Kuta, Bali, ini mencuat ketika ia, dengan kelompok Fardu Kifayah-nya, bahu-membahu menyelamatkan para korban saat bom meledak di kampung halamannya, Kuta, 12 Oktober 2002 lalu.

Pria berkulit gelap ini tak pernah sedikit pun berpamrih untuk semua pengorbanannya. Tapi dunia tak pernah lupa pada jasanya. Penghargaan demi penghargaan bertaraf internasional mengalir. Yang terbaru, anugerah "Lifting Up the World with a Oneness-Heart" datang dari Sri Chinmoy, tokoh spiritual asal Bangladesh.

Ini bukan penghargaan kecil. Sejumlah tokoh dunia pernah menerima gelar yang sama. Mereka antara lain Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, Direktur UNICEF James Grant, Bunda Teresa, Cardinal Basil Hume, juga pemusik Sting dan atlet Carl Lewis.

Bagi Bambang, ini adalah penghargaan ke-11 yang ia terima. Ia sendiri tidak menduga Sri Chinmoy memilihnya. Bambang berkisah, Sabtu pekan lalu, 24 Januari, salah seorang murid Chinmoy asal Selandia Baru datang menemuinya. Murid ini memberi tahu bahwa, melalui meditasi, Sri Chinmoy memutuskan memilih Bambang. Bambang, kata sang murid, dianggap layak karena perjuangannya menolong korban bom Bali tidak mengenal sekat agama, ras, suku bangsa, dan negara.

Penghargaan itu telah diserahterimakan di Inna Grand Bali Beach, Sanur, Denpasar, pada 27 Januari lalu. ''Saat menerima, saya merinding. Air mata saya meleleh. Saya terharu,'' kata Haji Bambang.

Seolah menyempurnakan penghargaan tersebut, sebelumnya utusan khusus Departemen Kesehatan Pemerintah Swiss datang menemui Bambang. Mereka meminta izin untuk membukukan teknik-teknik evakuasi yang diterapkan Bambang saat menyelamatkan para korban bom. Kelak, buku ini akan menjadi buku panduan evakuasi tim penyelamat di Swiss.

Jalil Hakim



Pelantikan

Guruh Sukarno Putra

Bertarunglah bak penari. Ungkapan itu mungkin tepat digunakan bagi kumpulan pendekar Banten yang bernama resmi Persilatan, Pendekar, dan Seni Budaya Banten Indonesia (PPSBBI). Selasa 27 Januari lalu, mereka melantik seniman serba bisa Guruh Sukarno Putra menjadi dewan pembina pendekar.

Di podium, saat pelantikan, Guruh berdiri gagah. Mengenakan pakaian kebesaran pendekar, sosok Guruh terlihat sangar. "Ini wujud terima kasih kami. Kami harap Guruh ikut bertanggung jawab menjaga kebesaran nama pendekar Banten," kata H. Hasan Sochib, Ketua PPSBBI.

Terpilihnya Guruh bukan tanpa alasan. "Banyak alasan kami memilih dia. Salah satunya, Guruh sangat giat berkampanye pentingnya menghargai budaya dan seni bagi kehidupan bangsa Indonesia," kata H. Hasan bersemangat. Guruh memang bukan tokoh pertama yang diangkat sebagai pembina pendekar Banten. Gelar serupa pernah diberikan ke beberapa pejabat sipil dan militer. Mereka, antara lain, Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno, Jaksa Agung M. Rachman, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono, dan Menteri Perhubungan Agum Gumelar.

Faidil Akbar/TNR



"Beberapa tahun mendatang, kita harus rela tidak makan ayam dan telurnya."

—Trisatya Putri Naipospos, Direktur Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan, saat mengingatkan dampak pemusnahan jutaan ayam yang terjangkit flu burung.

"Tekanan publik begitu kuat. Saya berharap-harap cemas apakah MA berani mengambil keputusan membebaskan Akbar Tandjung."

—Amir Syamsuddin, kuasa hukum Akbar Tandjung, dalam diskusi mengenai keputusan kasasi Mahkamah Agung menyangkut kasus korupsi yang melibatkan kliennya.



TEMPO DOELOE

2 Februari 1848

Perahu pertama imigran Cina berlabuh di San Francisco.

2 Februari 1971

Idi Amin mulai berkuasa di Uganda setelah kudeta yang menggulingkan Presiden Milton Obote.

3 Februari 1488

Bartolomeu Diaz mendarat di Mossel Bay, Tanjung Harapan. Ia menjadi orang Eropa pertama yang sampai Afrika Selatan.

3 Februari 1862

Thomas Edison mencetak Weekly Herald dan menyebarkannya ke penumpang kereta antara Port Huron dan Detroit. Ini menjadi surat kabar pertama yang dicetak di atas kereta.

4 Februari 1784

George Washington terpilih sebagai presiden pertama Amerika Serikat.

4 Februari 1948

Ceylon merdeka dalam pangkuan British Commonwealth. Negara ini kemudian dikenal bernama Sri Lanka.

5 Februari 1846

The Oregon Spectator, bermarkas di Kota Oregon, menjadi koran pertama di kawasan pesisir Pasifik.

6 Februari 1778

Prancis mengakui kedaulatan Amerika Serikat.

6 Februari 1952

Raja Inggris, George VI, meninggal dan digantikan putrinya Elizabeth II.

7 Februari 1882

Di Kota Mississippi, Amerika Serikat, digelar pertandingan tinju kelas berat terakhir yang tidak menggunakan sarung tangan.

7 Februari 1974

Grenada merdeka dari Inggris Raya.

8 Februari 1904

Perang Rusia-Jepang meletus, ditandai dengan penyerangan Jepang terhadap pasukan Rusia Manchuria.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
30/XXXVII/15 - 21 September 2008

 

Berita lainnya

Iqbal di Sel Polres Jakarta Pusat, Billy di Jakarta Barat - 18 Sep 2008 | 07:53 WIB
Wenger: Arsenal Kurang Insting Pembunuh - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Bate Tak Kuasa Hadapi Madrid - 18 Sep 2008 | 07:46 WIB
Ditinggalkan Dua Bintang, Tim Amerika Masih Berpeluang - 18 Sep 2008 | 07:34 WIB
Hasil dan Klasemen Liga Champion   - 18 Sep 2008 | 07:33 WIB
Polisi Tilang Puluhan Pembalap Liar - 18 Sep 2008 | 07:31 WIB
Pemerintah Amerika Keluarkan Surat Utang untuk Bank Sentral - 18 Sep 2008 | 07:26 WIB
BI Mataram Siapkan Rp500 Miliar Uang Pecahan - 18 Sep 2008 | 07:17 WIB
Diduga Korupsi, Pejabat Departemen Pendidikan Ditahan - 18 Sep 2008 | 07:13 WIB
Muenchen Cemerlang - 18 Sep 2008 | 07:07 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data